Jerusalem – Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, dilaporkan ditahan oleh angkatan laut Israel pada Senin (9/6/2025) setelah kapal yang ia tumpangi mencoba menerobos blokade laut menuju Jalur Gaza.
Kapal berbendera Inggris bernama Madleen, yang dioperasikan oleh organisasi Freedom Flotilla Coalition (FFC), disebut membawa sejumlah kecil bantuan kemanusiaan serta bertujuan menarik perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Gaza.
Dalam video yang direkam sebelum penangkapan, Thunberg (22) menyebut mereka telah “diculik di perairan internasional oleh pasukan pendudukan Israel.”
“Saya minta teman-teman, keluarga, dan rekan-rekan saya untuk menekan pemerintah Swedia agar segera membebaskan saya dan penumpang lainnya,” ujar Greta.

Kapal Madleen yang mengangkut bantuan menuju Gaza, berlabuh di lepas pantai Catania, Italia, pada 1 Juni 2025. (foto: REUTERS/Danilo Arnone)
Israel Sebut Aksi Itu Hanya Sebuah Pencitraan
Kementerian Luar Negeri Israel mengonfirmasi bahwa kapal Madleen telah dibawa ke Pelabuhan Ashdod dan seluruh penumpang sedang menjalani pemeriksaan kesehatan. Dalam unggahan di platform X, otoritas Israel menyebut kapal tersebut sebagai “Selfie Yacht”, dan menyatakan bahwa penumpangnya akan segera dipulangkan ke negara masing-masing.
“Jumlah bantuan yang dibawa kapal sangat kecil dan sisanya telah dikonsumsi oleh para ‘selebriti’. Sisanya akan dikirim ke Gaza melalui jalur kemanusiaan resmi,” tulis pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Israel.
Israel juga merilis foto Thunberg yang tersenyum saat diberi roti lapis oleh seorang tentara, lengkap dengan rompi pelampung dan topi hijau. Sementara itu, Rima Hassan, anggota Parlemen Eropa asal Prancis yang turut berada di atas kapal, menyebut mereka ditangkap pada pukul 02.00 dini hari di perairan internasional.
Respons Dunia dan Pemerintah Swedia
Kementerian Luar Negeri Swedia menyatakan sedang menjalin komunikasi dengan otoritas Israel. Mereka juga siap memberi bantuan konsuler bila dibutuhkan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta agar warganya yang berada di kapal segera dibebaskan. Sementara Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan terpisah, menyebut pernyataan Greta sebagai “drama.”
“Israel punya cukup banyak masalah tanpa harus menculik Greta Thunberg,” ujar Trump.
“Dia masih muda dan marah. Mungkin sudah saatnya ikut kelas manajemen emosi,” tambahnya.
Latar Belakang dan Blokade Gaza
Israel telah memberlakukan blokade laut terhadap Gaza sejak tahun 2007, setelah kelompok Hamas mengambil alih wilayah tersebut. Pemerintah Israel berdalih bahwa blokade diperlukan untuk mencegah masuknya senjata ke tangan militan Hamas.
Namun, blokade ini telah menuai kritik tajam dari masyarakat internasional karena memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza. Konflik terbaru, yang dimulai sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, telah menewaskan lebih dari 54.000 warga Palestina menurut data otoritas kesehatan Gaza.
Dukungan dari Pelapor Khusus PBB
Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina, menyuarakan dukungannya terhadap aksi kapal Madleen. Ia menyerukan pelabuhan-pelabuhan lain di Mediterania untuk mengirim kapal bantuan ke Gaza.
“Perjalanan Madleen mungkin sudah berakhir, tapi misinya belum selesai. Solidaritas harus terus bergulir,” tulisnya di akun X.