Banyuwangi – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) mendorong percepatan pembangunan desa melalui pendekatan baru bertajuk Desa Tematik. Gagasan ini menjadi bagian dari 12 Program Aksi Strategis Kemendesa yang menyasar pemanfaatan potensi lokal sebagai motor penggerak utama pembangunan desa.
Konsep Desa Tematik diarahkan untuk memperkuat identitas dan daya saing masing-masing desa dengan mengedepankan keunggulan lokal yang dimiliki. Menteri Desa PDTT, Yandri Susanto, menjelaskan bahwa pendekatan ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan secara berkelanjutan.
“Kalau desa itu kuat di sektor padi, maka kita arahkan menjadi Desa Padi. Kalau hortikultura yang dominan, maka bisa menjadi Desa Hortikultura. Ini agar pembangunan tidak seragam, tetapi berbasis pada kekuatan masing-masing wilayah,” ujar Yandri.
Mengangkat Potensi, Menguatkan Jati Diri
Desa Tematik adalah strategi pembangunan berbasis kekhasan wilayah. Tema yang diangkat bisa mencakup sumber daya alam, sosial-budaya, bahkan keunggulan ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Dengan tema yang jelas, pembangunan desa dapat dirancang lebih terarah. Selain itu, pendekatan ini juga membuka peluang promosi ke dunia luar, termasuk kepada wisatawan, investor, dan pelaku pasar nasional maupun global.
Pembangunan Terfokus dengan Desa Tematik
Indonesia memiliki lebih dari 75.000 desa yang tersebar di berbagai daerah dengan keragaman geografis, budaya, dan ekonomi. Namun, tidak semua desa mampu mengoptimalkan potensinya akibat terbatasnya strategi pembangunan, pendanaan, dan infrastruktur.
Melalui Desa Tematik, pemerintah berupaya memberi kerangka kerja yang konkret dan mudah diterapkan oleh pemerintah desa. Ini juga sejalan dengan agenda nasional seperti ketahanan pangan, kemandirian energi, dan pengembangan pariwisata.
Ragam Tema Desa Tematik
Dari 12 Program Aksi Strategis Kemendesa, teridentifikasi sejumlah kategori utama yang dapat menjadi fokus pengembangan Desa Tematik:
-
Desa Ketahanan Pangan
Mengembangkan potensi pertanian, perikanan, dan peternakan:-
Desa Padi
-
Desa Jagung
-
Desa Hortikultura
-
Desa Perikanan
-
Desa Peternakan
-
-
Desa Wisata
Mengandalkan potensi alam dan budaya:-
Desa Wisata Alam
-
Desa Wisata Budaya
-
Desa Wisata Edukasi
-
-
Desa Digital
Pemanfaatan teknologi untuk pelayanan publik, promosi produk, hingga pendidikan daring. -
Desa Energi Terbarukan
Pemanfaatan sumber daya lokal untuk energi bersih:-
Desa Mikrohidro
-
Desa Surya
-
Desa Bioenergi
-
-
Desa Ekspor
Fokus pada komoditas unggulan untuk pasar internasional seperti kopi, kakao, dan rempah. -
Desa Industri Kreatif
Mendorong produk berbasis budaya dan inovasi seperti kerajinan, makanan khas, dan seni lokal. -
Desa Inklusi
Memastikan kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat miskin terlibat aktif dalam pembangunan.
Langkah Strategis Menuju Desa Mandiri
Untuk mengembangkan Desa Tematik, beberapa tahapan penting telah disiapkan:
-
Pemetaan potensi desa
-
Peningkatan kapasitas SDM desa
-
Pembangunan infrastruktur penunjang
-
Digitalisasi dan promosi online
-
Kemitraan dengan swasta dan akademisi
Menanti Modul Resmi
Kemendesa tengah menyusun modul pedoman Desa Tematik yang dijadwalkan rampung sebelum Hari Desa Nasional pada 15 Januari 2025. Modul ini akan menjadi acuan bagi desa-desa di seluruh Indonesia untuk menentukan arah pembangunan sesuai potensi masing-masing.
“Dengan pedoman ini, kita berharap pembangunan desa lebih tepat sasaran dan mendorong kemandirian ekonomi lokal,” kata Yandri.
Menuju Desa yang Berdaya Saing
Desa Tematik bukan sekadar label, tetapi langkah konkret untuk menciptakan desa yang tangguh, inovatif, dan inklusif. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan tidak hanya menopang ketahanan pangan dan ekonomi, tetapi juga menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan baru yang mampu berkompetisi di tingkat global.
Komitmen Tematik Desa Gladag: Menjadi Desa Pintar Digitalisasi
Menanggapi inisiatif ini, Kepala Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, A. Chaidir Sidqi, S.Sos., menyatakan kesiapannya mendukung program Kemendesa melalui penguatan sektor digital.
“Desa Gladag kami arahkan menjadi Desa Pintar Digitalisasi, sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan zaman. Kami ingin menjadikan teknologi sebagai sarana percepatan pelayanan publik, promosi produk lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, digitalisasi bukan hanya soal akses internet, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk membangun ekosistem desa yang lebih cerdas, produktif, dan inklusif.