Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Kampanye Pemilu Singapura Pakai Gaya Baru, Para Kandidat Bersaing Pamer Bakat Musik

badge-check


					Kampanye Pemilu Singapura Pakai Gaya Baru, Para Kandidat Bersaing Pamer Bakat Musik Perbesar

Singapura – Di tengah persiapan menjelang pemilu nasional pada 3 Mei mendatang, sebuah tren tak biasa mencuat dalam panggung politik Singapura. Para kandidat, baik dari partai besar maupun kecil, berlomba-lomba memamerkan kemampuan bermusik mereka lewat klip video yang tersebar luas di media sosial.

Dari tiupan saksofon yang dimainkan Harpreet Singh, kandidat unggulan dari kubu oposisi, hingga aksi beatbox dan nyanyian lagu dalam berbagai dialek lokal. Para calon wakil rakyat itu tampak berlomba mencari simpati publik melalui pendekatan yang lebih santai dan menghibur.

Namun tidak semua pertunjukan musik itu memukau. Samuel Lee, kandidat dari Partai Rakyat Berdaulat (PPP), menjadi bahan olok-olok warganet usai menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang terdengar sumbang. Dengan lirik tentang mencari pekerjaan sambil “melihat ke kiri dan kanan,” aksinya viral dan melahirkan berbagai meme.

Beberapa video yang beredar merupakan rekaman baru yang dibuat dalam suasana kampanye, namun sejumlah lainnya merupakan cuplikan video lama. Seperti video Perdana Menteri Lawrence Wong yang memainkan gitar bersama band lokal. Atau Pritam Singh, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, yang menyanyi dalam perayaan Tahun Baru Imlek partainya.

Kritik Pengamat Pemilu Singapura Terhadap Metode Kampanye

Meski tampak menghibur, pendekatan ini menuai kritik. “Mereka ingin terlihat dekat dengan rakyat, tapi ini justru kontraproduktif,” ujar pengamat politik dari Nanyang Technological University, Walid Jumblatt Abdullah. “Video TikTok yang konyol ini bukanlah cara terbaik untuk menjadi relatable. Cukup berbicara seperti manusia biasa, itu jauh lebih efektif.”

Di balik tren yang menghibur ini, pemilu kali ini terjadi dalam suasana ekonomi yang penuh tantangan. Pemerintah memperingatkan potensi resesi akibat tarif dagang dari Amerika Serikat. Isu-isu ekonomi seperti biaya hidup, ketimpangan, dan harga rumah tetap menjadi perhatian utama bagi 2,76 juta pemilih.

Popularitas Partai Penguasa Turun

Ini juga menjadi ujian elektoral pertama bagi Lawrence Wong, yang menggantikan Lee Hsien Loong sebagai pemimpin Partai Aksi Rakyat (PAP). Partai ini telah mendominasi pemerintahan Singapura sejak negara itu merdeka pada 1965.

Namun, popularitas PAP tengah diuji. Survei Blackbox Research terhadap 1.506 responden pada April menunjukkan tingkat kepuasan publik yang rendah terhadap kinerja pemerintah dalam isu-isu utama: biaya hidup (52%), pajak penjualan (55%), ketimpangan (57%), harga mobil (58%), dan keterjangkauan perumahan (59%).

Meski begitu, PAP diperkirakan masih akan mendominasi perolehan kursi, dengan mencalonkan wakil di seluruh 33 konstituensi untuk memperebutkan 97 kursi parlemen. Namun yang menjadi sorotan adalah perolehan suara populer, yang pada 2020 turun menjadi 61% dari 70% pada 2015. Jika tren penurunan ini berlanjut dan Partai Buruh menambah perolehan kursinya dari rekor 10 kursi pada pemilu sebelumnya, hal ini bisa dibaca sebagai sinyal melemahnya dominasi PAP.

Sementara hasil akhir masih menunggu waktu, satu hal sudah pasti dalam kampanye Pemilu Singapura: musik kini ikut mengisi panggung politik Singapura. Entah sebagai strategi kampanye, hiburan, atau sekadar intermezzo di tengah ketegangan menjelang pemilu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional