Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Yunani Kembangkan Sistem Anti-Drone Canggih ‘Centauros’

badge-check


					Sistem anti-drone Centauros di fasilitas Hellenic Aerospace Industry (HAI), di Tanagra, wilayah utara Athena, Yunani. Kamis, 3 Juli 2025. (foto: REUTERS/Louiza Vradi) Perbesar

Sistem anti-drone Centauros di fasilitas Hellenic Aerospace Industry (HAI), di Tanagra, wilayah utara Athena, Yunani. Kamis, 3 Juli 2025. (foto: REUTERS/Louiza Vradi)

Athena – Dalam hitungan menit, sistem anti-drone buatan Yunani yang baru, Centauros, menunjukkan kemampuannya saat menjalani uji coba pertama di Laut Merah. Sistem ini berhasil menjatuhkan dua drone udara yang diluncurkan oleh kelompok Houthi Yaman dan memaksa dua lainnya mundur setelah gangguan elektronik.

Uji coba ini dilakukan dalam patroli Uni Eropa pada tahun lalu, dan dinilai sukses oleh Kyriakos Enotiadis, Direktur Elektronik di perusahaan pelat merah Hellenic Aerospace Industry (HAI) yang memproduksi sistem tersebut.

“Centauros adalah satu-satunya sistem anti-drone buatan Eropa yang sudah teruji di medan tempur,” ujar Enotiadis.

Sistem Canggih Bernama Makhluk Mitologi

Sistem yang dinamai berdasarkan makhluk mitologi setengah manusia setengah kuda ini mampu mendeteksi drone sejauh 150 kilometer dan menembak dari jarak 25 kilometer. Pemerintah Yunani berencana memasang Centauros di seluruh armada angkatan laut mereka.

Keberhasilan uji coba ini menjadi pendorong utama program modernisasi militer Yunani senilai 30 miliar euro atau sekitar Rp529 triliun yang ditargetkan rampung pada tahun 2036.

Menuju Kemandirian Teknologi Pertahanan

Selama ini, Yunani masih bergantung pada UAV ISR (intelligence, surveillance, reconnaissance) buatan luar negeri, seperti Prancis dan Israel. Namun, program multinasional baru akan memasukkan teknologi anti-drone dan drone tempur buatan dalam negeri. Salah satu yang tengah dikembangkan adalah sistem pertahanan balistik bernama Achilles Shield.

Langkah ini juga menjadi bagian dari kompetisi taktis Yunani dengan Turki, negara tetangga dan sesama anggota NATO eksportir drone besar di dunia.

Investasi Inovasi dan Target Ekspor

Yunani mengalokasikan hampir 3,5 persen dari PDB untuk pertahanan karena rivalitas panjang dengan Turki. Dari jumlah tersebut, sebagian besar belum dimanfaatkan oleh industri dalam negeri. Namun, dalam satu dekade ke depan, Yunani berencana menggelontorkan 800 juta euro atau sekitar Rp14,1 triliun untuk inovasi pertahanan.

“Target kami adalah menyeimbangkan nilai ekspor dengan anggaran pertahanan tahunan,” ujar Pantelis Tzortzakis. Ia merupakan CEO Hellenic Centre for Defence Innovation (HCDI), lembaga baru yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pertahanan.

Salah satu contoh keberhasilan sektor swasta adalah Altus, perusahaan yang bekerja sama dengan MBDA Prancis dalam memproduksi drone tempur Kerveros. Drone ini memiliki kemampuan lepas-landas dan mendarat secara vertikal, serta mampu membawa senjata anti-tank seberat lebih dari 30 kilogram.

Generasi Baru: Archytas, Iperion, dan Telemachus

HAI kini bersiap memproduksi dua sistem anti-drone portabel lainnya, yaitu Iperion dan Telemachus, pada tahun 2026. Kedua sistem ini dirancang untuk menghadapi serangan drone berkelompok serta mini drone yang berbahaya.

Tak hanya itu, Yunani juga akan meluncurkan UAV besar pertamanya yang bernama Archytas. Nama tersebut diambil dari filsuf dan penemu Yunani kuno yang menciptakan mesin terbang pertama pada tahun 400 SM.

“Kami ingin Archytas menjadi UAV terbaik di kelasnya,” kata Nikos Koklas, Direktur Produk Baru HAI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional