Gaza City – Serangan Israel pada Rabu (16/7/2025) menghantam satu-satunya Gereja Katolik di Jalur Gaza, menewaskan tiga orang dan melukai sejumlah lainnya. Gereja Keluarga Kudus (Holy Family Church) itu selama ini menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil yang kehilangan rumah akibat perang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan resminya pada Kamis (17/7/2025), Patriarkat Latin Yerusalem yang membawahi komunitas Katolik di wilayah Palestina mengutuk keras serangan tersebut. “Ini adalah bentuk penargetan terhadap warga sipil tak berdosa dan tempat suci,” tulis Patriarkat. Disebutkan bahwa korban jiwa terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki.
“Perang mengerikan ini harus segera dihentikan sepenuhnya. Para korban ini telah kehilangan rumah, harta benda, bahkan martabat mereka, dan berharap gereja bisa menjadi tempat perlindungan,” lanjut pernyataan itu.
Paus Serukan Gencatan Senjata
Gereja Keluarga Kudus dalam pernyataan terpisah menyebutkan bahwa beberapa orang mengalami luka, sebagian dalam kondisi kritis. Salah satu korban luka adalah Pastor Gabriel Romanelli, imam kepala di gereja tersebut. Romanelli yang berasal dari Argentina sempat dikenal luas karena menjalin komunikasi intens dengan Paus Fransiskus mengenai konflik di Gaza.
Rekaman televisi memperlihatkan Pastor Romanelli tengah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Al-Ahly di Gaza dengan perban di kaki kanan bagian bawah.
Paus Leo dalam telegram belasungkawanya menyatakan kesedihan mendalam atas insiden tersebut dan menyerukan “gencatan senjata segera.” Lebih lanjut, Paus juga menyampaikan harapannya untuk “dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian abadi di kawasan.” Akan tetapi, Telegram tersebut tidak menyebutkan Israel sama sekali.
Militer Israel: Serangan Tidak Sengaja
Militer Israel dalam pernyataan pada Kamis sore mengatakan bahwa berdasarkan penyelidikan awal, serpihan peluru dari aktivitas militer di sekitar lokasi kemungkinan besar menghantam gereja secara tidak sengaja. Mereka menegaskan tidak pernah menargetkan tempat ibadah atau lokasi sipil, serta menyatakan penyesalan atas korban jiwa yang terjadi.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan terpisah mengungkapkan penyesalan mendalam. “Israel sangat menyesalkan insiden ini. Setiap nyawa tak berdosa yang hilang adalah tragedi,” ujar Netanyahu. “Kami sedang menyelidiki insiden ini dan tetap berkomitmen untuk melindungi warga sipil serta situs-situs suci.”
Kecaman Internasional
Namun, kritik tajam datang dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Ia menuding Israel bertanggung jawab atas serangan terhadap kompleks gereja tersebut. “Serangan terhadap penduduk sipil yang dilakukan Israel selama berbulan-bulan adalah hal yang tak bisa diterima. Tidak ada aksi militer yang bisa membenarkan tindakan semacam itu,” tegas Meloni dalam pernyataannya.
Serangan ini kembali memicu kecaman internasional terhadap eskalasi konflik yang terus berlangsung di Gaza dan semakin menambah daftar panjang korban jiwa dari kalangan warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan tokoh agama.