Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Di Istanbul, Rusia Minta Ukraina Tarik Pasukan Sebelum Gencatan Senjata

badge-check


					Di Istanbul, Rusia Minta Ukraina Tarik Pasukan Sebelum Gencatan Senjata Perbesar

Istanbul – Pejabat senior Ukraina menyatakan delegasi Rusia menuntut agar pasukan Ukraina menarik diri dari seluruh wilayah yang diklaim Moskow, sebagai syarat untuk memulai gencatan senjata. Hal ini disampaikan dalam pertemuan damai antara Rusia dan Ukraina di Istanbul, Turki, pada Jumat (16/5/2025) kemarin.

Pertemuan tatap muka antara kedua belah pihak ini merupakan yang pertama sejak Maret 2022. Meski berlangsung singkat, hanya satu jam 40 menit, kedua pihak sepakat untuk melakukan pertukaran 1.000 tawanan perang dari masing-masing pihak. Namun, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaannya.

Kremlin belum memberikan komentar resmi terkait tuntutan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa proses negosiasi sebaiknya dilakukan secara tertutup. Ia juga menyatakan kemungkinan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, namun hanya jika telah tercapai “kesepakatan tertentu”, tanpa merinci lebih lanjut.

Serangan di Sumy dan Desakan Sanksi Baru

Di tengah upaya diplomasi tersebut, serangan drone Rusia di wilayah Sumy, Ukraina timur laut, menewaskan sembilan penumpang bus. Presiden Zelenskiy menyebut serangan itu sebagai pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil dan mendesak negara-negara Barat untuk memberlakukan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia.

“Tekanan harus terus ditingkatkan terhadap Rusia agar mereka menghentikan pembunuhan ini. Tanpa sanksi yang lebih berat, tanpa tekanan yang lebih besar, Rusia tidak akan mencari jalur diplomasi sejati,” kata Zelenskiy dalam pernyataan resminya.

Pihak Rusia membantah menyerang warga sipil dan mengklaim bahwa sasaran mereka adalah instalasi militer di Sumy. Kementerian Pertahanan Rusia juga mengumumkan telah merebut satu permukiman lagi di Ukraina timur.

Tuntutan Rusia Melebihi Usulan Damai AS

Menurut sumber Ukraina, tuntutan terbaru Rusia, termasuk penarikan total pasukan Ukraina dari wilayah Donetsk, Zaporizhzhia, Kherson, dan Luhansk, melampaui isi rancangan kesepakatan damai yang sebelumnya diusulkan Amerika Serikat setelah berkonsultasi dengan Moskow.

Sementara itu, Amerika Serikat, Ukraina, dan negara-negara Barat lainnya tetap menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat yang berlangsung setidaknya selama 30 hari.

Peran Erdogan dan Intervensi Trump

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa negaranya tetap berkomitmen untuk berperan sebagai mediator dalam konflik ini. Namun, proses negosiasi turut diwarnai tekanan dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebut perang ini sebagai “perang bodoh”.

Trump mengancam akan menghentikan upaya mediasi AS jika tidak ada kemajuan nyata dalam pembicaraan damai. Ia juga menyampaikan bahwa proses tidak akan bergerak maju hingga dirinya melakukan pertemuan langsung dengan Putin.

Pihak Kremlin menyambut baik peran aktif Amerika Serikat dan menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kerja sama diplomatik, termasuk melalui Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov yang telah berbicara dengan Menlu AS Marco Rubio pasca-pertemuan Istanbul.

Reaksi Eropa

Sejumlah pemimpin Eropa menyampaikan kekecewaan atas hasil pembicaraan. Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menyebut Rusia kembali menunjukkan ketidakseriusan dalam mencapai perdamaian. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyatakan bahwa tidak ada hasil konkret dari pertemuan tersebut.

Sementara itu, Uni Eropa sedang menyiapkan paket sanksi baru terhadap Rusia. Namun setelah lebih dari tiga tahun sanksi berlapis, efektivitas langkah-langkah ekonomi tersebut mulai dipertanyakan.

“Pada titik apa kita akan berkata kepada Putin bahwa sudah cukup?” kata Lammy saat berkunjung ke Pakistan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional