MANCHESTER, 22 Oktober 2026 — Manchester United (MU) mengalami malam yang memalukan setelah dibantai 1-4 dari Como dalam pertandingan Liga Champions. Kekalahan tersebut memicu kritik dari kapten tim Bruno Fernandes terhadap pendekatan taktik pelatih Michael Carrick, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai masa depan sang pelatih.
Carrick meminta maaf kepada sekitar 700 suporter Manchester United yang datang langsung menyaksikan pertandingan. Seusai laga, ia berjalan melintasi lapangan sambil berulang kali mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk penyesalan atas penampilan tim.
Namun, pernyataan Fernandes usai pertandingan semakin memperbesar tekanan terhadap Carrick. Dalam wawancara dengan TNT Sports, gelandang asal Portugal itu menyoroti keputusan staf pelatih yang tidak menerapkan tekanan satu lawan satu secara konsisten.
“Instruksi pelatih adalah tidak melakukan pressing satu lawan satu dan terkadang membiarkan ruang di belakang untuk mencoba merebut bola. Namun, ketika terlalu banyak memberikan penguasaan bola kepada tim seperti ini, mereka bisa mendapatkan kepercayaan diri,” kata Fernandes.
Ketika ditanya apakah Carrick melakukan kesalahan dalam menentukan taktik, Fernandes tidak memberikan penilaian secara langsung.
“Itu urusan pelatih dan staf untuk menilainya, bukan saya. Terkadang, Anda harus lebih berani ketika berada di bawah tekanan, mengambil risiko dengan melakukan pressing tinggi dan membuat mereka tidak nyaman,” ujarnya.
Carrick kemudian menanggapi pernyataan tersebut dalam konferensi pers seusai pertandingan.
“Terlepas dari sistem atau taktik yang digunakan, jika Anda tidak berlari, tidak bergerak maju, dan tidak berlari kembali, Anda tidak akan menang,” kata Carrick.
Carrick Minta Maaf kepada Suporter
Carrick menegaskan bahwa penampilan Manchester United tidak dapat diterima dan meminta maaf kepada para pendukung klub.
“Saya harus meminta maaf kepada para suporter. Saya sangat peduli dengan klub sepak bola ini, sama seperti siapa pun, bahkan mungkin lebih, mengingat posisi saya dan betapa berharganya klub ini bagi saya,” kata mantan pemain Manchester United tersebut.
Ia menghampiri suporter untuk menunjukkan penghargaan atas dukungan mereka selama beberapa pekan terakhir.
Carrick mengaku memahami kekecewaan para penggemar karena dia juga pernah berada di posisi mereka sebagai pendukung yang menyaksikan pertandingan.
“Kami memiliki banyak nilai di klub ini, tentang apa yang kami wakili dan bagaimana kami ingin bermain. Kami bisa menang atau kalah, tetapi cara kami bermain malam ini tidak dapat diterima,” ujarnya.
Carrick juga menolak menjawab pertanyaan mengenai masa depannya. Ia mengatakan belum memikirkan posisinya dan ingin memusatkan perhatian pada kekecewaan suporter serta kondisi tim.
Manchester United Tanpa Kemenangan dalam Tujuh Laga
Kekalahan dari Como memperpanjang periode buruk Manchester United. Klub berjuluk Setan Merah itu kini melewati tujuh pertandingan tanpa kemenangan. Itu adalah catatan terburuk mereka sejak menelan delapan laga tanpa kemenangan di bawah Louis van Gaal pada 25 November hingga 28 Desember 2015.
Carrick sebelumnya mendapat kontrak dua tahun setelah memenangi 12 dari 17 pertandingan saat menangani tim pada musim lalu. Ia berhasil membawa Manchester United kembali ke Liga Champions setelah absen selama dua tahun.
Namun, performa tim pada musim ini justru merosot tajam. Manchester United berada di posisi ke-13 klasemen Liga Inggris, hanya unggul tiga poin dari Sunderland yang menempati posisi terbawah.
Setelah kalah mengejutkan dari tim promosi Hull pada laga pembuka, Manchester United sempat bangkit dengan mengalahkan Ipswich pada pekan berikutnya. Namun, sejak kemenangan tersebut, mereka belum kembali meraih kemenangan di Liga Inggris.
Satu-satunya kemenangan lain dalam 11 pertandingan di semua kompetisi mereka raih ketika menghadapi Sabah FK, juara Azerbaijan, di Liga Champions.
Kekalahan 1-4 dari Como juga hampir menyamai salah satu kekalahan terburuk Manchester United dalam sejarah kompetisi Eropa. Gol hiburan Joshua Zirkzee pada masa injury time mencegah hasil tersebut menjadi kekalahan terburuk kedua mereka.
Hasil ini terasa semakin menyakitkan bagi Manchester United. Pasalnya, ketika mereka terakhir kali merengkuh gelar juara Eropa pada 2008, Como masih berjuang di Serie D—kasta keempat sepak bola Italia—hanya di hadapan ratusan penonton.
Nico Paz Jadi Ancaman Utama Como
Bintang Como, Nico Paz, menjadi sosok penting dalam kemenangan tersebut. Ia membuka keunggulan hanya 118 detik setelah pertandingan dimulai dan menciptakan gol kedua di menit ke 57. Ia juga memberikan assist untuk gol ketiga bagi timnya.
Penampilan Paz turut memperlihatkan perbedaan performa kedua tim. Beberapa pengamat bahkan menilai ia memiliki kualitas yang dapat menarik minat klub-klub besar Eropa apabila memutuskan meninggalkan Como.
Sementara itu, Manchester United harus segera mengalihkan perhatian ke pertandingan Liga Inggris berikutnya melawan Bournemouth pada Minggu (25/10).
Bournemouth saat ini berada di posisi ke-15. Manchester United juga memiliki catatan kurang baik ketika menghadapi mereka di Old Trafford. Sebelum hasil imbang 4-4 yang dramatis pada musim lalu, Bournemouth mencatatkan kemenangan 3-0 dalam dua kunjungan sebelumnya ke markas Setan Merah.
Masa Depan Carrick Jadi Sorotan
Manchester United langsung kembali ke Manchester setelah pertandingan. Hingga kini, belum diketahui apakah manajemen akan mengambil keputusan terkait posisi Carrick sebelum laga melawan Bournemouth.
Di tengah buruknya penampilan tim, sejumlah suporter juga melontarkan nyanyian yang menentang keluarga Glazer dan Sir Jim Ratcliffe, yang terkait dengan kepemilikan klub.
Carrick dan direktur olahraga Jason Wilcox dinilai sebagian pihak tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas situasi tersebut.
Sementara itu, Wilcox juga harus bekerja dengan anggaran yang terbatas dari jajaran manajemen di atasnya, termasuk CEO Omar Berrada.
Carrick mengakui kekalahan tersebut sulit di terima, bukan hanya karena jumlah gol yang bersarang di gawang timnya, tetapi juga karena cara Manchester United bermain.
“Saya selalu memberikan yang terbaik. Saya peduli dengan klub ini. Seluruh hidup saya berkaitan dengannya. Hasilnya bisa baik atau tidak, tetapi saya benar-benar memberikan semua yang saya bisa,” ujarnya.
Pertandingan melawan Bournemouth kini menjadi ujian berikutnya bagi Manchester United untuk menghentikan tren negatif sekaligus meredakan tekanan terhadap Carrick.
















