Gaza – Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa sejak 18 Maret, lebih dari 200 anak di Jalur Gaza telah tewas akibat serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan Israel.
Rosalia Bollen, pejabat UNICEF di Gaza, menyatakan bahwa sejak pengeboman hebat kembali terjadi pada pagi hari 18 Maret hingga saat ini, lebih dari 200 anak telah kehilangan nyawa.
Selain korban jiwa, ribuan anak mengalami luka serius, sementara rumah sakit di Gaza kewalahan menghadapi lonjakan pasien akibat pertempuran yang intens dalam beberapa hari terakhir.
Situasi ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama di wilayah tersebut.
Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak di Gaza. Ia menyebut bahwa laporan dan gambar yang muncul dari Jalur Gaza setelah serangan hari Selasa lebih dari sekadar mengerikan, dengan ratusan orang dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 130 anak-anak, yang merupakan salah satu jumlah kematian anak terbesar dalam satu hari dalam setahun terakhir.
UNICEF menekankan bahwa anak-anak di Gaza tidak hanya menghadapi ancaman langsung dari konflik bersenjata, tetapi juga risiko kesehatan akibat keterbatasan akses terhadap air bersih dan layanan medis.
Produksi air di Gaza hanya mencapai 5% dari kapasitas normal, meningkatkan risiko kematian anak-anak, terutama bayi, akibat dehidrasi.
Nesma, seorang staf UNICEF di Gaza yang memiliki dua anak, mengungkapkan kesedihannya melihat anak-anak di sekitarnya berjuang mendapatkan air bersih.
UNICEF dan organisasi kemanusiaan lainnya terus menyerukan gencatan senjata dan akses kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza untuk memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak dan keluarga mereka yang terdampak konflik.