Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Kanselir Jerman Kritik Israel: Serangan ke Gaza Tak Lagi Bisa Dibenarkan

badge-check


					Kondisi terkini Gaza Utara tampak dari Israel, 27 Mei 2025. Perbesar

Kondisi terkini Gaza Utara tampak dari Israel, 27 Mei 2025.

Turku, Finlandia – Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan kritik terkerasnya terhadap Israel pada Senin (26/5/2025), menilai serangan udara masif ke Gaza sudah tidak lagi bisa dibenarkan dalam konteks memerangi Hamas, serta “tidak lagi dapat dipahami secara logis”.

Pernyataan itu disampaikan Merz dalam konferensi pers bersama di Turku, Finlandia.

Ucapan ini menandai pergeseran sikap yang signifikan dari pimpinan negara. Sebelumnya, mereka selalu berpegang pada prinsip Staatsräson, yakni tanggung jawab khusus Jerman terhadap Israel akibat sejarah Holocaust.

“Serangan militer besar-besaran yang dilakukan Israel di Jalur Gaza tak lagi menunjukkan logika yang dapat saya pahami. Bagaimana itu melayani tujuan memerangi teror?” ujar Merz. “Saya termasuk yang tidak ingin menjadi yang pertama mengatakan ini. Tetapi waktu telah menunjukkan bahwa saya perlu menyampaikan secara terbuka bahwa apa yang terjadi saat ini tidak lagi bisa dimengerti.”

Komentar Merz mencerminkan perubahan opini publik yang semakin kritis terhadap Israel. Survei terbaru Civey yang dimuat harian Tagesspiegel menyebutkan bahwa 51 persen warga Jerman menolak ekspor senjata ke Israel.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyampaikan kritik keras kepada Israel saat konferensi pers di Turku. Merz dijadwalkan untuk menghadiri pertemuan para kepala pemerintahan Nordik dari Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, dan Islandia.

Merz sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat Israel. Ia bahkan berjanji dalam kampanye pemilihan Februari lalu untuk menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Berlin. Hal itu tetap ia lakukan meski Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu. Di kantor kanselir, Merz menggantung lukisan pantai Zikim—tempat para pejuang Hamas mendarat saat serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

Namun kini, perubahan nada Merz menambah tekanan terhadap Israel, yang juga tengah dikritik negara-negara Barat lain seperti Inggris, Prancis, dan Kanada. Uni Eropa pun dikabarkan tengah mengkaji ulang kebijakan terhadap Israel.

Desakan dari Pemerintah dan Publik

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul turut menyuarakan nada serupa. Di dalam koalisi pemerintahan, partai mitra dari Sosial Demokrat mendesak agar ekspor senjata ke Israel dihentikan guna menghindari keterlibatan Jerman dalam kejahatan perang.

Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Berlin, Ron Prosor, menanggapi dengan nada hati-hati. “Ketika Friedrich Merz menyampaikan kritik terhadap Israel, kami mendengarkannya dengan sangat serius karena ia adalah sahabat kami,” katanya kepada penyiar publik ZDF.

Meski tidak menjawab langsung pertanyaan wartawan mengenai ekspor senjata, Merz mengatakan akan berbicara langsung dengan Netanyahu pekan ini. Juru bicara pemerintah menyatakan bahwa kebijakan ekspor senjata adalah ranah Dewan Keamanan Jerman yang diketuai oleh Merz.

Komisaris Pemerintah Jerman untuk Antisemitisme, Felix Klein, juga ikut mempertanyakan posisi Berlin terhadap Israel. Menurutnya, dukungan atas dasar sejarah Holocaust tidak dapat dijadikan pembenaran atas semua tindakan Israel saat ini.

Perubahan Sikap Elite Politik

Sejumlah pengamat menyebut pernyataan Merz sebagai cerminan tekanan dari bawah. Sejarawan Israel, Moshe Zimmermann menilai opini publik Jerman bergerak selaras dengan tren global, namun elite politik masih dibayangi trauma Perang Dunia II.

“Perbedaannya ada pada elit politik. Mereka masih terikat pada narasi satu dimensi: Yahudi adalah korban kita saat Perang Dunia II, jadi kita harus selalu berpihak pada mereka apa pun yang terjadi,” kata Zimmermann.

“Namun kini, tekanan dari bawah memaksa para pemimpin politik untuk meninjau ulang posisi mereka. Ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Serangan Israel ke Gaza dalam beberapa hari terakhir menewaskan puluhan orang, sementara dua juta warga Gaza kini berada di ambang kelaparan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional