Turku, Finlandia – Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan kritik terkerasnya terhadap Israel pada Senin (26/5/2025), menilai serangan udara masif ke Gaza sudah tidak lagi bisa dibenarkan dalam konteks memerangi Hamas, serta “tidak lagi dapat dipahami secara logis”.
Pernyataan itu disampaikan Merz dalam konferensi pers bersama di Turku, Finlandia.
Ucapan ini menandai pergeseran sikap yang signifikan dari pimpinan negara. Sebelumnya, mereka selalu berpegang pada prinsip Staatsräson, yakni tanggung jawab khusus Jerman terhadap Israel akibat sejarah Holocaust.
“Serangan militer besar-besaran yang dilakukan Israel di Jalur Gaza tak lagi menunjukkan logika yang dapat saya pahami. Bagaimana itu melayani tujuan memerangi teror?” ujar Merz. “Saya termasuk yang tidak ingin menjadi yang pertama mengatakan ini. Tetapi waktu telah menunjukkan bahwa saya perlu menyampaikan secara terbuka bahwa apa yang terjadi saat ini tidak lagi bisa dimengerti.”
Komentar Merz mencerminkan perubahan opini publik yang semakin kritis terhadap Israel. Survei terbaru Civey yang dimuat harian Tagesspiegel menyebutkan bahwa 51 persen warga Jerman menolak ekspor senjata ke Israel.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyampaikan kritik keras kepada Israel saat konferensi pers di Turku. Merz dijadwalkan untuk menghadiri pertemuan para kepala pemerintahan Nordik dari Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, dan Islandia.
Merz sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat Israel. Ia bahkan berjanji dalam kampanye pemilihan Februari lalu untuk menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Berlin. Hal itu tetap ia lakukan meski Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu. Di kantor kanselir, Merz menggantung lukisan pantai Zikim—tempat para pejuang Hamas mendarat saat serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
Namun kini, perubahan nada Merz menambah tekanan terhadap Israel, yang juga tengah dikritik negara-negara Barat lain seperti Inggris, Prancis, dan Kanada. Uni Eropa pun dikabarkan tengah mengkaji ulang kebijakan terhadap Israel.
Desakan dari Pemerintah dan Publik
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul turut menyuarakan nada serupa. Di dalam koalisi pemerintahan, partai mitra dari Sosial Demokrat mendesak agar ekspor senjata ke Israel dihentikan guna menghindari keterlibatan Jerman dalam kejahatan perang.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Berlin, Ron Prosor, menanggapi dengan nada hati-hati. “Ketika Friedrich Merz menyampaikan kritik terhadap Israel, kami mendengarkannya dengan sangat serius karena ia adalah sahabat kami,” katanya kepada penyiar publik ZDF.
Meski tidak menjawab langsung pertanyaan wartawan mengenai ekspor senjata, Merz mengatakan akan berbicara langsung dengan Netanyahu pekan ini. Juru bicara pemerintah menyatakan bahwa kebijakan ekspor senjata adalah ranah Dewan Keamanan Jerman yang diketuai oleh Merz.
Komisaris Pemerintah Jerman untuk Antisemitisme, Felix Klein, juga ikut mempertanyakan posisi Berlin terhadap Israel. Menurutnya, dukungan atas dasar sejarah Holocaust tidak dapat dijadikan pembenaran atas semua tindakan Israel saat ini.
Perubahan Sikap Elite Politik
Sejumlah pengamat menyebut pernyataan Merz sebagai cerminan tekanan dari bawah. Sejarawan Israel, Moshe Zimmermann menilai opini publik Jerman bergerak selaras dengan tren global, namun elite politik masih dibayangi trauma Perang Dunia II.
“Perbedaannya ada pada elit politik. Mereka masih terikat pada narasi satu dimensi: Yahudi adalah korban kita saat Perang Dunia II, jadi kita harus selalu berpihak pada mereka apa pun yang terjadi,” kata Zimmermann.
“Namun kini, tekanan dari bawah memaksa para pemimpin politik untuk meninjau ulang posisi mereka. Ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Serangan Israel ke Gaza dalam beberapa hari terakhir menewaskan puluhan orang, sementara dua juta warga Gaza kini berada di ambang kelaparan.