Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

BYD Pangkas Produksi dan Tunda Ekspansi, Pasar Mobil Listrik Mulai Lesu?

badge-check


					BYD Sealion 7 di Indonesia Internasional Motor Show 2025. Perbesar

BYD Sealion 7 di Indonesia Internasional Motor Show 2025.

Shanghai – Produsen kendaraan listrik (EV) terbesar dunia, BYD asal China, dikabarkan memperlambat laju produksi dan ekspansi pabriknya dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan itu mengambil langkah ini di tengah menumpuknya inventaris dan ketatnya persaingan harga di pasar domestik, menurut laporan Reuters pada Rabu (25/6/2025).

Dua sumber internal menyebutkan bahwa BYD telah mengurangi shift kerja di sejumlah pabrik, termasuk membatalkan shift malam dan menurunkan kapasitas produksi hingga sepertiga dari kapasitas normal. Kebijakan BYD ini telah diterapkan setidaknya di empat fasilitas produksi dan disertai dengan penangguhan rencana ekspansi jalur produksi baru.

Langkah tersebut menandai adanya pergeseran signifikan setelah beberapa tahun terakhir BYD mengalami lonjakan pertumbuhan penjualan yang mengantarkannya menyalip Tesla sebagai produsen EV terbesar dunia. Namun, kondisi pasar dalam negeri yang semakin jenuh dan melambatnya penjualan memaksa BYD untuk mengambil kebijakan efisiensi.

Pada tahun 2024, BYD berhasil menjual 4,27 juta kendaraan, sebagian besar di pasar domestik. Tahun ini, mereka menargetkan peningkatan penjualan hampir 30% menjadi 5,5 juta unit. Namun, data dari Asosiasi Produsen Mobil China menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tahunan BYD melambat drastis pada April menjadi hanya 13%. Pada Mei, angkanya semakin turun menjadi 0,2%—tingkat pertumbuhan paling lambat sejak Februari 2024.

Salah satu narasumber menyebut kebijakan pengurangan produksi ini bertujuan untuk menghemat biaya. Sementara narasumber lain mengungkapkan bahwa BYD mengambil kebijakan tersebut karena penjualan tidak mencapai target.

Harga Saham dan Stok Menumpuk

Setelah kabar ini mencuat, saham BYD yang terdaftar di Hong Kong sempat turun hampir 1% di perdagangan Rabu sore, meskipun sebelumnya sempat menguat hingga 2,6%.

Asosiasi dealer otomotif China melakukan survei pada Mei 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata stok di dealer BYD mencapai 3,21 bulan—tertinggi di antara semua merek di China. Sebagai perbandingan, rata-rata stok di seluruh industri hanya sebesar 1,38 bulan.

Salah satu dealer besar BYD di Provinsi Shandong dilaporkan telah tutup, dengan sedikitnya 20 tokonya ditemukan kosong atau tidak beroperasi.

Desakan dan Persaingan Ketat di Industri

Kondisi ini mendorong Asosiasi Dealer Mobil China menyerukan kepada produsen mobil agar tidak lagi membebani dealer dengan pasokan berlebihan. Mereka juga meminta agar target produksi ditetapkan secara lebih realistis. Kompetisi harga yang semakin sengit disebut telah menekan arus kas dan profitabilitas industri.

Para dealer juga mendesak agar insentif tunai dari pabrikan dibayarkan maksimal dalam 30 hari untuk meringankan tekanan keuangan.

Akibat persaingan harga yang memanas, regulator China mulai meningkatkan pengawasan terhadap sektor otomotif. Praktik penjualan massal dengan potongan harga telah berdampak negatif pada seluruh rantai pasok industri, termasuk pemasok, produsen, dan jaringan distribusi.

Andalkan Ekspor untuk Menjaga Momentum

Guna menjaga momentum pertumbuhan, BYD dan produsen mobil China lainnya kini mulai memperkuat ekspansi ke pasar luar negeri. Dalam lima bulan pertama di tahun 2025, BYD mencatat penjualan sebanyak 1,76 juta unit. Sekitar 20% dari total tersebut merupakan ekspor ke pasar global.

Meskipun dihadapkan pada tantangan di pasar dalam negeri, BYD tetap mempertahankan strategi peluncuran model baru dengan harga terjangkau. Harga awal model termurahnya kini hanya 55.800 yuan (sekitar Rp112 juta). Hal itu kemudian memicu aksi diskon besar-besaran dari pesaing dan penurunan saham produsen otomotif lainnya di China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional