Washington – Badan intelijen Amerika Serikat menilai fasilitas nuklir Iran belum hancur total usai serangan udara AS. Serangan itu hanya menunda kemampuan Iran untuk merakit senjata nuklir selama beberapa bulan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan bom bunker-buster seberat 30.000 pon telah “menghancurkan total” fasilitas nuklir Iran. Namun, laporan awal dari Defense Intelligence Agency (DIA) menyebut bahwa kerusakan tidak sedalam yang diklaim.
“Persediaan uranium yang diperkaya tidak sepenuhnya musnah, dan sebagian besar program nuklir Iran masih terkubur jauh di bawah tanah,” ujar seorang sumber yang mengetahui laporan tersebut. Serangan hanya menutup pintu masuk ke dua fasilitas dan tidak meruntuhkan struktur bawah tanah. Sebagian sentrifugal juga masih berfungsi.
Sementara itu, Trump menepis laporan intelijen tersebut sebagai “salah besar.” Ia menegaskan bahwa serangan AS telah “mengurangi secara signifikan” kemampuan nuklir Iran, sebagaimana disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB pada Selasa (24/6/2025).
Reaksi dari Tel Aviv dan Teheran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik hasil serangan tersebut dan menyebutnya sebagai penghapusan ancaman eksistensial. “Kami telah menyingkirkan dua ancaman utama: kehancuran nuklir dan rudal balistik,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengklaim kemenangan besar. “Perang telah kami akhiri secara terhormat,” katanya seperti dikutip media Iran. Ia juga menyampaikan kesiapan Iran untuk menjalin rekonsiliasi dengan Amerika Serikat dalam pembicaraan dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman.
Israel memulai perang udara pada 13 Juni dengan menghantam fasilitas nuklir dan membunuh sejumlah komandan senior Iran. Iran membalas dengan rentetan rudal ke pangkalan militer dan kota-kota di Israel.
Menurut otoritas Iran, serangan Israel menewaskan 610 orang dan melukai hampir 5.000 lainnya. Iran mengklaim berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dengan serangan rudalnya, yang menewaskan 28 warga Israel.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Meskipun pertempuran telah reda, gencatan senjata yang diumumkan Trump hari ini, Rabu (25/6/2025), masih terlihat rapuh. Israel dan Iran sama-sama menyatakan menerima perjanjian tersebut, tetapi menuduh satu sama lain melanggarnya dalam beberapa jam pertama.
Trump melontarkan teguran keras kepada kedua negara, terutama Israel. Dalam komentar yang mengejutkan, ia menyebut bahwa Israel “harus segera menahan diri.”
“Saya harus membuat Israel tenang sekarang. Mereka dan Iran sudah bertarung terlalu lama sampai lupa apa yang sedang mereka lakukan,” ujarnya sebelum berangkat ke KTT NATO di Eropa.
Netanyahu kemudian mengakui bahwa Israel telah menyerang situs radar dekat Teheran sebagai balasan atas serangan Iran yang diduga diluncurkan setelah gencatan senjata diberlakukan. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyebut bahwa Israel tetap menyerang hingga satu setengah jam setelah waktu gencatan senjata dimulai.
Dampak Global
Pascadeklarasi gencatan senjata, Israel mencabut pembatasan sipil dan membuka kembali Bandara Ben Gurion. Iran juga mengumumkan bahwa wilayah udaranya kembali dibuka.
Pasar keuangan global merespons positif. Harga minyak dunia anjlok tajam dan bursa saham di berbagai negara mengalami penguatan. Analis menilai meredanya konflik meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Meski demikian, banyak pihak tetap mempertanyakan apakah ketenangan ini bisa bertahan lama. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Eyal Zamir, menegaskan bahwa kampanye militer terhadap ancaman dari Iran belum selesai.
“Babak besar telah berakhir, tapi perjuangan kami belum selesai,” kata Zamir. Ia mengatakan Israel kini akan memfokuskan kembali operasi militernya ke Gaza untuk menghadapi Hamas.
Sementara itu, militer Iran memperingatkan bahwa Israel dan AS harus mengambil pelajaran dari “pukulan telak” yang telah diberikan.
“Siapa pun yang memediasi atau bagaimana perangnya tak penting,” kata Reza Sharifi, warga Iran yang kembali ke Teheran setelah mengungsi ke utara. “Perang ini seharusnya tak pernah terjadi.”