Quetta – Ledakan bom yang menghantam sebuah bus sekolah di kota Khuzdar, Balochistan, Rabu (21/5/2025) pagi waktu setempat, menambah luka baru di tengah hubungan tegang antara Pakistan dan India.
Sekitar pukul 07.40 waktu setempat, sebuah ledakan mengguncang bus yang membawa sekitar 40 pelajar. Enam anak dinyatakan tewas di tempat, dua lainnya meninggal setelah dirawat intensif di rumah sakit. Puluhan lainnya mengalami luka serius, sebagian besar di antaranya anak perempuan berusia 12 hingga 16 tahun.
Nasir Mehmood, seorang sersan di militer Pakistan, menggambarkan kepanikan yang terjadi setelah serangan. “Begitu saya dengar ledakan, seolah tanah runtuh dari bawah kaki saya. Para orang tua berlarian ke arah bus, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya di ruang tunggu rumah sakit militer di Quetta.
Anaknya, Mohammad Ahmad (14), menjadi salah satu korban luka yang diterbangkan ke rumah sakit militer untuk penanganan intensif. “Saya tiba di rumah sakit dan hanya mendengar teriakan anak-anak di mana-mana. Mata saya terus mencari Ahmad,” katanya lirih.
Serangan di Tengah Gencatan Senjata
Tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, pemerintah Pakistan langsung menuding India berada di balik insiden ini, meski belum ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut. Pemerintah India secara tegas membantah keterlibatan apa pun.
Serangan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah konflik singkat antara kedua negara, yang menyebabkan puluhan korban jiwa. Gencatan senjata yang disepakati sejak awal Mei masih bersifat rapuh, dan insiden di Khuzdar diyakini dapat kembali memicu eskalasi.
“Serangan ini tidak ada hubungannya dengan identitas Baloch. Ini murni provokasi India,” ujar juru bicara militer Pakistan, Letjen Chaudhry, dalam konferensi pers.
Balochistan: Provinsi Bergolak
Balochistan, provinsi terbesar namun termiskin di Pakistan, telah lama menjadi ladang konflik antara kelompok militan separatis dan militer. Kelompok seperti Balochistan Liberation Army (BLA), yang disebut-sebut bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat keamanan pada Maret lalu, telah dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh Pakistan, Amerika Serikat, dan Inggris.
Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia menuding aparat keamanan Pakistan melakukan pelanggaran HAM, termasuk dugaan penghilangan paksa terhadap ribuan warga etnis Baloch dalam dua dekade terakhir.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyebut ada sejarah panjang operasi rahasia India di wilayah ini. Namun saat ditanya mengenai bukti keterlibatan India dalam serangan bus sekolah, Tarar hanya mengulang bahwa “ada rekam jejak dan bukti sejarah”.
Luka yang Masih Terbuka
Di rumah sakit militer di Quetta, suasana duka terasa begitu kental. Anak-anak yang selamat terbaring di ranjang ICU, beberapa di antaranya masih tak sadarkan diri, lainnya mengerang menahan luka bakar dan patah tulang.
Seorang gadis kecil terus memanggil ibunya di tengah upaya perawat menenangkannya. “Kami sudah kehilangan satu lagi tadi malam,” ujar seorang dokter, menambahkan bahwa beberapa korban masih dalam kondisi kritis.
Potongan sepatu sekolah, tas ransel, dan pecahan logam berserakan di lokasi kejadian menjadi simbol tragedi yang kini menjadi bagian dari babak baru ketegangan geopolitik dua negara bersenjata nuklir ini.
Pemerintah Pakistan menyatakan telah membawa isu ini ke berbagai saluran diplomatik. Namun, masa depan dari dialog damai India-Pakistan kini kembali dipertanyakan.