Washington – Sekjen PBB, António Guterres, mendesak perusahaan-perusahaan teknologi untuk sepenuhnya menggunakan energi terbarukan bagi pusat data mereka paling lambat tahun 2030. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan energi fosil oleh industri untuk memenuhi lonjakan kebutuhan daya pusat data.
Dalam pidatonya pada Selasa (22/7/2025) di markas besar PBB di New York, Guterres menekankan bahwa peralihan ke energi bersih bukan hanya mendesak, tetapi juga tak terelakkan. Ia menyesalkan masih banyak negara dan korporasi yang memilih jalur energi fosil.
“Masa depan sedang dibangun di awan (cloud). Masa depan itu harus digerakkan oleh matahari, angin, dan janji dunia yang lebih baik,” ujar Guterres.
Melawan Kebijakan Energi Pemerintahan Trump
Desakan dari Guterres ini datang sehari sebelum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan mengumumkan AI Action Plan. Sebuah kebijakan eksekutif untuk mempercepat pembangunan kecerdasan buatan (AI) dengan cara melonggarkan pembatasan lahan dan produksi energi.
Trump sebelumnya telah menetapkan status darurat energi nasional untuk mengatasi kebutuhan energi yang sangat besar dari pusat data. Hal itu termasuk melonggarkan pembatasan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas, batu bara, dan nuklir.
Pemerintahannya juga telah menandatangani One Big Beautiful Bill Act, yang membatasi insentif bagi energi angin dan surya. Saat ini, dua sumber energi terbarukan tersebut mendominasi antrean proyek pembangkit listrik baru yang menunggu untuk terhubung ke jaringan listrik
Langkah ini mempertegas sikap AS yang semakin condong ke penggunaan energi fosil, sekaligus menambah ketegangan dalam persaingan teknologi dengan China dalam mengembangkan kecerdasan buatan.
Momentum Jelang Konferensi Iklim PBB
Menanggapi tren ini, Guterres menyerukan agar negara-negara memanfaatkan momentum menjelang Konferensi Iklim PBB berikutnya pada bulan September untuk memperbarui rencana iklim nasional mereka, guna memenuhi target Kesepakatan Paris.
Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan air secara berkelanjutan untuk sistem pendingin pusat data.
“Ini adalah kesempatan langka untuk memastikan semua permintaan listrik baru dipenuhi dari sumber energi terbarukan,” kata Guterres.
Pusat data, sebagai tulang punggung dunia digital dan AI, saat ini menyumbang sekitar 2-3 persen dari total konsumsi listrik global. Tanpa langkah transformatif, angka ini akan melonjak tajam dalam dekade mendatang, seiring revolusi AI yang terus melaju.