Washington, D.C. — Pemerintah Amerika Serikat menyatakan tengah berkomunikasi dengan India dan Pakistan dalam upaya mendorong kedua negara mencapai penyelesaian yang “bertanggung jawab” di tengah meningkatnya ketegangan usai serangan militan di Kashmir.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS menyebutkan bahwa Washington terus memantau situasi dengan cermat dan berkomunikasi dengan New Delhi dan Islamabad di berbagai tingkatan, Minggu (27/4/2025).
“Amerika Serikat mendorong semua pihak untuk bekerja sama menuju penyelesaian yang bertanggung jawab,” kata juru bicara tersebut. AS juga menegaskan dukungannya kepada India dan mengecam keras serangan teror yang terjadi di Pahalgam, Kashmir.
Pada 22 April lalu, serangan di wilayah Kashmir yang dikelola India menewaskan lebih dari dua puluh orang. India menuding Pakistan berada di balik aksi tersebut. Namun, Pakistan membantah keterlibatan dan menyerukan investigasi netral.
Pergeseran Hubungan Strategis antara Amerika Serikat, India, dan Pakistan
India kini menjadi mitra penting bagi Amerika Serikat dalam upaya Washington mengimbangi pengaruh Tiongkok yang kian menguat di Asia. Sebaliknya, hubungan AS dengan Pakistan disebut semakin merenggang, terutama setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada 2021.
“India saat ini adalah mitra yang jauh lebih dekat dengan Amerika Serikat dibandingkan Pakistan,” ujar Michael Kugelman, analis Asia Selatan berbasis di Washington. Kugelman juga memperingatkan bahwa jika India melakukan aksi militer balasan, Amerika Serikat kemungkinan besar akan memahami langkah tersebut atas dasar pemberantasan terorisme, tanpa berupaya menahannya.
Namun demikian, mengingat kesibukan diplomatik AS dalam konflik Rusia-Ukraina dan perang di Gaza, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mungkin tidak akan segera turun tangan dalam meredakan ketegangan India-Pakistan.
Hussain Haqqani, mantan Duta Besar Pakistan untuk AS, menilai tidak ada tanda-tanda bahwa Washington saat ini berminat untuk mendinginkan situasi.
“India punya keluhan lama tentang terorisme lintas batas. Pakistan punya ketakutan lama bahwa India ingin menghancurkan negaranya. Setiap beberapa tahun, kedua negara memanas. Kali ini, tidak ada ketertarikan dari AS untuk turun tangan,” kata Haqqani.
Situasi Memburuk
Wilayah Kashmir, yang mayoritas penduduknya Muslim, diklaim penuh oleh India dan Pakistan namun masing-masing hanya menguasai sebagian. Keduanya telah berperang beberapa kali memperebutkan kawasan tersebut.
PM India Narendra Modi, berjanji akan mengejar para pelaku serangan dan akan memberikan “hukuman yang melampaui bayangan mereka.” Desakan untuk melakukan aksi militer terhadap Pakistan pun semakin menguat di dalam negeri India.
Setelah insiden itu, ketegangan meningkat tajam. Pakistan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan India. Sementara India menangguhkan Perjanjian Air Indus 1960 yang mengatur pembagian sumber air antara kedua negara. Kontak senjata juga kembali terjadi di sepanjang perbatasan de facto setelah empat tahun masa tenang.
Kelompok militan Kashmir Resistance, yang dikenal juga sebagai The Resistance Front, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Badan intelijen India menuding kelompok ini sebagai perpanjangan tangan dari organisasi militan berbasis Pakistan seperti Lashkar-e-Taiba dan Hizbul Mujahideen.
Ned Price, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS di era Presiden Joe Biden, mengingatkan bahwa kesan AS akan mendukung India “dengan segala cara” dapat memperburuk ketegangan.
“Jika India merasa bahwa pemerintahan Trump akan mendukung mereka sepenuhnya apapun yang terjadi, kita mungkin menghadapi eskalasi lebih lanjut dan kekerasan baru antara dua negara bersenjata nuklir,” ujar Price.