Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Jaksa-Jaksa AS Mundur Massal Tolak Perintah Trump Untuk Menghentikan Kasus Korupsi

badge-check


					Jaksa-Jaksa AS Mundur Massal Tolak Perintah Trump Untuk Menghentikan Kasus Korupsi Perbesar

Jaksa-jaksa di Amerika Serikat mundur massal pada hari Kamis (13/2/2025), karena diperintahkan Pemerintahan Trump untuk menghentikan kasus suap terhadap Walikota New York City, Eric Adams. Pada Bulan September tahun lalu, Adams diduga telah menerima hadiah yang totalnya lebih dari $100.000 dari warga negara Turki sebagai imbalan untuk beberapa bantuan. Ia membantah tuduhan tersebut.

Penjabat Jaksa AS Manhattan, Danielle Sassoon, adalah satu dari beberapa Jaksa yang memilih untuk mengundurkan diri daripada mengikuti perintah yang dianggap sebagai upaya melemahkan independensi kantor kejaksaan AS.

“Saya tetap bingung dengan proses terburu-buru dan dangkal yang digunakan untuk mencapai keputusan ini,” tulis Sassoon dalam surat sepanjang delapan halaman kepada Jaksa Agung Pam Bondi.

Setelah Sassoon menolak untuk membatalkan kasus tersebut, pemerintahan Trump mengarahkan John Keller, penjabat kepala unit korupsi publik Departemen Kehakiman, untuk mengambil alih.

Keller kemudian juga mengundurkan diri pada hari Kamis, begitu pula dengan Kevin Driscoll, seorang pejabat senior di divisi kriminal departemen tersebut.

Tiga deputi lainnya di unit korupsi publik Departemen Kehakiman – Rob Heberle, Jenn Clarke, dan Marco Palmieri – juga mengundurkan diri pada hari Kamis atas kasus Adams.

Pengunduran diri ini terjadi di tengah upaya Presiden Donald Trump untuk merombak lembaga tersebut, yang menurutnya telah digunakan sebagai senjata melawan lawan politik. Trump telah memecat jaksa-jaksa yang menangani kasus hukum yang melibatkan dirinya sejak ia dilantik, dan juga meminta informasi tentang ribuan agen FBI yang terkait dengan penyelidikan serangan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS.

Sementara itu, di tempat terpisah, Trump menyatakan tidak memerintahkan Departemen Kehakiman untuk melakukan penghentian kasus itu. “Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak memintanya,” jawab Trump ketika di tanya wartawan mengenai hal tersebut di Gedung Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

BKPP Kabupaten Banyuwangi Laksanakan Pembinaan Kepegawaian di Korwilkersatdik Kecamatan Glagah

28 April 2026 - 12:29 WIB

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global
Trending di Internasional