Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

China Turunkan Tarif untuk Sejumlah Barang AS, Perang Dagang Mereda?

badge-check


					China Turunkan Tarif untuk Sejumlah Barang AS, Perang Dagang Mereda? Perbesar

Beijing – Pemerintah China mulai turunkan tarif sejumlah produk impor dari Amerika Serikat dari tambahan sebesar 125 persen, sekaligus meminta perusahaan-perusahaan menyusun daftar barang esensial yang perlu dibebaskan dari bea masuk.

Informasi yang diperoleh dari beberapa pelaku usaha menyebutkan bahwa inisiatif ini muncul setelah serangkaian pernyataan menenangkan dari pemerintah AS, menandai upaya kedua negara untuk meredakan ketegangan yang telah membekukan banyak aktivitas perdagangan global dan memicu kekhawatiran akan resesi dunia.

“Sebagai langkah timbal balik, kebijakan ini berpotensi menjadi jalan menuju penurunan eskalasi konflik,” kata Alfredo Montufar-Helu, penasihat senior di China Center milik lembaga pemikir Conference Board. Namun, ia juga menambahkan bahwa hingga kini tidak satu pun dari kedua negara menunjukkan niat menjadi pihak pertama yang menawarkan kesepakatan.

Dialog Tertutup dan Pernyataan Berbeda

Meskipun belum ada pernyataan resmi dari otoritas China terkait pengecualian tarif ini, sejumlah perusahaan telah menerima pemberitahuan langsung.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa perundingan mengenai tarif sedang berlangsung, bahkan mengklaim bahwa Presiden China Xi Jinping telah menghubunginya. Namun, pihak Beijing membantah pernyataan tersebut.

“Dia menelepon. Saya tidak melihatnya sebagai tanda kelemahan,” ujar Trump, tanpa merinci waktu atau isi pembicaraan tersebut.

Sinyal positif dari Beijing dan Washington sempat mengangkat nilai tukar dolar AS dan menguatkan pasar saham di Hong Kong dan Jepang. Namun, pasar Eropa dan AS cenderung merespons datar.

Konsultasi dengan Dunia Usaha

Kementerian Perdagangan China saat ini mengumpulkan daftar produk yang bisa dikecualikan dari tarif. Lebih dari 80 perusahaan asing dan kamar dagang telah diajak berdiskusi mengenai dampak tarif AS terhadap investasi dan operasional mereka di China.

Pemerintah China juga menanyakan kepada perusahaan-perusahaan, produk AS apa saja yang tidak bisa digantikan dari negara lain. Sejumlah perusahaan farmasi mengaku sudah mendapat izin untuk mengimpor obat-obatan tanpa tarif tambahan.

Produsen mesin pesawat asal Prancis, Safran, juga menyatakan telah menerima informasi bahwa beberapa komponen seperti mesin dan roda pendarat telah dibebaskan dari tarif. Sementara itu, sumber dari perusahaan desain cip menyebutkan bahwa asosiasi industri semikonduktor China menginformasikan pembebasan tarif untuk delapan jenis cip mikro.

Menurut sumber tersebut, dampak tarif terhadap sektor cip ternyata lebih besar dari perkiraan awal. Maka itu, pembebasan tarif diharapkan bisa meringankan beban perusahaan-perusahaan China dan mengurangi tekanan terhadap ekspor AS.

Kamar Dagang Uni Eropa di China juga telah mengajukan permintaan serupa dan tengah menunggu respons.

Di media sosial China, beredar kabar China akan turunkan tarif dari 131 kategori produk. Produk-produk itu meliputi vaksin, bahan kimia, mesin pesawat, serta delapan jenis cip. Namun, kebenaran daftar ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Menurut Huatai Securities, total nilai impor produk dalam daftar tersebut mencapai 45 miliar dollar AS pada tahun lalu.

Tarik Menarik Dua Ekonomi Besar

Meskipun AS telah memberikan pengecualian tarif untuk beberapa barang elektronik, Beijing tetap menegaskan kesiapannya menghadapi konflik hingga akhir. Kecuali Washington mencabut tarif sebesar 145 persen yang masih diberlakukan.

Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik China menunjukkan tekanan, dengan meningkatnya angka pengangguran dan ancaman deflasi. China memang mencatat surplus perdagangan mencapai satu triliun dollar AS pada 2024. Namun tetap bergantung pada sejumlah impor penting dari AS, seperti etana untuk bahan baku plastik dan obat-obatan tertentu.

Permintaan penghapusan tarif pun datang dari pelaku industri petrokimia, mengingat AS merupakan satu-satunya pemasok utama bahan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional