Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Sports

Kalah 0-3 dari Bournemouth, Fans Manchester United Bela Carrick

badge-check

Sebuah spanduk bertuliskan “Standards” terbentang di tribun Stretford End. (Foto: BBC) Perbesar

Sebuah spanduk bertuliskan “Standards” terbentang di tribun Stretford End. (Foto: BBC)

MANCHESTER, 26 Oktober 2026 — Manchester United kembali menelan kekalahan telak setelah dibungkam Bournemouth 0-3 di Old Trafford, Minggu (25/10). Hasil ini memperpanjang periode buruk tim sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pelatih Michael Carrick, yang masa depannya kini tengah dibahas serius oleh petinggi klub.

Kekalahan tersebut menjadi bagian dari rentetan delapan pertandingan tanpa kemenangan, catatan terburuk Manchester United sejak musim 2015-2016. Setelah sebelumnya tumbang 1-4 dari Como, Setan Merah kembali gagal menunjukkan perbaikan yang dijanjikan Carrick.

Sebelum pertandingan melawan Bournemouth, Carrick mengatakan timnya akan tampil berbeda. Namun, kenyataan di lapangan justru kembali mengecewakan.

Carrick sendiri belum dapat memastikan apakah dirinya masih akan memimpin Manchester United saat bertandang ke markas Chelsea pada Minggu (8/11) pekan berikutnya.

“Tanggung jawab ada pada saya. Apa lagi yang bisa saya katakan saat ini? Saya sepenuhnya memahami situasinya, Saya tidak mengharapkan apa pun, baik keputusan yang menguntungkan maupun sebaliknya. Saya mencintai tempat ini dan akan selalu melakukan apa yang menurut saya terbaik bagi klub,” ujar Carrick.

Suporter Berbalik Menyerang Pemain dan Manajemen

Reaksi suporter di Old Trafford menunjukkan bahwa persoalan Manchester United tidak semata-mata berkaitan dengan posisi pelatih.

Sepanjang pertandingan, pendukung tuan rumah melontarkan nyanyian bernada protes terhadap keluarga Glazer dan Sir Jim Ratcliffe, bahkan sebelum laga berjalan satu menit.

Ketika Carrick meninggalkan lapangan menuju ruang ganti, suporter sempat berulang kali menyanyikan namanya. Namun, setelah sang pelatih menghilang dari pandangan, mereka mengalihkan kemarahan kepada para pemain.

Cemoohan terus terdengar hingga Diogo Dalot menjadi pemain terakhir yang meninggalkan lapangan. Reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan suporter terhadap performa dan komitmen para pemain yang mereka nilai tidak cukup baik, kurang berjuang, atau keduanya.

Sebuah spanduk bertuliskan “Standards” juga dibentangkan di tribun Stretford End. Spanduk tersebut menampilkan gambar tiga mantan kapten legendaris Manchester United, Bryan Robson, Eric Cantona, dan Roy Keane, sebagai pengingat mengenai standar yang seharusnya dijunjung tinggi klub.

Utang Keluarga Glazer Kembali Disorot

Keluarga Glazer telah lama menjadi sasaran utama kemarahan suporter Manchester United sejak mengambil alih klub melalui skema pembelian dengan utang pada 2005. Menurut laporan keuangan terbaru yang dikutip BBC, utang yang dikaitkan dengan pengambilalihan tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 1,15 miliar poundsterling.

Sementara itu, blogger keuangan sepak bola Swiss Ramble memperkirakan biaya bunga yang telah dibayarkan mencapai 852 juta poundsterling. Pada tahun keuangan terakhir, pembayaran bunga mencapai 37 juta poundsterling, naik dari 34 juta poundsterling pada tahun sebelumnya.

Sebagian suporter berpendapat bahwa uang tersebut seharusnya dapat digunakan untuk memperkuat skuad dengan mendatangkan pemain berkualitas.

Harapan sempat muncul ketika Ratcliffe, yang merupakan pendukung Manchester United sejak kecil, mencapai kesepakatan untuk menjadi pemegang saham minoritas pada Malam Natal 2023.

Namun, sejumlah keputusan setelah pengambilalihan tersebut justru memunculkan pertanyaan mengenai cara Ratcliffe dan jajaran manajemen menjalankan klub.

Pergantian Pelatih Berulang Kali Jadi Sorotan

Keputusan terkait posisi pelatih turut memperbesar kritik terhadap manajemen Manchester United.

Setelah menjuarai Piala FA 2024 secara mengejutkan dengan mengalahkan Manchester City, manajemen akhirnya mempertahankan Erik ten Hag meskipun sempat mempertimbangkan sejumlah alternatif. Klub kemudian menghabiskan lebih dari 200 juta poundsterling untuk merekrut pemain, termasuk Leny Yoro, Matthijs de Ligt, dan Manuel Ugarte.

Ten Hag kemudian dipecat pada Oktober 2024.

Mantan pelatih asal Belanda itu sebelumnya mengatakan kepada The Athletic bahwa klub mengingkari janji untuk tidak menjual Scott McTominay, pemain jebolan akademi yang memperkuat tim nasional Skotlandia. Penjualan tersebut dilakukan untuk membantu membiayai kepindahan Ugarte dari Paris Saint-Germain dengan nilai 50 juta poundsterling.

Setelah Ten Hag pergi, Manchester United membujuk Ruben Amorim meninggalkan Sporting di tengah musim, meskipun sang pelatih sebenarnya ingin menunggu hingga musim panas.

Manajemen tetap mempertahankan Amorim setelah Manchester United finis di posisi ke-15, pencapaian yang sangat buruk bagi klub. Ia juga tetap mendapat dukungan setelah tim tersingkir dari Piala Liga Inggris akibat kalah dari Grimsby Town, klub yang saat itu berkompetisi di League Two.

Namun, Amorim akhirnya dipecat pada Januari setelah berselisih dengan direktur sepak bola Jason Wilcox mengenai pendekatan permainan.

Carrick kemudian ditunjuk untuk menangani tim hingga akhir musim. Ia akhirnya mendapatkan jabatan permanen setelah berhasil membawa Manchester United kembali ke Liga Champions setelah absen selama dua tahun.

Jika Carrick kembali dipecat, Manchester United akan mengalami tiga pergantian pelatih dalam tiga musim. Situasi itu berpotensi semakin merusak citra manajemen klub.

Jason Wilcox dan Omar Berrada Ikut Jadi Sasaran Kritik

Direktur sepak bola Jason Wilcox juga menjadi sasaran kemarahan suporter. Ia direkrut dari Southampton setelah pengambilalihan oleh Ratcliffe dan kemudian mendapat peran lebih besar menyusul pemecatan Dan Ashworth.

Banyak pendukung menyalahkan Wilcox atas kebijakan perekrutan pemain belakangan ini, meskipun anggaran transfer klub ditetapkan pada tingkat yang jauh lebih tinggi.

Kepala eksekutif Omar Berrada, yang sebelumnya bekerja bersama Wilcox di Manchester City, juga berada di Old Trafford saat kekalahan dari Bournemouth terjadi. Kehadiran sejumlah petinggi yang memiliki hubungan dengan rival sekota itu turut menjadi bahan kritik ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.

Suporter bahkan menyanyikan protes yang menyinggung Manchester City dan persoalan pelanggaran aturan keuangan Premier League yang melibatkan klub tersebut. Berrada sendiri tidak terlibat dalam proses hukum terkait pelanggaran itu.

Tiket dan Rencana Stadion Baru Tambah Memicu Kemarahan

Persoalan lain yang memicu ketidakpuasan adalah penyelidikan terkait praktik penjualan kembali tiket yang diluncurkan pada musim panas.

Kelompok-kelompok suporter utama mengecam langkah tersebut. Manajemen menyatakan penyelidikan dilakukan untuk memberantas calo tiket. Sedangkan sebagian pendukung menilai kebijakan itu berpotensi menyingkirkan penonton reguler demi penjualan tiket korporat.

Klub membantah tuduhan tersebut, tetapi penjelasan manajemen belum berhasil meredakan ketidakpuasan suporter.

Rencana pembangunan stadion baru berkapasitas 100.000 penonton juga menuai penolakan. Manchester United mengklaim survei mereka menunjukkan mayoritas responden mendukung pembangunan stadion baru.

Proyek tersebut diperkirakan menelan biaya lebih dari 2 miliar poundsterling. Klub juga telah mengeluarkan 63,5 juta poundsterling untuk membeli lahan pada awal tahun ini.

Namun, sebagian pendukung meragukan angka dan rencana yang disampaikan manajemen. Dalam pertandingan melawan Bournemouth, suporter di Stretford End juga menyuarakan penolakan terhadap gagasan stadion baru tersebut.

Masalah Manchester United Lebih Besar dari Pelatih

Carrick mengakui tanggung jawab atas hasil buruk Manchester United berada di pundaknya. Namun, rentetan kekalahan dan reaksi keras dari tribun memperlihatkan bahwa krisis klub jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan siapa yang duduk di kursi pelatih.

Ketidakpuasan terhadap kepemilikan, utang, perekrutan pemain, kebijakan tiket, dan rencana stadion baru telah menumpuk menjadi persoalan yang melibatkan hampir seluruh lapisan klub.

Pergantian pelatih mungkin menjadi salah satu pilihan manajemen, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan mendasar tersebut. Kekalahan 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford menjadi gambaran terbaru dari krisis yang kini dihadapi Manchester United, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Real Madrid Menang di El Clasico, Barcelona Tumbang 1-2

26 Okt 2026 - 11:04 WIB

Real Madrid Menang di El Clasico, Barcelona Tumbang 1-2

Menangi GP Amerika, Kimi Antonelli di Ambang Gelar Juara Dunia F1

26 Okt 2026 - 10:39 WIB

Menangi GP Amerika, Kimi Antonelli di Ambang Gelar Juara Dunia F1

Asian Games di Jepang Banyak Masalah, Apa Penyebabnya?

23 Okt 2026 - 10:41 WIB

Asian Games di Jepang Banyak Masalah, Apa Penyebabnya?

Angel Reese Bawa Atlanta Dream Kalahkan Golden State Valkyries di Game 3 Final WNBA

22 Okt 2026 - 09:57 WIB

Angel Reese Bawa Atlanta Dream Kalahkan Golden State Valkyries di Game 3 Final WNBA

MU Dibantai Como 1-4, Bruno Fernandes Kritik Taktik Carrick

22 Okt 2026 - 07:17 WIB

MU Dibantai Como 1-4, Bruno Fernandes Kritik Taktik Carrick
Trending di Sports