Gaza – Serangan udara dan penembakan yang terjadi semalam hingga Kamis (3/7/2025) di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 94 warga Palestina, termasuk 45 orang yang sedang berusaha antri dan mendapatkan bantuan kemanusiaan, menurut keterangan rumah sakit dan Kementerian Kesehatan Gaza.
Militer Israel belum memberikan komentar terkait serangan tersebut.
Sebanyak lima orang tewas di dekat fasilitas milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF), organisasi bentukan Amerika Serikat dan Israel yang bertugas untuk menyalurkan bantuan pangan ke Gaza. Sementara itu, 40 orang lainnya tewas saat mengantre bantuan di berbagai lokasi lainnya di wilayah tersebut.
Laporan Amnesty: Bantuan Jadi Jebakan Mematikan
Amnesty International pada Kamis menerbitkan laporan yang menuduh Israel dan GHF menggunakan taktik kelaparan sebagai alat genosida terhadap warga Palestina. Laporan itu menyebut GHF menciptakan “jebakan mematikan” bagi warga yang kelaparan melalui pos bantuan yang dijaga ketat dan dekat dengan posisi militer Israel.
“Israel telah mengubah pencarian bantuan menjadi jebakan maut bagi warga Palestina yang kelaparan dan putus asa,” demikian bunyi laporan Amnesty.
Laporan juga menyebutkan kondisi kesehatan dan pangan di Gaza telah mencapai titik krisis, dengan wabah penyakit meluas dan kelaparan yang makin parah.
Menteri Luar Negeri Israel membantah keras laporan Amnesty, menyebut organisasi itu telah “bersekutu dengan Hamas dan menyebarkan propaganda mereka”.
Kematian di Tengah Upaya Gencatan Senjata
Gempuran terbaru Israel juga menghantam tenda-tenda pengungsi di kawasan Muwasi, menewaskan sedikitnya 15 orang. Serangan terpisah di sebuah sekolah yang menjadi tempat perlindungan di Gaza City juga merenggut 15 nyawa.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa total korban tewas di wilayah tersebut sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 kini telah melampaui 57.000 orang. Angka tersebut mencakup 223 orang yang sebelumnya dinyatakan hilang dan kini telah dikonfirmasi meninggal dunia. Lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.
Serangan ini terjadi di tengah pembicaraan gencatan senjata yang terus berlangsung antara Israel dan Hamas. Mantan Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa Israel telah menyetujui gencatan senjata selama 60 hari. Dia kemudian mendesak Hamas untuk menyepakati tawaran tersebut sebelum kondisi memburuk.
Namun, tanggapan Hamas yang tetap menuntut diakhirinya perang membuat masa depan kesepakatan tersebut belum jelas.
Distribusi Bantuan di Tengah Ancaman
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan lebih dari 500 warga Palestina tewas di atau dekat pusat distribusi GHF dalam sebulan terakhir. GHF, kini menggantikan peran PBB dalam penyaluran bantuan. Pos-pos GHF tersebut dijaga oleh kontraktor keamanan swasta dan berada di dekat posisi militer Israel.
Pejabat Palestina dan sejumlah saksi mata menuduh tentara Israel menembaki warga yang mendekati lokasi distribusi. Militer Israel menyatakan bahwa mereka hanya menargetkan militan Hamas dan peluncur roket yang aktif menembakkan roket ke wilayah Israel dari Gaza utara.
Perang yang berlangsung hampir dua tahun ini bermula dari serangan militan Hamas ke Israel selatan, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 250 orang lainnya.
Kini, Gaza berada dalam kondisi nyaris luluh lantak. Lebih dari 90% dari 2,3 juta penduduknya telah mengungsi. Krisis kemanusiaan yang membayangi wilayah tersebut terus memburuk, dengan ratusan ribu warga hidup dalam kelaparan dan tanpa akses medis layak.