London – Harapan publik Inggris untuk melihat Emma Raducanu melaju lebih jauh di Wimbledon pupus setelah ia takluk dari unggulan utama Aryna Sabalenka, Sabtu (5/7/2025) dini hari WIB. Meski kalah, Raducanu justru meninggalkan Centre Court dengan kepala tegak dan semangat membara.
Raducanu tampil luar biasa dalam laga berdurasi dua jam itu. Ia meladeni permainan agresif Sabalenka dengan percaya diri dan intensitas tinggi, memikat lebih dari 15.000 penonton di stadion utama All England Club.
“Itu kekalahan yang berat,” ujar Raducanu usai pertandingan dengan mata berkaca-kaca. “Tapi saya bermain melawan Aryna, seorang juara sejati. Saya harus bangga dengan upaya saya hari ini.”
Tampil Impresif Meski Kalah
Pertandingan tersebut menjadi semacam ujian nyata akan seberapa jauh perkembangan Raducanu sejak kembali dari cedera dan masa-masa sulit pasca-kemenangan mengejutkannya di US Open 2021. Dan meski gagal melaju, ia menunjukkan bahwa jarak dengan para petenis papan atas semakin menyempit.
Sabalenka, yang dalam sembilan bulan terakhir menjadi petenis nomor satu dunia dan telah mencapai lima final Grand Slam dari enam turnamen terakhir yang ia ikuti, bahkan memuji Raducanu.
“Dia sedang menuju ke sana,” kata Sabalenka. “Ia bermain lebih baik, lebih konsisten, dan saya bisa melihat bahwa secara mental dia sudah pulih. Saya yakin dia akan kembali ke 10 besar dalam waktu dekat.”
Raducanu memang menunjukkan aura yang berbeda. Senyumnya kembali menghiasi lapangan sejak tampil di Miami Open Maret lalu. Ia juga mulai menemukan ritme dan konsistensi setelah mendapat dukungan dari pelatih Mark Petchey. Ia bahkan memberi nilai “11 dari 10” untuk peran Petchey dalam performanya saat ini.
Pertandingan melawan Sabalenka juga menampilkan ketahanan mental yang luar biasa dari Raducanu. Ia berhasil menyelamatkan tujuh set point pada set pertama, dan tetap memberikan perlawanan ketat hingga akhir.
“Saya butuh waktu beberapa hari untuk memproses ini,” ucapnya. “Tapi justru kekalahan ini membuat saya makin termotivasi. Saya merasa jarak saya dengan yang terbaik sudah tidak terlalu jauh.”
Babak Baru Paska Cedera
Perjalanan Raducanu memang penuh liku. Cedera, operasi pergelangan tangan dan pergelangan kaki, pergantian pelatih, hingga tekanan besar setelah gelar Grand Slam di usia muda sempat menggoyahkannya. Namun kini, di usia 22 tahun, ia kembali menikmati tenis — dan publik bisa melihat itu.
Ia pun menegaskan niatnya untuk terus bekerja keras dan memperbaiki aspek-aspek kecil dalam permainannya. “Saya ingin lebih solid di momen-momen besar, dan itu butuh proses,” ujarnya.
Dari petenis peringkat 135 dunia setahun lalu, Raducanu kini kembali masuk 50 besar. Meski jalan kembali ke puncak masih panjang, laga melawan Sabalenka menjadi bukti bahwa Raducanu berada di jalur yang tepat.
“Saya rasa, saat saya mengenang karier saya nanti, pertandingan ini akan jadi salah satu yang paling saya ingat,” katanya. “Karena Anda bermain tenis untuk saat-saat seperti itu — saat bisa bersaing dengan yang terbaik.”