Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

News

Megawati Pamit, Pelatih Menangis Emosional

badge-check


					Megawati Pamit, Pelatih Menangis Emosional Perbesar

Jakarta – Keputusan Megawati Hangestri Pertiwi untuk tidak memperpanjang kontrak dengan klub voli Korea Selatan, Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks, menuai sorotan luas. Di tengah performa yang sedang memuncak dan usai membawa timnya ke final Liga Voli Korea musim 2024-2025, Megawati memilih untuk kembali ke Indonesia demi merawat sang ibunda yang sedang sakit.

Langkah itu bukan keputusan mudah bagi Megawati, yang selama dua musim terakhir menjadi pilar penting Red Sparks. Pemain berjuluk “Megatron” tersebut tampil luar biasa sepanjang musim, bahkan mencatatkan namanya sebagai peringkat ketiga pencetak poin terbanyak (802 poin) dan menduduki peringkat pertama dalam tingkat keberhasilan serangan (48,06 persen).

Namun, di tengah pencapaian gemilang itu, Megawati memutuskan untuk pulang ke tanah air. Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam, tak hanya bagi para penggemar, tetapi juga bagi rekan-rekan setim dan pelatih Red Sparks, Ko Hee-jin.

Momen Emosional di Bandara

Momen perpisahan Megawati di Bandara Incheon terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam video tersebut, pelatih Ko Hee-jin terlihat menangis sambil memeluk Megawati. Ia juga sempat menyapa dan memeluk kekasih Megawati, Dio Novandra, yang turut mengantarkan kepergian sang atlet.

“Mega sangat ingin bertahan. Tapi dia memutuskan untuk pulang karena ingin lebih dekat dengan ibunya. Itu keputusan yang tidak mudah,” ujar sang agen Megawati, dikutip dari Yonhap News.

Ko Hee-jin pun tak kuasa menyembunyikan emosinya saat berbicara di depan media. “Kalau peraturan KOVO berubah, mari kita bekerjasama lagi di Red Sparks. Sepertinya saya tidak akan pernah mendapatkan pemain seperti Mega lagi. Dia luar biasa, bukan cuma secara teknik, tapi juga dalam membawa semangat untuk tim,” katanya.

Bermain Sambil Cedera

Selain alasan keluarga, Megawati juga harus menghadapi kondisi fisik yang tidak ideal menjelang akhir musim. Dalam seri final melawan Incheon Heungkuk Life Pink Spiders, Megawati bermain sambil menahan nyeri akibat cedera otot kaki yang ia derita sejak leg pertama. Ia tetap tampil hingga leg kelima sebelum akhirnya ditarik keluar pada set penentuan karena tak lagi mampu melanjutkan pertandingan.

Red Sparks akhirnya harus puas menjadi runner-up setelah kalah agregat 2-3. Pertandingan penentuan pada Selasa (8/4/2025) berlangsung ketat, dengan skor akhir 2-3 (24-26, 24-26, 26-24, 25-23, 13-15).

Meski gagal meraih gelar juara, kehadiran Megawati di Red Sparks dianggap telah mengubah wajah tim secara signifikan. Musim lalu, ia membantu Red Sparks mengakhiri penantian tujuh musim dengan membawa tim lolos ke playoff. Musim ini, mereka berhasil menembus final.

Kembali ke Tanah Air

Menurut pejabat Red Sparks yang dikutip dari media edaily, pihak klub sebenarnya telah mengusulkan perpanjangan kontrak setelah musim reguler berakhir. Namun, Megawati meminta waktu hingga seri final usai sebelum mengambil keputusan. Usai pertandingan terakhir, ia akhirnya menolak tawaran tersebut.

“Mega adalah pemain yang sangat sopan dan tulus. Dia adalah sosok yang dihormati lebih dari sekadar rekan kerja. Sangat disayangkan dia tidak dapat memperbarui kontraknya,” ujar salah satu pejabat Red Sparks.

Kini, Megawati dikabarkan akan menjalani pemulihan cedera otot kaki dan bahu di Surabaya. Ia juga tengah mempertimbangkan bergabung dengan klub di Asia Tenggara, yang memiliki musim kompetisi lebih pendek dan cuaca lebih hangat, agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibunya.

Keputusan Megawati menunjukkan bahwa di balik gemerlap prestasi, ada nilai-nilai keluarga dan kemanusiaan yang tetap menjadi prioritas. Sebuah pengorbanan yang tak hanya menyentuh, tetapi juga menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Penyaluran BLTS Kesra Tahap I Desa Gladag: 246 Warga Terima Bantuan Rp 900 Ribu

24 November 2025 - 19:34 WIB

Gebyar Janger Remaja Madyo Utomo: Kolaborasi Mahasiswa dan Pemdes Gladag Lestarikan Budaya Banyuwangi

16 November 2025 - 20:01 WIB

Presiden Prabowo Setujui Pembentukan Dirjen Pesantren, Babak Baru Perhatian Negara untuk Dunia Santri

24 Oktober 2025 - 09:27 WIB

Pesantren Menyapa Dunia Digital: Kolaborasi Ilmu, Teknologi, dan Akhlak

22 Oktober 2025 - 15:08 WIB

Lomba FASI Banyuwangi 2025 Resmi Dibuka, Ratusan Siswa SD Ikuti MTQ dan Pildacil

16 Oktober 2025 - 12:38 WIB

Ratusan siswa SD dari berbagai kecamatan di Banyuwangi ikut Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) 2025 di GOR dan SMPN 1 Giri Banyuwangi.
Trending di News