Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Jaksa-Jaksa AS Mundur Massal Tolak Perintah Trump Untuk Menghentikan Kasus Korupsi

badge-check


					Jaksa-Jaksa AS Mundur Massal Tolak Perintah Trump Untuk Menghentikan Kasus Korupsi Perbesar

Jaksa-jaksa di Amerika Serikat mundur massal pada hari Kamis (13/2/2025), karena diperintahkan Pemerintahan Trump untuk menghentikan kasus suap terhadap Walikota New York City, Eric Adams. Pada Bulan September tahun lalu, Adams diduga telah menerima hadiah yang totalnya lebih dari $100.000 dari warga negara Turki sebagai imbalan untuk beberapa bantuan. Ia membantah tuduhan tersebut.

Penjabat Jaksa AS Manhattan, Danielle Sassoon, adalah satu dari beberapa Jaksa yang memilih untuk mengundurkan diri daripada mengikuti perintah yang dianggap sebagai upaya melemahkan independensi kantor kejaksaan AS.

“Saya tetap bingung dengan proses terburu-buru dan dangkal yang digunakan untuk mencapai keputusan ini,” tulis Sassoon dalam surat sepanjang delapan halaman kepada Jaksa Agung Pam Bondi.

Setelah Sassoon menolak untuk membatalkan kasus tersebut, pemerintahan Trump mengarahkan John Keller, penjabat kepala unit korupsi publik Departemen Kehakiman, untuk mengambil alih.

Keller kemudian juga mengundurkan diri pada hari Kamis, begitu pula dengan Kevin Driscoll, seorang pejabat senior di divisi kriminal departemen tersebut.

Tiga deputi lainnya di unit korupsi publik Departemen Kehakiman – Rob Heberle, Jenn Clarke, dan Marco Palmieri – juga mengundurkan diri pada hari Kamis atas kasus Adams.

Pengunduran diri ini terjadi di tengah upaya Presiden Donald Trump untuk merombak lembaga tersebut, yang menurutnya telah digunakan sebagai senjata melawan lawan politik. Trump telah memecat jaksa-jaksa yang menangani kasus hukum yang melibatkan dirinya sejak ia dilantik, dan juga meminta informasi tentang ribuan agen FBI yang terkait dengan penyelidikan serangan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS.

Sementara itu, di tempat terpisah, Trump menyatakan tidak memerintahkan Departemen Kehakiman untuk melakukan penghentian kasus itu. “Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak memintanya,” jawab Trump ketika di tanya wartawan mengenai hal tersebut di Gedung Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Jawa Timur Kondusif: Ibu Khofifah dan Mas Emil Fokus Melayani Program Pro Rakyat

26 Agustus 2025 - 11:52 WIB

Sri Mulyani Siapkan Anggaran untuk Badan Otorita Pantura dan Badan Industri Mineral

26 Agustus 2025 - 10:41 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani siapkan dana untuk Badan Otorita Pantura dan Badan Industri Mineral yang baru dilantik Presiden Prabowo.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.
Trending di Internasional