Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Erdogan Kecam Aksi Protes atas Penahanan Wali Kota Istanbul

badge-check


					Demo Warga Turki Perbesar

Demo Warga Turki

Ankara – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menilai bahwa aksi protes yang terjadi akibat penahanan Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, telah berubah menjadi “gerakan kekerasan.” Ia menegaskan bahwa Partai Republik Rakyat (CHP), oposisi utama pemerintah, akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan dan luka-luka yang dialami aparat keamanan.

Penahanan Imamoglu pada Rabu (20/3/2025) lalu telah memicu gelombang unjuk rasa terbesar di Turki dalam lebih dari satu dekade. Pada Minggu (24/3/2025), pengadilan menahannya dengan status terdakwa dalam kasus korupsi, tuduhan yang ia bantah.

Pihak oposisi dan para pendukungnya menilai bahwa kasus yang menjerat Imamoglu bermuatan politik dan tidak mencerminkan prinsip demokrasi. Namun, pemerintah Erdogan membantah tuduhan tersebut.

Meskipun pemerintah telah memberlakukan larangan berkumpul di sejumlah kota, aksi protes tetap berlanjut hingga malam kelima pada Minggu, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan. Ketua CHP, Ozgur Ozel, bahkan menyerukan agar demonstrasi nasional terus berlanjut.

“Gerakan Kekerasan”

Berbicara dalam konferensi pers usai rapat kabinet di Ankara, Erdogan meminta CHP menghentikan tindakan yang dinilainya sebagai provokasi terhadap warga.

“Sebagai bangsa, kita menyaksikan dengan heran bagaimana peristiwa yang dipicu oleh seruan pemimpin oposisi untuk turun ke jalan berubah menjadi gerakan kekerasan,” ujar Erdogan, yang kini berusia 71 tahun.

“Pihak oposisi bertanggung jawab atas polisi yang terluka, jendela toko yang pecah, serta kerusakan properti publik. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban, baik secara politik di parlemen maupun secara hukum di pengadilan,” tambahnya.

Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, sebelumnya juga menuding bahwa beberapa pengunjuk rasa telah “meneror” jalanan dan mengancam stabilitas nasional. Menurutnya, sebanyak 1.133 orang telah ditahan selama lima hari aksi, sementara 123 polisi dilaporkan mengalami luka-luka.

CHP mengirimkan delegasi untuk bertemu dengan Gubernur Istanbul guna membahas kekerasan aparat terhadap demonstran. Ketua CHP Istanbul, Ozgur Celik, menyebut bahwa tindakan represif aparat pada Minggu malam merupakan yang paling brutal sejauh ini, dengan banyak demonstran dilarikan ke rumah sakit.

Penahanan yang Kontroversial

Imamoglu, 54, ditahan pada hari yang sama dengan pemilihan internal CHP untuk menentukan calon presiden partai. Dalam pemungutan suara, sekitar 15 juta orang memberikan dukungan kepada wali kota tersebut.

Berita penahanannya mendominasi halaman depan surat kabar di Turki. Media oposisi menilai bahwa Imamoglu dipenjara bukan karena kasus korupsi, melainkan karena dirinya dianggap sebagai pesaing terkuat Erdogan dalam politik nasional.

Banyak warga yang mengecam langkah pemerintah terhadap Imamoglu. “Saya yakin ada ketidakadilan yang dilakukan terhadap Imamoglu. Mereka menahannya tanpa alasan yang jelas,” ujar Adem Bali, seorang pekerja konstruksi berusia 22 tahun.

Erdogan, yang telah memimpin Turki selama lebih dari dua dekade, menyatakan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa CHP tidak mampu mengelola pemerintahan daerah, apalagi negara.

Di tengah gejolak politik ini, Erdogan juga berupaya menenangkan investor yang panik setelah penahanan Imamoglu, yang menyebabkan anjloknya pasar saham, obligasi, dan nilai tukar lira pekan lalu. Bank sentral Turki bahkan harus melakukan intervensi dengan menjual cadangan devisa untuk menstabilkan pasar.

“Prioritas utama kami adalah menjaga stabilitas makroekonomi. Kementerian Keuangan, bank sentral, dan seluruh lembaga terkait bekerja siang dan malam dengan koordinasi penuh untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” ujar Erdogan.

Setelah anjlok hingga 16,6 persen pekan lalu—penurunan terbesar sejak krisis keuangan global 2008—indeks saham utama Istanbul mengalami sedikit pemulihan pada Senin.

Analis memprediksi ketidakpastian politik akan berlangsung lama. “Protes ini menjadi reaksi publik terbesar dalam lebih dari satu dekade, sehingga sulit untuk memprediksi arah situasi politik di Turki ke depan,” ujar Wolfango Piccoli, co-presiden konsultan politik Teneo.

Ia menambahkan bahwa “agenda politik Erdogan sekali lagi telah memberikan dampak serius terhadap prospek ekonomi Turki.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional