Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Rusia dan Ukraina Saling Tuduh Soal Gagalnya Negosiasi Gencatan Senjata Sipil

badge-check


					Rusia dan Ukraina Saling Tuduh Soal Gagalnya Negosiasi Gencatan Senjata Sipil Perbesar

Moskow – Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memuncak setelah kedua negara saling menyalahkan atas gagalnya upaya negosiasi untuk memberlakukan moratorium serangan terhadap sasaran sipil. Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat, yang mulai kehilangan kesabaran terhadap proses perdamaian yang belum menunjukkan hasil konkret.

Presiden AS Donald Trump, yang selama ini menyatakan akan mengakhiri perang di Ukraina “dengan cepat”, telah mengubah arah kebijakan luar negerinya, dari mendukung penuh Kyiv menjadi membuka ruang terhadap narasi Moskow.

Namun hingga kini, Rusia belum memberikan konsesi berarti. Negeri Beruang Merah itu masih bersikeras pada tuntutan awal: Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayahnya dan tidak boleh bergabung dalam aliansi militer Barat.

Di tengah kebuntuan tersebut, Rusia dan Ukraina berusaha memposisikan diri demi mendapat simpati dari pemerintahan Trump. Presiden Vladimir Putin bulan lalu menolak usulan gencatan senjata 30 hari yang diinisiasi Washington dan telah disetujui secara prinsip oleh Ukraina. Sebagai gantinya, Kremlin mengumumkan gencatan senjata sepihak selama satu hari pada akhir pekan Paskah. Kyiv menilai langkah tersebut hanyalah sandiwara politik dan menuduh Moskow tetap melakukan pelanggaran selama periode tersebut.

Sebagai respons, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyerukan penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil selama 30 hari. Putin menanggapi secara terbuka dan menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan dialog bilateral yang akan menjadi pembicaraan langsung pertama antara kedua negara dalam tiga tahun terakhir.

Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Selasa menyatakan bahwa Ukraina harus terlebih dahulu “membersihkan hambatan hukum” yang menghalangi kontak resmi tersebut. Meski tidak merinci, Moskow kerap mengeluhkan dekrit Presiden Zelenskiy yang melarang negosiasi dengan Putin.

Zelenskiy menepis anggapan adanya jalan buntu dari pihaknya. “Tidak ada dan tidak akan ada jalan buntu dari pihak Ukraina. Usulan kami untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil masih berlaku. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan nyata dari Rusia untuk terlibat dalam pembicaraan ini,” tulisnya di platform X.

Pertemuan di London

Sementara itu, pertemuan trilateral antara pejabat AS, Eropa, dan Ukraina dijadwalkan berlangsung Rabu (23/4/2025) di London. Zelenskiy menyebut bahwa agenda utama pertemuan adalah mendorong gencatan senjata tanpa syarat. Sejauh ini, belum ada pertemuan langsung antara Ukraina dan Rusia sejak fase awal perang lebih dari tiga tahun lalu.

Bulan lalu, kedua pihak sempat bertemu dengan pejabat AS dalam pembicaraan paralel di Arab Saudi dan menyepakati jeda serangan terhadap infrastruktur energi. Namun kesepakatan itu pun dengan cepat dirusak oleh tudingan pelanggaran dari kedua pihak.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan kesepakatan baru untuk menghentikan serangan terhadap sasaran sipil, Peskov menyebut isu tersebut kompleks dan harus dibahas secara hati-hati. Ia mengutip pernyataan Putin bahwa sebuah fasilitas sipil bisa berubah menjadi sasaran militer jika digunakan oleh kombatan musuh.

Selama konflik berlangsung, Rusia telah melancarkan sejumlah serangan udara yang menyebabkan ribuan warga sipil Ukraina tewas, serta kerusakan besar pada pembangkit listrik, pelabuhan, dan infrastruktur vital lainnya.

Ukraina, dengan kemampuan baru untuk menyerang wilayah Rusia, juga telah melakukan serangan balasan yang menewaskan warga sipil, meski dalam jumlah yang lebih sedikit.

Terakhir, serangan rudal Rusia di kota Sumy menewaskan sedikitnya 35 orang. Kyiv menyebutnya sebagai serangan sengaja terhadap warga sipil. Rusia membantah dan mengklaim bahwa mereka menargetkan pertemuan militer Ukraina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional