Rafah, Gaza – Sebuah insiden berdarah terjadi pada Minggu pagi (1/6/2025) di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Rafah, Gaza Selatan. Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan adanya “mass casualty influx” atau lonjakan korban massal, dengan 179 korban masuk ke rumah sakit lapangan, sebagian besar menderita luka tembak dan serpihan peluru.
Dalam pernyataan resminya, ICRC menyebutkan bahwa 21 korban “telah dinyatakan meninggal saat tiba” di rumah sakit. Di antara korban, terdapat perempuan dan anak-anak. Ini merupakan jumlah korban terluka tertinggi dalam satu insiden sejak fasilitas rumah sakit berdiri lebih dari setahun lalu.
“Semua pasien mengaku sedang berusaha mencapai pusat distribusi bantuan saat insiden terjadi,” ujar ICRC. Rumah sakit lapangan di Rafah hanya memiliki kapasitas 60 tempat tidur, jauh di bawah jumlah korban yang datang pagi itu.
Organisasi Médecins Sans Frontières (MSF) juga menangani korban insiden ini. MSF menyebut bank darah di RS Nasser hampir kosong, dan staf medis harus mendonorkan darah mereka sendiri untuk menyelamatkan nyawa para korban.
Versi Berbeda dari Pihak-Pihak Terkait
Keterangan resmi mengenai pelaku insiden masih simpang siur. Otoritas pertahanan sipil Gaza, yang dikelola Hamas, menyebut setidaknya 31 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat “tembakan pasukan Israel terhadap warga sipil”. Namun, militer Israel (IDF) membantah tuduhan itu.
“Penyelidikan awal menunjukkan bahwa IDF tidak menembaki warga sipil di dekat atau di dalam pusat distribusi bantuan,” bunyi pernyataan IDF. Mereka juga merilis rekaman drone yang memperlihatkan kelompok bersenjata melepaskan tembakan dan melempar batu saat warga mengumpulkan bantuan. BBC menyatakan belum bisa memverifikasi klaim tersebut.
Di sisi lain, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi yang mengelola pusat distribusi bantuan tersebut, membantah bahwa insiden kekerasan terjadi di area mereka. GHF menyebut laporan korban sebagai “disinformasi dari Hamas”.
Kondisi Medis Krisis dan Fasilitas Terbatas
RS Nasser melaporkan bahwa mereka menerima sekitar 79 korban luka di fasilitas mereka. Sejumlah dokter mengaku menerima hingga 200 pasien dengan luka tembak atau serpihan peluru.
Victoria Rose, seorang ahli bedah asal Inggris yang bertugas di RS Nasser, menggambarkan situasi yang memilukan. Dalam video yang direkam, ia memperlihatkan ruang perawatan yang penuh dengan korban luka tembak, banyak di antaranya terkena tembakan langsung di kepala atau dada.
Sementara itu, Palang Merah Palestina melaporkan 14 korban luka lainnya di lokasi berbeda, yakni koridor Netzarim di Gaza Tengah.
Situasi Masih Belum Jelas
Sejumlah saksi mata di Rafah menyebutkan bahwa tembakan berasal dari arah kendaraan militer Israel. “Orang-orang yang terluka tidak bisa segera diselamatkan karena area dikuasai militer. Mereka akhirnya diangkut dengan gerobak keledai ke rumah sakit lapangan,” kata jurnalis lokal Mohammed Ghareeb.
Militer Israel sempat menyatakan bahwa memang ada tembakan peringatan ke udara di dekat kerumunan, namun bukan ke arah warga, dan tidak menimbulkan korban.
Insiden ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza, menyusul operasi militer Israel di Rafah yang telah memutus akses banyak bantuan. PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan terus menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan akses kemanusiaan yang aman.
Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke Gaza sejak serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan ini telah menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga kini lebih dari 54.000 orang telah tewas dalam konflik tersebut.












