Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

BYD Pangkas Produksi dan Tunda Ekspansi, Pasar Mobil Listrik Mulai Lesu?

badge-check


					BYD Sealion 7 di Indonesia Internasional Motor Show 2025. Perbesar

BYD Sealion 7 di Indonesia Internasional Motor Show 2025.

Shanghai – Produsen kendaraan listrik (EV) terbesar dunia, BYD asal China, dikabarkan memperlambat laju produksi dan ekspansi pabriknya dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan itu mengambil langkah ini di tengah menumpuknya inventaris dan ketatnya persaingan harga di pasar domestik, menurut laporan Reuters pada Rabu (25/6/2025).

Dua sumber internal menyebutkan bahwa BYD telah mengurangi shift kerja di sejumlah pabrik, termasuk membatalkan shift malam dan menurunkan kapasitas produksi hingga sepertiga dari kapasitas normal. Kebijakan BYD ini telah diterapkan setidaknya di empat fasilitas produksi dan disertai dengan penangguhan rencana ekspansi jalur produksi baru.

Langkah tersebut menandai adanya pergeseran signifikan setelah beberapa tahun terakhir BYD mengalami lonjakan pertumbuhan penjualan yang mengantarkannya menyalip Tesla sebagai produsen EV terbesar dunia. Namun, kondisi pasar dalam negeri yang semakin jenuh dan melambatnya penjualan memaksa BYD untuk mengambil kebijakan efisiensi.

Pada tahun 2024, BYD berhasil menjual 4,27 juta kendaraan, sebagian besar di pasar domestik. Tahun ini, mereka menargetkan peningkatan penjualan hampir 30% menjadi 5,5 juta unit. Namun, data dari Asosiasi Produsen Mobil China menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tahunan BYD melambat drastis pada April menjadi hanya 13%. Pada Mei, angkanya semakin turun menjadi 0,2%—tingkat pertumbuhan paling lambat sejak Februari 2024.

Salah satu narasumber menyebut kebijakan pengurangan produksi ini bertujuan untuk menghemat biaya. Sementara narasumber lain mengungkapkan bahwa BYD mengambil kebijakan tersebut karena penjualan tidak mencapai target.

Harga Saham dan Stok Menumpuk

Setelah kabar ini mencuat, saham BYD yang terdaftar di Hong Kong sempat turun hampir 1% di perdagangan Rabu sore, meskipun sebelumnya sempat menguat hingga 2,6%.

Asosiasi dealer otomotif China melakukan survei pada Mei 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata stok di dealer BYD mencapai 3,21 bulan—tertinggi di antara semua merek di China. Sebagai perbandingan, rata-rata stok di seluruh industri hanya sebesar 1,38 bulan.

Salah satu dealer besar BYD di Provinsi Shandong dilaporkan telah tutup, dengan sedikitnya 20 tokonya ditemukan kosong atau tidak beroperasi.

Desakan dan Persaingan Ketat di Industri

Kondisi ini mendorong Asosiasi Dealer Mobil China menyerukan kepada produsen mobil agar tidak lagi membebani dealer dengan pasokan berlebihan. Mereka juga meminta agar target produksi ditetapkan secara lebih realistis. Kompetisi harga yang semakin sengit disebut telah menekan arus kas dan profitabilitas industri.

Para dealer juga mendesak agar insentif tunai dari pabrikan dibayarkan maksimal dalam 30 hari untuk meringankan tekanan keuangan.

Akibat persaingan harga yang memanas, regulator China mulai meningkatkan pengawasan terhadap sektor otomotif. Praktik penjualan massal dengan potongan harga telah berdampak negatif pada seluruh rantai pasok industri, termasuk pemasok, produsen, dan jaringan distribusi.

Andalkan Ekspor untuk Menjaga Momentum

Guna menjaga momentum pertumbuhan, BYD dan produsen mobil China lainnya kini mulai memperkuat ekspansi ke pasar luar negeri. Dalam lima bulan pertama di tahun 2025, BYD mencatat penjualan sebanyak 1,76 juta unit. Sekitar 20% dari total tersebut merupakan ekspor ke pasar global.

Meskipun dihadapkan pada tantangan di pasar dalam negeri, BYD tetap mempertahankan strategi peluncuran model baru dengan harga terjangkau. Harga awal model termurahnya kini hanya 55.800 yuan (sekitar Rp112 juta). Hal itu kemudian memicu aksi diskon besar-besaran dari pesaing dan penurunan saham produsen otomotif lainnya di China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional