Washington – Desakan Amerika Serikat agar China menghentikan pembelian minyak dari Rusia dan Iran menjadi pengganjal perundingan dagang antara kedua negara. Meski menunjukkan sinyal positif menuju kesepakatan, pemerintah China menegaskan bahwa isu energi merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang tak bisa diintervensi.
“China akan selalu menjamin pasokan energinya sesuai kepentingan nasional kami,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China di platform X, Rabu (30/7/2025). Pernyataan itu disampaikan sebagai respon menanggapi ancaman tarif impor sebesar 100 persen yang dilontarkan AS.
Pernyataan yang muncul di tengah optimisme kedua pihak usai dua hari bernegosiasi di Stockholm, Swedia, diklaim akan membawa kemajuan dalam meredakan tensi dagang. Namun, isu energi—khususnya pembelian minyak dari dua negara yang tengah dikenai sanksi berat oleh Washington—masih menjadi ganjalan serius.
“Paksaan dan tekanan tidak akan menghasilkan apa-apa. China akan dengan tegas mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya,” lanjut pernyataan resmi tersebut.
AS Tetap Desak, China Bertahan
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa posisi China sangat jelas dalam mempertahankan kedaulatannya terkait impor energi. “Kami tidak ingin mengganggu kedaulatan mereka, jadi mereka lebih memilih membayar tarif 100 persen,” ujar Bessent kepada CNBC, Kamis (31/7/2025).
Meski begitu, Bessent menyebut negosiasi belum menemui jalan buntu. “Saya percaya bahwa kita berada di jalur menuju kesepakatan,” ujarnya optimistis.
Analis politik Gabriel Wildau dari konsultan Teneo menyatakan keraguannya bahwa Presiden Donald Trump benar-benar akan menerapkan tarif maksimal tersebut. “Ancaman seperti itu justru bisa menggagalkan semua kemajuan dan merusak peluang Trump untuk meneken kesepakatan dagang dengan Xi Jinping pada musim gugur nanti,” katanya.
Dukungan Strategis China ke Rusia
Langkah AS mendesak pembatasan penjualan minyak Rusia dan Iran bertujuan memutus sumber pendanaan utama kedua negara, yang masing-masing terlibat konflik besar di Ukraina dan Timur Tengah. Namun, China justru menunjukkan dukungan strategis terhadap Rusia.
Danny Russel dari Asia Society Policy Institute menyebut bahwa Xi Jinping melihat impor minyak murah dari Rusia dan Iran sebagai sumber energi vital sekaligus bentuk solidaritas strategis dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. “Beijing tak bisa begitu saja meninggalkan sumber minyak ini, apalagi dengan harga diskon,” ujarnya.
Menurut laporan dari Badan Informasi Energi AS pada 2024, sekitar 80–90 persen ekspor minyak Iran menuju China. Dengan volume lebih dari 1 juta barel per hari. Pada April lalu, impor minyak Rusia oleh China bahkan melonjak 20 persen dari bulan sebelumnya.
Tak Hanya China, Tapi juga India
AS tak hanya menyoroti China. India pun mendapat tekanan karena terus membeli minyak dari Rusia. Presiden Trump baru-baru ini mengumumkan rencana pengenaan tarif 25 persen atas produk India, dengan tambahan bea impor karena kebijakan energinya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India menanggapi dengan menyebut hubungan India–Rusia sebagai “stabil dan telah teruji waktu.”
Stephen Miller, penasihat senior Gedung Putih, menyebut bahwa publik akan terkejut mengetahui India sejajar dengan China dalam volume pembelian minyak Rusia. “Kita harus realistis dalam menangani pendanaan perang ini,” ujarnya di kanal Fox News.
Kongres Dorong Sanksi Baru
Di dalam negeri, tekanan kepada Gedung Putih juga meningkat. Senator Lindsey Graham mendorong RUU pengenaan tarif hingga 500 persen kepada negara mana pun yang membeli produk energi dari Rusia. RUU tersebut telah mendapat dukungan oleh 84 dari total 100 senator lintas partai.
“Tujuan undang-undang ini adalah memutus rantai dukungan finansial dari China ke mesin perang Putin,” kata Graham dalam pernyataan bulan Juni lalu.
Walaupun RUU itu untuk sementara ditangguhkan, Partai Republik menyatakan siap bergerak jika Presiden Trump memberi lampu hijau.