Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Menjabat Sejak 1982, Presiden Kamerun Nyalon Lagi di Usia 92

badge-check


					Presiden Kamerun yang sudah berusia 92 tahun, incar masa jabatan ke-8.  (foto: AFP/Ludovic Marin) Perbesar

Presiden Kamerun yang sudah berusia 92 tahun, incar masa jabatan ke-8. (foto: AFP/Ludovic Marin)

Yaoundé – Presiden Kamerun Paul Biya, pemimpin negara tertua di dunia saat ini, secara resmi mengumumkan pencalonannya kembali dalam pemilihan presiden Oktober mendatang. Pernyataan mengejutkan itu disampaikan pria berusia 92 tahun ini melalui unggahan di platform X (dulu Twitter), Minggu (13/7/2025). Unggahan tersebut sekaligus mengonfirmasi spekulasi lama mengenai niatnya untuk melanjutkan kekuasaan yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade.

“Yakinlah bahwa tekad saya untuk melayani kalian setara dengan urgensi tantangan yang kita hadapi,” tulis Biya dalam pernyataan singkatnya.

Ia menyebut keputusan untuk kembali maju sebagai calon presiden diambil setelah menerima “permintaan yang berulang dan mendesak” dari rakyat di seluruh wilayah Kamerun dan diaspora.

Jika kembali terpilih untuk masa jabatan tujuh tahun, Biya akan tetap menjabat hingga usianya mendekati 100 tahun. Artinya, Biya akan memimpin Kamerun selama 50 tahun sejak terpilih pada 1982, tanpa pernah mengalami kekalahan dalam satu pun pemilu.

Kritik dan Tantangan Politik

Langkah Biya ini menuai beragam reaksi, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Pemerintahannya kerap menjadi sasaran kritik akibat dugaan korupsi dan penyelewengan dana publik. Ia juga dinilai gagal dalam mengatasi konflik keamanan yang berkepanjangan di wilayah barat daya dan utara negara tersebut. Kesehatannya yang memburuk juga menjadi sorotan, apalagi setelah sempat absen dari publik selama lebih dari enam minggu pada tahun lalu yang memicu rumor tak berdasar soal kematiannya.

Pencalonan kembali Biya terjadi di tengah retaknya koalisi politik yang selama ini menopang kekuasaannya. Dua tokoh penting dari wilayah utara—mantan Perdana Menteri Bello Bouba Maigari dan mantan Menteri Komunikasi Issa Tchiroma Bakary—memutuskan keluar dari koalisi dan menyatakan akan maju sebagai pesaing dalam pemilu mendatang.

Tchiroma bahkan menyebut bahwa pemerintahan Biya telah “menghancurkan kepercayaan publik” dan memilih bergabung dengan partai oposisi sebagai bentuk perlawanan.

Oposisi Mulai Bergerak

Beberapa tokoh oposisi, seperti Maurice Kamto yang menjadi penantang kuat Biya pada pemilu 2018, serta Joshua Osih, Akere Muna, dan Cabral Libii, juga telah menyatakan niat untuk mencalonkan diri. Meskipun demikian, Partai Rakyat Demokratik Kamerun (CPDM) pimpinan Biya tetap solid menyuarakan dukungan sejak tahun lalu. Bahkan telah menjadikan Biya sebagai kandidat calon presiden sebelum pernyataan resminya muncul kemarin.

Biya sendiri pernah menghapus batas masa jabatan pada 2008, membuka jalan baginya untuk mencalonkan diri tanpa batas waktu.

Reaksi Masyarakat

Di jalanan ibu kota Yaoundé, reaksi warga terhadap pencalonan Biya terbelah. Sebagian besar enggan menyebutkan nama atau profesinya saat dimintai komentar, mengaku takut terhadap potensi pembalasan.

“Tak pernah saya bayangkan seorang pria seusia itu maju lagi sebagai calon presiden,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

“Saya kira dia akan pensiun dan memberi jalan bagi generasi baru,” ucap Camille Esselem, warga lokal lainnya, dengan nada heran.

Namun, ada pula yang menyambut baik keputusan sang presiden. “Beliau masih punya banyak hal untuk diberikan kepada rakyat Kamerun,” kata Ngono Marius, seorang pegawai negeri.

Sementara itu, Sylvia Tipa, seorang konsultan, menyatakan bahwa meski ia percaya pada pentingnya pergantian kekuasaan, “mungkin memang belum ada yang lebih baik dari Biya.”

“Sejauh ini beliau telah berperan besar dalam penanganan konflik dan pembangunan nasional. Mungkin masa kepemimpinannya yang panjang memang kehendak Tuhan,” tambahnya.

Pemilu Kamerun akan berlangsung pada Oktober 2025. Jika tidak ada perubahan besar, rakyat Kamerun akan kembali menghadapi pilihan antara kelanjutan kepemimpinan Biya atau perubahan melalui wajah-wajah baru oposisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional