Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Presiden Baru Korea Selatan, Janji Pulihkan Ekonomi dan Demokrasi

badge-check


					Presiden terpilih Korea Selatan, Lee Jae-myung, sebelum berangkat ke Majelis Nasional untuk menghadiri upacara pelantikannya, di Incheon, Korea Selatan, pada 4 Juni 2025. Perbesar

Presiden terpilih Korea Selatan, Lee Jae-myung, sebelum berangkat ke Majelis Nasional untuk menghadiri upacara pelantikannya, di Incheon, Korea Selatan, pada 4 Juni 2025.

Seoul – Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae-myung, resmi dilantik pada Rabu pagi di gedung parlemen Seoul. Dalam pidato pelantikannya, Lee berjanji akan membangkitkan Korea dari keterpurukan setelah upaya kudeta militer. Selain itu, ia juga berkomitmen dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin proteksionis.

Kemenangan Lee dalam pemilu sela pada Selasa (3/6/2025) menjadi titik balik penting bagi Negeri Ginseng, setelah Presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol, lengser tiga tahun lebih awal akibat kecaman publik terhadap upaya darurat militer yang gagal.

“Pemerintahan Lee Jae-myung akan bersifat pragmatis dan pro-pasar,” ujarnya lantang di depan parlemen—lokasi yang enam bulan lalu ia masuki dengan melompati pagar demi menolak dekrit darurat militer.

Ia bertekad untuk mencabut berbagai regulasi demi mendorong inovasi bisnis dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Lee juga menyatakan akan membuka kembali dialog dengan Korea Utara. Namun tetap mempertahankan aliansi pertahanan yang kuat bersama Amerika Serikat.

“Menang tanpa perang lebih baik daripada menang dalam perang. Damai tanpa perlu bertempur adalah keamanan terbaik,” ujar Lee, mengutip pepatah Timur, terkait hubungan yang kerap menegang dengan Korea Utara.

Kemenangan Telak dan Tantangan Awal

Data resmi Komisi Pemilihan Nasional menunjukkan bahwa Lee meraih 49,42 persen suara dari hampir 35 juta suara sah, mengalahkan rival konservatifnya, Kim Moon-soo, yang memperoleh 41,15 persen. Tingkat partisipasi pemilih tercatat tertinggi sejak pemilu 1997.

Sesaat setelah dikukuhkan, Lee langsung menerima laporan kesiapan militer dari Panglima Angkatan Bersenjata, menandai dimulainya kepemimpinan secara penuh sebagai presiden dan panglima tertinggi.

Dalam pidatonya, Lee menyatakan akan segera menangani masalah ekonomi mendesak, termasuk lonjakan biaya hidup dan tekanan terhadap pelaku usaha kecil. Ia juga harus merespons tenggat waktu dari Gedung Putih terkait tarif impor yang memicu ketidakseimbangan neraca dagang antara Seoul dan Washington.

Prosentase perolehan suara Pemilihan Presiden Korea Selatan.

Pasar Saham Menguat, Sektor Keuangan dan Energi Terangkat

Para pelaku pasar menyambut positif kabar kemenangan Lee. Indeks KOSPI melonjak lebih dari 2 persen di pembukaan perdagangan, mencapai level tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Saham sektor keuangan memimpin penguatan, disusul saham energi terbarukan, seiring janji Lee untuk mengarahkan Korea pada transisi energi ramah lingkungan.

“Presiden Lee tidak punya banyak waktu untuk menunda. Menyusun kesepakatan dengan Trump akan menjadi tugas awal paling krusial,” tulis pernyataan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.

Hubungan Internasional: Antara AS, China, dan Korea Utara

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan selamat kepada Lee atas terpilihnya sebagai Presiden. Ia menegaskan bahwa hubungan kedua negara tetap kokoh, dilandasi nilai-nilai demokrasi dan kepentingan ekonomi bersama.

Gedung Putih menilai pemilu Korea Selatan berlangsung bebas dan adil. Namun, tetap menyatakan kekhawatiran terhadap campur tangan Tiongkok dalam demokrasi di seluruh dunia.

Sementara itu, Lee menunjukkan sikap lebih lunak terhadap Tiongkok dan Korea Utara. Ia menyebut China sebagai mitra dagang utama dan memilih berhati-hati dalam merespons ketegangan di Selat Taiwan. Namun, Lee tetap menegaskan bahwa aliansi dengan Amerika Serikat adalah tulang punggung diplomasi Korea Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional