Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

China Tolak Hentikan Impor Minyak Rusia dan Iran, AS Ancam Tarif 100 Persen

badge-check


					China Tolak Hentikan Impor Minyak Rusia dan Iran, AS Ancam Tarif 100 Persen Perbesar

Washington – Desakan Amerika Serikat agar China menghentikan pembelian minyak dari Rusia dan Iran menjadi pengganjal perundingan dagang antara kedua negara. Meski menunjukkan sinyal positif menuju kesepakatan, pemerintah China menegaskan bahwa isu energi merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang tak bisa diintervensi.

“China akan selalu menjamin pasokan energinya sesuai kepentingan nasional kami,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China di platform X, Rabu (30/7/2025). Pernyataan itu disampaikan sebagai respon menanggapi ancaman tarif impor sebesar 100 persen yang dilontarkan AS.

Pernyataan yang muncul di tengah optimisme kedua pihak usai dua hari bernegosiasi di Stockholm, Swedia, diklaim akan membawa kemajuan dalam meredakan tensi dagang. Namun, isu energi—khususnya pembelian minyak dari dua negara yang tengah dikenai sanksi berat oleh Washington—masih menjadi ganjalan serius.

“Paksaan dan tekanan tidak akan menghasilkan apa-apa. China akan dengan tegas mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya,” lanjut pernyataan resmi tersebut.

AS Tetap Desak, China Bertahan

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa posisi China sangat jelas dalam mempertahankan kedaulatannya terkait impor energi. “Kami tidak ingin mengganggu kedaulatan mereka, jadi mereka lebih memilih membayar tarif 100 persen,” ujar Bessent kepada CNBC, Kamis (31/7/2025).

Meski begitu, Bessent menyebut negosiasi belum menemui jalan buntu. “Saya percaya bahwa kita berada di jalur menuju kesepakatan,” ujarnya optimistis.

Analis politik Gabriel Wildau dari konsultan Teneo menyatakan keraguannya bahwa Presiden Donald Trump benar-benar akan menerapkan tarif maksimal tersebut. “Ancaman seperti itu justru bisa menggagalkan semua kemajuan dan merusak peluang Trump untuk meneken kesepakatan dagang dengan Xi Jinping pada musim gugur nanti,” katanya.

Dukungan Strategis China ke Rusia

Langkah AS mendesak pembatasan penjualan minyak Rusia dan Iran bertujuan memutus sumber pendanaan utama kedua negara, yang masing-masing terlibat konflik besar di Ukraina dan Timur Tengah. Namun, China justru menunjukkan dukungan strategis terhadap Rusia.

Danny Russel dari Asia Society Policy Institute menyebut bahwa Xi Jinping melihat impor minyak murah dari Rusia dan Iran sebagai sumber energi vital sekaligus bentuk solidaritas strategis dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. “Beijing tak bisa begitu saja meninggalkan sumber minyak ini, apalagi dengan harga diskon,” ujarnya.

Menurut laporan dari Badan Informasi Energi AS pada 2024, sekitar 80–90 persen ekspor minyak Iran menuju China. Dengan volume lebih dari 1 juta barel per hari. Pada April lalu, impor minyak Rusia oleh China bahkan melonjak 20 persen dari bulan sebelumnya.

Tak Hanya China, Tapi juga India

AS tak hanya menyoroti China. India pun mendapat tekanan karena terus membeli minyak dari Rusia. Presiden Trump baru-baru ini mengumumkan rencana pengenaan tarif 25 persen atas produk India, dengan tambahan bea impor karena kebijakan energinya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India menanggapi dengan menyebut hubungan India–Rusia sebagai “stabil dan telah teruji waktu.”

Stephen Miller, penasihat senior Gedung Putih, menyebut bahwa publik akan terkejut mengetahui India sejajar dengan China dalam volume pembelian minyak Rusia. “Kita harus realistis dalam menangani pendanaan perang ini,” ujarnya di kanal Fox News.

Kongres Dorong Sanksi Baru

Di dalam negeri, tekanan kepada Gedung Putih juga meningkat. Senator Lindsey Graham mendorong RUU pengenaan tarif hingga 500 persen kepada negara mana pun yang membeli produk energi dari Rusia. RUU tersebut telah mendapat dukungan oleh 84 dari total 100 senator lintas partai.

“Tujuan undang-undang ini adalah memutus rantai dukungan finansial dari China ke mesin perang Putin,” kata Graham dalam pernyataan bulan Juni lalu.

Walaupun RUU itu untuk sementara ditangguhkan, Partai Republik menyatakan siap bergerak jika Presiden Trump memberi lampu hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional