Jakarta – Ketegangan militer antara India dan Pakistan kembali memanas setelah serangan yang dilakukan India ke wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan. Imbas dari situasi tersebut, puluhan bandara di India ditutup sementara, sejumlah maskapai internasional membatalkan atau mengalihkan rute penerbangannya, dan muncul kekhawatiran akan kepadatan lalu lintas udara di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.
United Airlines dan Korean Air termasuk di antara banyak maskapai yang mengambil langkah cepat dengan membatalkan penerbangan. Selain itu, beberapa maskapai juga mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara Pakistan dan India bagian barat laut. Maskapai asal Belanda, KLM, dan Singapore Airlines juga menyatakan telah menghentikan penerbangan yang melintasi Pakistan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
“Langkah India sangat membahayakan penerbangan komersial dari negara-negara Teluk dan mengancam nyawa penumpang,” demikian pernyataan dari kantor Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
India sebelumnya melancarkan serangan udara ke wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan. Serangan itu merupakan balasan atas aksi kelompok militan yang menewaskan 26 orang di wilayah Kashmir India bulan lalu. Pemerintah Pakistan mengklaim telah menembak jatuh lima jet tempur India dalam serangan balasan tersebut.
Pantauan dari situs pelacakan penerbangan menunjukkan pergeseran signifikan jalur penerbangan internasional ke arah selatan, melewati Oman, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Otoritas Pakistan melaporkan terdapat 57 penerbangan internasional yang berada di wilayah udara mereka saat serangan India terjadi.
Dampak ke Maskapai Domestik
Sejumlah bandara di India dan Pakistan mengalami gangguan operasional. Data dari Flightradar24 mencatat bahwa hingga pukul 10.30 GMT, sekitar 3 persen penerbangan domestik India telah dibatalkan. Sementara itu, 17 persen penerbangan domestik Pakistan juga mengalami pembatalan. Maskapai terbesar India, IndiGo, membatalkan 165 penerbangan hingga Sabtu pagi, sementara Air India, SpiceJet, dan Akasa Air turut terkena dampak. Saham IndiGo tercatat turun 1,1 persen akibat gangguan ini.
Pakistan mengklaim bahwa seluruh bandara di wilayahnya telah kembali beroperasi penuh. Namun, sebagian besar wilayah udara India bagian barat laut masih tampak kosong dari penerbangan sipil.
Kondisi ini turut memperparah kompleksitas operasional penerbangan di kawasan yang sebelumnya sudah terdampak konflik. Maskapai Korean Air menyatakan telah mengalihkan penerbangan Seoul Incheon–Dubai ke jalur selatan yang melewati Myanmar, Bangladesh, dan India, guna menghindari wilayah udara Pakistan. United Airlines membatalkan penerbangan langsung dari Newark ke New Delhi karena keterbatasan rute udara.
Maskapai lain seperti Thai Airways dan China Airlines dari Taiwan juga mengonfirmasi adanya pengalihan dan penyesuaian jadwal penerbangan mereka, terutama untuk rute Eropa dan Asia Selatan. Misalnya, penerbangan Lufthansa dari Delhi ke Frankfurt mengalami keterlambatan hingga 30 menit dibandingkan hari sebelumnya.
Kekhawatiran Asosiasi Penerbangan Asia Pasifik
Asosiasi Maskapai Asia Pasifik menyatakan keprihatinannya terhadap dampak konflik terhadap keselamatan dan operasional penerbangan. Selain biaya tambahan dan gangguan jadwal, ancaman terhadap keamanan navigasi turut menjadi sorotan utama.
“Ada kekhawatiran serius terkait keselamatan, terutama akibat praktik GPS spoofing yang bisa mengacaukan sistem navigasi penerbangan di zona konflik,” tulis asosiasi dalam pernyataan resmi.
GPS spoofing merupakan teknik manipulasi sinyal GPS yang dapat menyebabkan pesawat menyimpang dari jalur penerbangan yang seharusnya. Ancaman ini menjadi salah satu risiko tertinggi bagi industri penerbangan global saat ini.












