Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Rekrutmen ASN di AS Dilarang Gunakan Data Ras dan Gender

badge-check


					Rekrutmen ASN di AS Dilarang Gunakan Data Ras dan Gender Perbesar

Washington – Donald Trump kembali mengambil langkah kontroversial terkait kebijakan keberagaman dengan melarang penggunaan data statistik mengenai ras, jenis kelamin, etnis, dan asal kebangsaan dalam proses rekrutmen dan promosi aparatur sipil negara (ASN) di AS.

Larangan tersebut tertuang dalam memo resmi dari Office of Personnel Management (OPM), yang dirilis Kamis (29/5/2025) waktu setempat. Memo ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Januari lalu. Perintah tersebut disebut bertujuan untuk “mengembalikan prinsip meritokrasi” dalam sistem kepegawaian federal.

“Semua keputusan rekrutmen dan promosi harus didasarkan semata-mata pada merit, kualifikasi, dan kriteria yang berkaitan dengan pekerjaan. Bukan ras, jenis kelamin, warna kulit, agama, atau asal kebangsaan,” demikian bunyi pernyataan dalam memo tersebut.

OPM juga menginstruksikan seluruh pimpinan lembaga federal untuk menghentikan penggunaan konsep underrepresentation (keterwakilan rendah) kelompok tertentu dalam kebijakan perekrutan. Penyebaran data statistik yang berkaitan dengan identitas demografis juga dilarang.

Kritik dan Kekhawatiran

Kebijakan ini memicu kekhawatiran di kalangan pengamat kebijakan publik dan pegiat kesetaraan. Menurut mereka, pengumpulan data ras dan gender telah lama menjadi alat penting untuk mengidentifikasi potensi ketimpangan atau diskriminasi dalam proses rekrutmen.

“Dengan menghapus data tersebut, pemerintah berisiko menutup mata terhadap ketidaksetaraan yang sistemik,” ujar seorang analis kebijakan Center for American Progress.

Langkah ini juga dinilai sebagai bagian dari upaya lebih luas oleh Trump dan sekutunya untuk membatasi atau bahkan membatalkan program-program keberagaman dan inklusi yang telah berjalan selama beberapa dekade. Dalam berbagai pernyataan sebelumnya, Trump menyebut program tersebut sebagai bentuk diskriminasi terbalik terhadap pria kulit putih.

Fokus Baru Rekrutmen

Selain menyingkirkan kebijakan keberagaman, memo OPM juga mengkritik ketergantungan lembaga-lembaga pemerintah terhadap lulusan universitas elite. Sebagai gantinya, instansi pemerintah diminta merekrut lebih banyak generasi muda dari berbagai institusi pendidikan. Yaitu dari universitas negeri, perguruan tinggi berbasis keagamaan, sekolah kejuruan, organisasi keimanan, serta kelompok homeschooling.

“Ke depan, lembaga pemerintah harus memastikan bahwa rekrutmen awal karier berfokus pada warga Amerika yang patriotik dan setia kepada Konstitusi serta hukum negara,” tulis OPM dalam memo tersebut.

Memo itu juga menyebut bahwa individu dengan latar belakang di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika, serta veteran, harus menjadi prioritas dalam rekrutmen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tragedi Rio de Janeiro: Operasi Polisi Tewaskan 121 Orang

31 Oktober 2025 - 08:32 WIB

Operasi polisi di Rio de Janeiro menewaskan 121 orang, menjadikannya yang paling mematikan dalam sejarah Brasil.

Pencurian Mahkota Kerajaan di Louvre Prancis, Pakar Sebut Barang Curian Akan Hilang Selamanya

22 Oktober 2025 - 09:22 WIB

Pencurian mahkota Kerajaan di Louvre jadi aib nasional Prancis. Polisi buru geng spesialis perhiasan lintas Eropa.

Industri Film Dunia Tetap Melaju di Tengah Ancaman Tarif Trump

19 Oktober 2025 - 10:29 WIB

Ancaman tarif 100 persen dari Donald Trump tak hentikan produksi global seperti Star Wars: Starfighter. Industri film tetap melaju.

Aksi ‘No Kings’ di AS, Ribuan Warga Protes Kebijakan Trump

19 Oktober 2025 - 07:59 WIB

Ribuan warga AS turun ke jalan dalam aksi No Kings memprotes kebijakan Donald Trump yang dinilai mengancam demokrasi dan kebebasan sipil.

Tercatat Sejarah: Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir

14 Oktober 2025 - 08:34 WIB

Hamas bebaskan sandera terakhir, Trump nyatakan perang Gaza berakhir. Dunia sambut babak baru perdamaian Timur Tengah.
Trending di Internasional