Islamabad – Pemerintah Pakistan kecam serangan udara Amerika Serikat ke Iran. Kecaman ini muncul hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Islamabad secara resmi memuji Trump atas perannya meredakan ketegangan dengan India dan menyatakan ia layak menerima Nobel Perdamaian.
Sikap berbalik ini menyoroti dilema diplomatik yang dihadapi Pakistan di tengah dinamika kawasan, khususnya menyangkut hubungannya dengan dua mitra besar: Amerika Serikat dan Iran.
Pujian untuk Trump Berubah Jadi Kecaman
Pada Sabtu malam, melalui platform X (sebelumnya Twitter) Pakistan menyebut Trump telah menunjukkan “intervensi diplomatik yang menentukan dan kepemimpinan yang krusial” dalam mendorong gencatan senjata antara Islamabad dan New Delhi. Dalam unggahan tersebut, pemerintah Pakistan secara terbuka merekomendasikan Trump untuk menerima penghargaan Nobel Perdamaian.
Namun, kurang dari sehari setelah pernyataan itu, Islamabad mengutuk serangan udara Amerika Serikat ke Iran atas perintah Trump. Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan “pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan terhadap ketentuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA)”.
Kekhawatiran atas Serangan ke Fasilitas IAEA
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan langsung kekhawatiran itu kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pembicaraan via telepon pada Minggu. Shehbaz Sharif menyoroti bahwa AS menyerang fasilitas yang berada di bawah pengawasan IAEA.
Sebagai negara yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, Pakistan juga menyatakan dukungannya atas hak Iran untuk membela diri dari serangan Israel. Meski demikian, sampai hari Senin, belum ada tanggapan resmi dari Islamabad terkait kelanjutan rekomendasi Nobel untuk Trump.
Latar Belakang Ketegangan Pakistan–India
Ketegangan antara Pakistan dan India meningkat tajam sejak insiden pembantaian turis di wilayah Kashmir yang dikuasai India pada April lalu. Kedua negara, yang sama-sama memiliki senjata nuklir, terlibat saring serang selama beberapa minggu sebelum akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata melalui diplomasi atas mediasi Amerika Serikat.
Trump kemudian mengklaim menjadi peran kunci dalam proses itu, yang kemudian menuai apresiasi dari Islamabad. Sebaliknya, India membantah adanya intervensi pihak luar, dan menegaskan bahwa masalah Kashmir adalah urusan domestik.
Wilayah Kashmir selama ini menjadi sengketa panjang antara kedua negara, dengan masing-masing mengklaim kepemilikan penuh atas wilayah Himalaya tersebut. India juga menuduh Pakistan mendukung kelompok militan yang aktif di wilayah itu, namun Pakistan membantah tuduhan tersebut.
Pertemuan di Gedung Putih
Pujian terhadap Trump juga disampaikan menyusul pertemuan makan siang tingkat tinggi pada Kamis lalu di Gedung Putih antara Presiden AS dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Pakistan, Jenderal Asim Munir. Pertemuan selama dua jam lebih itu turut dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Utusan Khusus untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Menurut pernyataan resmi militer Pakistan, pertemuan tersebut membahas ketegangan yang tengah berlangsung antara Iran dan Israel. Lebih jauh, pertemuan itu juga menekankan pentingnya penyelesaian damai dalam konflik tersebut.
Kini, hanya dalam hitungan jam, Pakistan menghadapi ujian diplomatik besar. Dari pujian atas mediasi damai, ke posisi menentang keras tindakan militer AS terhadap Iran. Islamabad berusaha menavigasi relasi global yang kian kompleks dan berlapis kepentingan.