Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Uji Coba Kapal Drone AS Alami Insiden di California

badge-check


					Kapal patroli HMS Pursuer milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, bersama pengintai otonom global (GARC) dalam latihan Baltic Operations (BALTOPS) 2025 di Laut Baltik pada 12 Juni 2025. (foto: U.S. Navy) Perbesar

Kapal patroli HMS Pursuer milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, bersama pengintai otonom global (GARC) dalam latihan Baltic Operations (BALTOPS) 2025 di Laut Baltik pada 12 Juni 2025. (foto: U.S. Navy)

NEW YORK, 21 Agustus 2025 – Uji coba kapal drone militer Amerika Serikat (AS) di lepas pantai California bulan lalu berakhir dengan insiden. Dua kapal tanpa awak otonom yang tengah diuji justru mengalami tabrakan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan teknologi tersebut.

Peristiwa itu terjadi saat salah satu kapal drone berhenti mendadak akibat gangguan perangkat lunak. Tak lama berselang, sebuah kapal drone lain menabrak lambung kapal yang tengah terhenti tersebut. Drone itu bahkan sempat melompat ke atas dek sebelum akhirnya terjatuh kembali ke laut.

Kapal yang terlibat merupakan produksi dua perusahaan teknologi pertahanan, Saronic dan BlackSea Technologies. Menurut sejumlah sumber, insiden itu bukan yang pertama. Pada uji coba sebelumnya, sebuah kapal pendukung terbalik setelah ditarik kapal drone BlackSea yang tiba-tiba melaju kencang. Kapten kapal tercebur ke laut, namun berhasil diselamatkan.

Gangguan Perangkat Lunak dan Kesalahan Manusia

Sumber yang mengetahui langsung kejadian itu menyebutkan, serangkaian insiden terjadi akibat kombinasi antara kegagalan perangkat lunak dan kesalahan manusia, termasuk gangguan komunikasi antara sistem di kapal dengan perangkat lunak otonom.

Baik Angkatan Laut AS, Saronic, maupun BlackSea enggan memberikan komentar. Pentagon juga tidak menjawab pertanyaan terkait penyebab kecelakaan maupun kontrak pengadaan yang ditangguhkan dengan salah satu penyedia perangkat lunak, L3Harris.

Meski begitu, L3Harris menegaskan pihaknya tetap percaya pada keamanan dan keandalan produk perangkat lunak kendali otonom yang mereka kembangkan.

Dorongan Membangun Armada Otonom

Ketertarikan AS pada drone laut berangkat dari perang di Ukraina, di mana drone maritim terbukti mampu melemahkan armada Laut Hitam Rusia. Namun, berbeda dengan Ukraina yang lebih banyak menggunakan drone kendali jarak jauh dengan harga relatif murah, AS menargetkan pengembangan kapal drone otonom penuh yang dapat beroperasi dalam jumlah besar tanpa kendali manusia.

Program ini masuk dalam inisiatif besar Pentagon senilai 1 miliar dolar AS bernama Replicator, yang diluncurkan pada 2023 untuk mempercepat pengadaan ribuan drone udara dan maritim. Angkatan Laut AS sendiri telah menggelontorkan sedikitnya 160 juta dolar AS untuk BlackSea. Sementara Saronic memperoleh pendanaan besar dari investor swasta namun belum mendapatkan kontrak utama.

Pelaksana tugas Kepala Operasi Angkatan Laut, Laksamana Jim Kilby, dalam kunjungan ke fasilitas BlackSea pada Juni lalu menyebut sistem ini kelak akan “memperluas jangkauan armada, meningkatkan kesadaran situasional, dan menambah efektivitas tempur.”

Diguncang Masalah Internal

Namun, upaya modernisasi ini tidak lepas dari masalah internal. Unit pengadaan kapal drone Angkatan Laut, Program Executive Office Unmanned and Small Combatants (PEO USC), tengah ditinjau setelah serangkaian kegagalan. Bahkan, pemimpinnya, Laksamana Muda Kevin Smith, diberhentikan usai penyelidikan internal.

Sejumlah pejabat Pentagon juga tampak bersikap skeptis atas efektivitas program ini, termasuk soal biaya yang sangat besar. Lebih jauh, muncul kritik yang menyebut Angkatan Laut masih terbebani tradisi panjang dalam membangun kapal besar yang prosesnya cenderung lamban. Padahal, tuntutan zaman menuntut mereka bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi.

“Angkatan Laut berada di perairan yang belum pernah dijelajahi,” ujar T.X. Hammes, pakar senjata otonom dari Atlantic Council. “Mereka dituntut untuk beradaptasi cepat, padahal sistem selama ini terbiasa berjalan dengan keputusan yang memakan waktu bertahun-tahun.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional