Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Amerika Serikat Terancam Krisis Listrik Akibat AI

badge-check


					Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Pulau Three Mile di Pennsylvania yang telah ditutup pada 2019. (foto: wikipedia) Perbesar

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Pulau Three Mile di Pennsylvania yang telah ditutup pada 2019. (foto: wikipedia)

Pennsylvania – Jaringan listrik terbesar di Amerika Serikat, PJM Interconnection, mengalami krisis kesulitan memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data dan chatbot AI. Permintaan yang meningkat ini telah melampaui kemampuan pembangunan pembangkit listrik baru, menyebabkan kekhawatiran akan lonjakan biaya listrik di seluruh wilayah.

Diperkirakan, tagihan listrik akan meningkat lebih dari 20% pada musim panas ini di beberapa bagian wilayah PJM. Wilayah ini mencakup 13 negara bagian, dari Illinois hingga Tennessee dan Virginia hingga New Jersey. Jaringan ini melayani sekitar 67 juta pelanggan, di kawasan dengan jumlah pusat data terbanyak di dunia.

Ancaman Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, untuk menarik negara bagian tersebut dari jaringan PJM jika biaya listrik tidak dapat ditekan turut memperparah krisis ini. Selain itu, CEO PJM, Manu Asthana, mengumumkan pengunduran dirinya, sementara ketua dewan direksi dan seorang direksi lainnya juga telah dipecat.

Keterlambatan Pembangunan Pembangkit Baru

Kekacauan di PJM dimulai setahun lalu ketika harga dalam lelang kapasitas tahunan melonjak lebih dari 800%. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada tagihan listrik masyarakat. Saat ini, PJM bersiap untuk lelang kapasitas berikutnya yang dijadwalkan pada hari Rabu, di mana harga diperkirakan akan meningkat lebih lanjut.

Lelang ini bertujuan untuk mencegah pemadaman listrik dengan menetapkan tarif di mana generator setuju untuk memproduksi listrik pada periode kritis, terutama pada hari-hari terpanas dan terdingin. Meskipun tingginya harga lelang seharusnya mendorong pembangunan pembangkit baru, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses ini berlangsung lambat. Pembangkit listrik tua ditutup, sementara permintaan dari pusat data terus melambung.

Menurut para ahli, PJM telah memperburuk situasi dengan menunda lelang dan menghentikan proses pembangunan pembangkit baru. Gubernur Shapiro menekankan pentingnya transparansi dan kecepatan dari PJM dalam menangani krisis ini. “Kami perlu menjaga biaya konsumen tetap rendah,” ungkapnya.

Bantahan PJM

PJM menyatakan bahwa penyebab kekurangan pasokan dan permintaan ini sebagian besar karena faktor eksternal. Di antaranya adalah kebijakan energi negara bagian yang menutup pembangkit berbahan bakar fosil terlalu cepat serta pertumbuhan pusat data yang sangat pesat di wilayah Virginia Utara.

“Harga akan tetap tinggi selama pertumbuhan permintaan melebihi pasokan,” kata juru bicara PJM, Jeffrey Shields. “Saat ini, kami membutuhkan setiap megawatt yang bisa kami dapatkan.”

Dalam beberapa tahun terakhir, proyek-proyek baru dengan total kapasitas sekitar 46 gigawatt telah disetujui, namun banyak yang terhambat oleh penolakan lokal, masalah rantai pasokan, dan pendanaan.

Upaya Reformasi dan Tantangan Kedepan

Sementara itu, permintaan dari pusat data diperkirakan akan terus meningkat. PJM memprediksi bahwa hingga tahun 2030, akan ada tambahan permintaan sebesar 32 gigawatt, sebagian besar berasal dari pusat data yang berkembang pesat.

Dalam upaya merespons kritik, PJM telah melakukan sejumlah reformasi, termasuk membatasi harga lelang dan mengadakan lelang setiap enam bulan. Meskipun demikian, banyak proyek yang masih terhambat dan kemungkinan baru akan beroperasi hingga tahun 2030 atau 2031.

Krisis energi di PJM menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan besar atas kebutuhan listriknya. Kondisi ini menyoroti perlunya solusi cepat untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional