Gaza City – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyerukan investigasi independen menyusul laporan adanya penembakan yang menyebabkan tewasnya puluhan warga Palestina yang tengah mengantre bantuan di Rafah, Gaza selatan, pada Minggu (1/6/2025).
Insiden terjadi di dekat pusat distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bentukan Amerika Serikat dan Israel. Saksi mata mengaku ditembaki saat tengah menunggu makanan, sementara laporan korban luka dan tewas terus bertambah.
Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan rumah sakitnya di Rafah menerima 179 korban, termasuk 21 orang yang meninggal dunia. Sementara itu, lembaga pertahanan sipil yang dikelola Hamas menyebut angka kematian mencapai 31 jiwa, mayoritas warga sipil.
Dalam pernyataan tertulis pada Senin (2/6), Guterres mengatakan dirinya “terkejut” atas laporan tersebut dan menuntut pertanggungjawaban. “Saya sangat prihatin dengan laporan warga Palestina yang tewas dan terluka saat sedang mencari bantuan kemanusiaan. Saya menyerukan investigasi segera dan independen,” ujarnya.
Respon Israel dan GHF
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Kementerian Luar Negeri Israel yang menyebut komentar Guterres sebagai “memalukan” karena tidak menyinggung Hamas sama sekali.
Sementara itu, militer Israel membantah pihaknya menembaki warga sipil dalam insiden tersebut. Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut tuduhan yang beredar sebagai “palsu”, dan mengklaim telah mengidentifikasi adanya upaya kelompok bersenjata mendekati lokasi distribusi.
GHF dalam keterangannya juga membantah keras kabar insiden tersebut. “Tidak ada korban jiwa, luka, atau kejadian apapun di lokasi operasi kami kemarin. Kami belum menerima bukti adanya serangan,” tulis mereka.
Laporan dari Lembaga Kemanusiaan
Namun, laporan lapangan dari organisasi medis dan kemanusiaan menunjukkan gambaran berbeda. Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan timnya di RS Nasser, Khan Younis, menangani puluhan korban luka berat, termasuk pasien dalam kondisi kritis. Beberapa pasien menyebut mereka “ditembaki dari segala arah”, termasuk oleh drone, tank, dan helikopter.
Seorang jurnalis lokal mengaku melihat tank Israel mendekati kerumunan warga Palestina di bundaran al-Alam, sebelum suara tembakan terdengar.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berlari menyelamatkan diri di area terbuka di tengah suara rentetan senjata. Namun, lokasi rekaman belum dapat diverifikasi secara independen karena keterbatasan akses.
Israel tidak mengizinkan jurnalis internasional masuk ke Gaza, yang membuat verifikasi lapangan menjadi sangat sulit.
Juru bicara IDF, Brigjen Effie Defrin, menuduh Hamas menyebarkan disinformasi dan mencoba menghalangi warga Gaza menerima bantuan. Ia juga menyebut insiden di Rafah tidak ada hubungannya dengan operasi militer Israel.
Pada hari yang sama, seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa pasukannya melepaskan “tembakan peringatan” ke arah “beberapa tersangka” yang mendekat sekitar 1 kilometer dari lokasi GHF, dan membantah telah menyerang warga sipil.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, turut menyalahkan media internasional atas pemberitaan yang dinilainya “ceroboh” dan “tidak bertanggung jawab”. Ia menyebut informasi yang beredar hanya bersumber dari Hamas dan memicu sentimen antisemit di Amerika Serikat.
Serangan Susulan dan Korban Tambahan
Namun, laporan korban terus berdatangan. Pada Senin malam, Palang Merah kembali menerima 50 korban baru, dua di antaranya meninggal dunia, setelah insiden penembakan kedua di area yang sama. RS Nasser juga menerima jenazah seorang korban lain.
Di hari yang sama, 14 orang – termasuk enam anak-anak dan tiga perempuan – dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Jabalia, Gaza utara. Pihak pertahanan sipil setempat menyebut lebih dari 20 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari IDF terkait serangan di Jabalia. Namun, mereka mengklaim telah menggempur puluhan target militan Hamas dalam 24 jam terakhir, termasuk terowongan dan gudang senjata.
Israel kembali menggencarkan ofensifnya di Gaza sejak pertengahan Mei, usai dua bulan gencatan senjata runtuh. Pemerintah menyebut serangan sebagai tekanan terhadap Hamas agar membebaskan sisa 58 sandera yang masih ditahan, 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023, lebih dari 54.000 orang telah dilaporkan tewas di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.