Ballymena, Irlandia Utara – Kerusuhan kembali pecah di kota Ballymena pada Selasa (10/6/2025) malam waktu setempat. Ratusan perusuh bertopeng menyerang aparat keamanan, membakar mobil, dan membakar sejumlah rumah dalam kekacauan yang berlanjut untuk malam kedua berturut-turut. Aksi kekerasan ini dipicu oleh protes terhadap dugaan kasus kekerasan seksual di wilayah tersebut.
Sedikitnya 17 polisi terluka dalam kerusuhan terbaru itu. Jumlah ini menambah total korban luka di kalangan aparat menjadi 32 orang sejak insiden kekerasan pertama terjadi pada Senin (9/6).
Polisi menyatakan bahwa aksi kekerasan ini bermula dari unjuk rasa besar terkait dugaan pemerkosaan terhadap seorang remaja perempuan oleh dua anak laki-laki berusia 14 tahun. Kedua remaja tersebut telah dihadapkan ke pengadilan pada hari yang sama. Menurut BBC, dakwaan dibacakan kepada keduanya melalui penerjemah bahasa Rumania, dan keduanya membantah tuduhan yang dikenakan. Mereka ditahan hingga persidangan lanjutan pada 2 Juli mendatang.
Kejahatan Bermotif Kebencian
Polisi juga tengah menyelidiki sejumlah serangan terhadap properti warga pada Senin malam yang mengakibatkan empat rumah rusak parah akibat kebakaran. Pihak kepolisian menyebut insiden tersebut sebagai kejahatan bermotif kebencian rasial.
“Kekerasan membabi buta yang terjadi di Ballymena dalam dua malam terakhir sangat memprihatinkan dan sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Kepala Kepolisian Irlandia Utara (PSNI), Jon Boutcher, dalam pernyataan resminya, Rabu (11/6).
“Tindakan bermotif kebencian dan pengaruh massa hanya akan merusak tatanan masyarakat. Perilaku seperti ini harus dihentikan,” lanjutnya.
Beberapa warga asing ketakutan menjadi target. Seorang warga Rumania mengatakan kepada The Irish Times bahwa ia menempelkan bendera Inggris di jendela rumahnya untuk menghindari serangan. Sementara itu, foto yang dimuat The Belfast Telegraph memperlihatkan sebuah pintu rumah dengan bendera Inggris dan Filipina serta tulisan “Filipino lives here” sebagai tanda pengenal penghuni.
Kekerasan Meluas
Hingga Rabu, lima orang ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam aksi kerusuhan di Ballymena. Sebelumnya, satu orang telah diamankan pada malam pertama kekacauan.
Menurut saksi mata dari Reuters, polisi yang dilengkapi perlengkapan anti huru-hara dan kendaraan lapis baja, membalas serangan dengan menggunakan meriam air dan peluru tidak mematikan. Massa melemparkan bom molotov, batu, dan batang logam yang diambil dari dinding bangunan sekitar.
Satu rumah dilaporkan hangus terbakar. Beberapa kendaraan dibakar, bahkan satu mobil terlihat terbakar dalam posisi terbalik.

Sebuah kendaraan terbakar pada malam kedua kerusuhan di Ballymena, Irlandia Utara, pada 11 Juni 2025. (foto: REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Kerusuhan serupa juga terjadi di beberapa kota lain. Protes memblokir sejumlah jalan di Belfast, sementara di Newtownabbey dan Carrickfergus, massa membakar tempat sampah serta melemparkan botol dan batu ke arah polisi. Insiden juga dilaporkan di kawasan utara Belfast.
Kecaman Pemerintah
Pemerintah Inggris dan para politisi lokal dengan tegas mengecam kekerasan tersebut.
“Pemandangan mengerikan dari kerusuhan sipil yang kita saksikan lagi di Ballymena malam ini sungguh tidak memiliki tempat di Irlandia Utara,” ujar Menteri Irlandia Utara dari Inggris, Hilary Benn, melalui akun media sosial X (dulu Twitter).
Insiden ini menjadi pengingat bahwa meskipun Perjanjian Damai Irlandia Utara telah menghentikan konflik sektarian selama tiga dekade pada 1998, ketegangan masih dapat muncul sewaktu-waktu, terutama jika dipicu oleh isu yang sensitif.