Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Aksi Solidaritas Palestina, 90.000 Warga Sydney Turun ke Jalan

badge-check


					Puluhan ribu pengunjuk rasa melakukan aksi long march melintasi Jembatan Sydney Harbour pada hari Minggu sebagai bagian dari demonstrasi pro-Palestina. (foto: THE GUARDIAN/Matthew Abbott) Perbesar

Puluhan ribu pengunjuk rasa melakukan aksi long march melintasi Jembatan Sydney Harbour pada hari Minggu sebagai bagian dari demonstrasi pro-Palestina. (foto: THE GUARDIAN/Matthew Abbott)

Sydney – Di tengah hujan deras yang mengguyur, puluhan ribu orang memadati Jembatan Harbour yang ikonik di Sydney, Minggu (3/8/2025), dalam aksi solidaritas Palestina bertajuk March for Humanity. Aksi ini menyerukan penghentian kekerasan dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang kini menghadapi krisis kemanusiaan yang makin memburuk.

Sudah hampir dua tahun konflik berkecamuk di wilayah tersebut. Otoritas Palestina mencatat lebih dari 60.000 warga Gaza telah tewas sejak perang dimulai. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan kekurangan pangan parah di wilayah Gaza, yang menyebabkan banyak warga menghadapi ancaman kelaparan.

Dalam aksi yang diinisiasi oleh Palestine Action Group Sydney ini, para peserta membawa panci dan wajan sebagai simbol kelaparan. Mereka juga membawa payung dan beberapa di antaranya mengibarkan bendera Palestina sambil meneriakkan “Kami semua adalah Palestina”.

Solidaritas Global dan Dukungan dari Berbagai Kalangan

“Sudah cukup,” ujar Doug, pria berusia sekitar 60 tahun dengan rambut putih mencolok. “Ketika orang-orang dari seluruh dunia bersatu dan bersuara, kejahatan bisa dikalahkan.”

Peserta aksi berasal dari berbagai kalangan, mulai dari lanjut usia hingga keluarga dengan anak-anak. Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, juga terlihat turut serta dalam barisan massa.

Menurut Kepolisian New South Wales, jumlah peserta mencapai 90.000 orang—jauh melebihi perkiraan awal. Namun, panitia menyebut angka sebenarnya bisa mencapai 300.000 orang, berdasarkan unggahan mereka di media sosial.

Aksi ini sempat mendapat penolakan dari pemerintah negara bagian dan kepolisian setempat, yang menilai bahwa aksi ini dapat mengganggu lalu lintas dan membahayakan keselamatan publik. Namun, Mahkamah Agung New South Wales pada Sabtu mengizinkan aksi tetap berlangsung.

“Kami menurunkan lebih dari seribu personel,” ujar Wakil Komisaris Polisi Peter McKenna. “Dengan jumlah massa sebesar itu, tentu ada kekhawatiran akan desak-desakan. Tapi syukurlah, tak ada yang terluka. Tapi saya tak ingin ini terjadi lagi setiap Minggu dengan persiapan mendadak seperti ini,” tambahnya.

Aksi serupa juga berlangsung di Melbourne dengan pengamanan ketat dari pihak berwenang.

Tekanan Diplomatik Terhadap Israel Meningkat

Tekanan diplomatik terhadap Israel kian meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Prancis dan Kanada telah menyatakan akan mengakui negara Palestina, sementara Inggris menyatakan akan mengikuti langkah tersebut jika Israel tak segera menangani krisis kemanusiaan dan mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Israel mengecam langkah itu sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas, kelompok yang menguasai Gaza dan memulai serangan terhadap Israel pada Oktober 2023. Israel membantah menargetkan warga sipil dan menyangkal tudingan sengaja menyebabkan kelaparan. Mereka juga menuduh Hamas menyabotase bantuan kemanusiaan.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan dukungan terhadap solusi dua negara. Ia menegaskan bahwa penolakan Israel terhadap pengiriman bantuan dan serangan terhadap warga sipil “tidak bisa dibenarkan dan tidak boleh diabaikan.” Namun, pemerintah Australia hingga kini belum secara resmi mengakui negara Palestina.

Therese Curtis, perempuan berusia 80-an tahun yang turut serta dalam aksi, menyampaikan alasannya ikut turun ke jalan.

“Saya punya hak sebagai manusia dan mendapat layanan kesehatan yang layak di Australia,” ujarnya. “Tapi warga Palestina rumah sakitnya dibom. Mereka bahkan tak mendapat hak dasar untuk dirawat. Saya turun ke jalan demi itu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional