Jakarta – Kapal dagang yang melintas di sekitar Selat Hormuz dilaporkan menyiarkan pesan-pesan aneh terkait kebangsaan mereka demi menghindari kemungkinan serangan, seiring ketegangan yang belum sepenuhnya reda paska gencatan senjata antara Israel dan Iran.
Menurut perusahaan analisis risiko maritim Windward dan data pelacakan kapal yang rilis Kamis (26/6/2025), siaran-siaran tersebut mulai muncul sejak konflik antara Israel dan Iran meletus awal bulan ini.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berhasil menengahi gencatan senjata setelah 12 hari perang. Namun, Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) menilai ancaman maritim di kawasan tersebut masih tinggi.
“Banyak pemilik kapal menilai bahwa karena kompleksitas dalam kepemilikan kapal, sulit untuk memastikan dengan jelas asal kebangsaan yang sebenarnya. Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Israel dinilai lebih berisiko menjadi target,” ujar CEO Windward, Ami Daniel.
Kapal Siarkan Identitas “Netral” demi Keamanan
Dalam periode 12–24 Juni, tercatat 55 kapal menyampaikan 101 pesan tidak lazim saat melintasi kawasan Teluk dan Laut Merah. Beberapa di antaranya menyiarkan pesan seperti “kapal milik China” atau “minyak milik Rusia” dengan harapan tidak diserang karena negara-negara tersebut dianggap lebih netral dalam konflik ini.
Lalu lintas kapal komersial di kawasan meningkat 30 persen pada 24 Juni, sehari setelah pengumuman gencatan senjata, menurut JMIC. Sekitar seperlima dari konsumsi bahan bakar dan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Kapal biasanya menyiarkan tujuan pelayaran mereka atau menyebutkan “untuk pesanan”. Sesekali, kapal juga mengirimkan pesan seperti “pengawal bersenjata di atas kapal” untuk mencegah pembajakan atau serangan lainnya.
Daniel menambahkan, pesan-pesan tidak biasa sebelumnya hanya terjadi di Laut Merah, terutama setelah serangkaian serangan pemberontak Houthi menyusul perang Israel-Gaza. “Saya belum pernah melihat ini terjadi di Teluk Persia sebelumnya,” ujarnya.
Beberapa contoh kapal yang terekam mengirimkan pesan aneh antara lain kapal kontainer berbendera Panama, Yuan Xiang Fa Zhan, yang sedang menuju Pakistan dengan siaran “PKKHI all Chinese” saat melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, kapal tanker raksasa berbendera China, Yuan Yang Hu, menyiarkan pesan “Kapal China” dalam perjalanan membawa minyak mentah dari Arab Saudi ke China. Setelah keluar dari Selat, pesannya berubah menjadi “CN NBG” (Pelabuhan Ningbo-Zhoushan di China).
Kapal kontainer berbendera Singapura, Kota Cabar, menyiarkan “Vsl no link Israel” saat berlayar di Laut Merah.
Sistem Navigasi Satelit Terganggu, Risiko Meningkat
JMIC turut memperingatkan adanya gangguan terhadap sistem navigasi satelit global (GNSS) di kawasan tersebut. Gangguan ini dapat menyebabkan kapal menyimpang dari jalurnya, meningkatkan risiko tabrakan dengan kapal lain atau rintangan di laut.
Fenomena ini mencerminkan tingginya kekhawatiran sektor pelayaran global terhadap dampak konflik geopolitik yang belum sepenuhnya mereda di Timur Tengah.