Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Pakistan Usulkan Donald Trump Terima Nobel Perdamaian

badge-check


					Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada para wartawan setelah meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal untuk kembali ke Washington, pada 17 Juni 2025. (foto: REUTERS/Kevin Lamarque) Perbesar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada para wartawan setelah meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal untuk kembali ke Washington, pada 17 Juni 2025. (foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

Islamabad  – Pemerintah Pakistan mengumumkan niatnya untuk merekomendasikan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menerima Nobel Perdamaian. Langkah ini diambil sebagai bentuk pengakuan atas peran Trump dalam meredakan konflik bersenjata antara Pakistan dan India pada Mei lalu.

Dalam pernyataan resminya, Islamabad menilai Trump menunjukkan “visi strategis dan kenegarawanan yang luar biasa” melalui diplomasi aktif yang berhasil menghentikan bentrokan bersenjata selama empat hari antara dua negara bersenjata nuklir tersebut.

“Intervensi Presiden Trump menjadi bukti nyata perannya sebagai pembawa damai sejati,” tulis pernyataan pemerintah Pakistan yang dirilis Sabtu (21/6/2025).

Konflik antara India dan Pakistan yang sempat meningkat ke level kritis secara mengejutkan mereda setelah Trump mengumumkan gencatan senjata, yang disebutnya telah “menghindarkan dunia dari perang nuklir dan menyelamatkan jutaan nyawa.” Namun, India bersikeras bahwa penghentian konflik merupakan hasil kesepakatan bilateral antara kedua militer, bukan campur tangan pihak ketiga.

Isu Strategis dan Kepentingan Regional

Langkah Pakistan ini menuai perhatian luas, terutama karena dilakukan di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Israel dan Iran. Beberapa analis menilai bahwa pujian kepada Trump dapat menjadi bentuk diplomasi terselubung. Tujuannya adalah untuk mendorong Presiden AS itu mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran. Pakistan secara tegas mengecam serangan Israel itu sebagai pelanggaran hukum internasional.

Langkah Pakistan untuk mencalonkan Trump terjadi pada minggu yang sama saat Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, bertemu dengan pemimpin Amerika Serikat dalam sebuah jamuan makan siang. Ini adalah pertama kalinya Gedung Putih mengundang seorang pemimpin militer Pakistan saat pemerintahan sipil berkuasa di Islamabad.

Reaksi Beragam

Di dalam negeri Pakistan, usulan ini menimbulkan reaksi beragam. Sebagian pihak menilai langkah tersebut sebagai manuver diplomatik cerdas. “Trump itu baik untuk Pakistan,” ujar Mushahid Hussain, mantan Ketua Komite Pertahanan Senat Pakistan. “Kalau ini bisa menyenangkan egonya, kenapa tidak? Para pemimpin Eropa juga banyak yang menjilat.”

Namun, tak sedikit pula yang mengkritik keras. Talat Hussain, jurnalis senior dan presenter televisi terkemuka, mengecam inisiatif tersebut. “Pendukung utama Israel di Gaza dan penyemangat serangannya ke Iran bukanlah sosok yang layak untuk penghargaan apa pun,” tulisnya di platform X. “Lagi pula, bagaimana jika beberapa bulan lagi Trump kembali berpelukan dengan Modi?”

Sikap India

Sementara itu, pihak India menolak keras keterlibatan pihak ketiga dalam konflik Kashmir. Pemerintah India menyatakan bahwa mereka “tidak dan tidak akan pernah menerima mediasi” dalam urusan bilateral dengan Pakistan. Trump sempat akan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT G7 di Kanada pekan lalu, namun pertemuan itu batal terjadi karena Trump lebih dahulu meninggalkan acara.

Meski demikian, Trump tetap menyatakan keinginannya untuk berperan sebagai mediator dalam konflik India–Pakistan. Dalam sebuah unggahan di media sosial, ia mengklaim telah menyelesaikan banyak konflik internasional selama masa jabatannya — termasuk perjanjian Abraham antara Israel dan sejumlah negara mayoritas Muslim — namun merasa tidak mendapat penghargaan yang pantas.

“Saya tidak akan mendapatkan Nobel Perdamaian meski apa pun yang saya lakukan,” tulisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional