Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Drone Ukraina Serang Moskow Jelang Kunjungan Presiden Xi Jinping

badge-check


					Personel militer Rusia berbaris saat latihan untuk parade militer memperingati 80 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua, di pusat kota Moskow, Rusia, pada 7 Mei 2025. Perbesar

Personel militer Rusia berbaris saat latihan untuk parade militer memperingati 80 tahun kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua, di pusat kota Moskow, Rusia, pada 7 Mei 2025.

Moskow – Ibu kota Rusia kembali menjadi sasaran serangan drone Ukraina untuk hari ketiga berturut-turut pada Rabu (7/5/2025), hanya beberapa jam sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan tiba untuk kunjungan kenegaraan. Serangan ini memaksa sejumlah bandara utama Moskow menutup sementara operasional mereka dan menyebabkan pembatalan berbagai penerbangan.

Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh sedikitnya 14 drone yang diduga diluncurkan Ukraina. Tidak ada laporan korban jiwa akibat serangan ini, namun gangguan terhadap infrastruktur penerbangan menjadi sorotan mengingat pentingnya momen diplomatik yang tengah berlangsung.

Kunjungan Xi Jinping Untuk Hadiri Parade Militer Rusia 9 Mei

Kunjungan Presiden Xi Jinping ke Moskow terjadi dalam suasana yang sensitif. Pemimpin negara ekonomi terbesar kedua dunia itu dijadwalkan hadir dalam parade militer besar-besaran di Lapangan Merah pada Jumat (9/5/2025), memperingati 80 tahun kemenangan Uni Soviet dan Sekutu atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. China merupakan pembeli terbesar minyak dan gas Rusia, serta dianggap sebagai penyokong utama ekonomi Moskow di tengah tekanan sanksi Barat akibat perang di Ukraina.

Dalam pernyataan resminya, Kremlin menyebut serangan drone tersebut sebagai “aksi terorisme” dari pihak Ukraina dan menegaskan bahwa dinas intelijen serta militer Rusia sedang melakukan segala upaya untuk menjamin keamanan selama peringatan besar ini berlangsung.

Sementara itu, pihak Ukraina menyampaikan penolakan terhadap parade militer tersebut. Kementerian Luar Negeri Ukraina mendesak negara-negara lain untuk tidak mengirimkan pasukan militernya ke parade di Moskow. Mereka menilai langkah tersebut bertentangan dengan prinsip netralitas dalam konflik yang sedang berlangsung.

Kementerian Luar Negeri China, ketika ditanya terkait serangan udara yang saling dilancarkan oleh Rusia dan Ukraina, memilih tidak mengomentari langsung. Melainkan hanya menyebut bahwa “prioritas utama” saat ini adalah mencegah eskalasi lebih lanjut.

China Tegaskan Dukungan terhadap Tatanan Internasional Pasca-Perang

Di tengah ketegangan, Xi Jinping dijadwalkan melakukan pembicaraan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin pada Kamis (8/5/2025). Dalam artikelnya yang dimuat di media Rusia menjelang kunjungan, Xi menyerukan agar China dan Rusia bersama-sama menjaga “tatanan internasional pasca-perang.” Ia juga menolak upaya negara lain yang mencoba merusak hubungan strategis kedua negara.

Kunjungan ini dipandang sebagai momen penting dalam hubungan bilateral Rusia-Tiongkok. Menteri Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, bahkan menyebutnya sebagai “salah satu agenda paling sentral dalam hubungan Rusia-Tiongkok tahun ini.”

Sementara itu, pihak Ukraina melaporkan serangan udara Rusia ke Kyiv pada malam yang sama. Serangan tersebut mengakibatkan tewasnya seorang ibu dan anak. Rusia bersikeras bahwa serangannya hanya menargetkan sasaran militer.

Xi diperkirakan akan menandatangani sejumlah perjanjian strategis dengan Rusia. Salah satu pembahasannya mencakup proyek besar jalur pipa gas Power of Siberia 2, yang hingga kini masih dalam tahap perencanaan. Dalam konteks rivalitas dengan Amerika Serikat, kedua negara berusaha membentuk wajah baru tatanan dunia multipolar, menentang dominasi tunggal Washington.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional