NEW YORK, 2 Oktober 2025 – Mantan pengusaha IT Silicon Valley, Steven Simoni, kini menempuh jalan yang tak biasa. Setelah menjual startup pembayaran miliknya ke DoorDash seharga 125 juta dolar AS pada 2022, pria berusia 39 tahun itu beralih ke dunia persenjataan. Ia mendirikan Allen Control Systems bersama rekannya, sebuah perusahaan yang mengembangkan senapan mesin berteknologi AI bernama Bullfrog. Senjata ini dirancang khusus untuk menembak jatuh drone di medan perang..
“Masa depan adalah Skynet,” ujarnya merujuk pada sistem AI fiksi dalam film Terminator. “Saya ingin menyediakan produk itu untuk pemerintah.”
Dari QR Code ke Senapan Mesin
Kiprah Simoni sebagai pengusaha pertahanan sempat terdengar mustahil. Sebelum ini, ia terkenal sebagai penggemar berat film Star Wars sekaligus juara nasional permainan kartu Game of Thrones. Namun pergeseran Silicon Valley ke arah teknologi militer—di tengah perang Ukraina, konflik Timur Tengah, dan meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok—membuka jalan baru.
Allen Control Systems menerima pendanaan sebesar 40 juta dolar AS dari sejumlah investor, termasuk Craft Ventures milik David Sacks, penasihat AI Presiden Donald Trump. Berkat dukungan tersebut, perusahaan ini kini telah mengantongi kontrak prototipe dengan Angkatan Darat AS dan pasukan operasi khusus..
Senjata untuk Era Drone
Masalah utama yang coba dipecahkan Bullfrog adalah ancaman drone kecil yang murah, namun sulit dilumpuhkan. Selama ini tentara menembaknya dengan senapan biasa, namun efektivitasnya terbatas. Bullfrog hadir dengan kemampuan berputar 400 derajat dalam hitungan detik, dilengkapi kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi target.
Harga satu unit dipatok sekitar 350.000 dolar AS, dan bisa dipasang di kendaraan otonom, kapal tanpa awak, hingga pos penjaga perbatasan. “Ini tahap remaja, hampir dewasa,” kata Simoni tentang prototipe yang masih terus diuji.
Antara Bisnis, Politik, dan Gaya Eksentrik
Simoni memposisikan diri sebagai “frontman” perusahaan, bahkan membangun citra ala tokoh Bradley Cooper dalam film War Dogs. Ia aktif menghadiri pesta, konferensi, hingga karaoke bersama pejabat militer AS. “Para jenderal menyukai saya,” katanya.
Ia juga rajin tampil di televisi sebagai pakar drone, meluncurkan podcast “The Drone Ultimatum” dengan bintang tamu pejabat tinggi militer, dan menggalang dana politik bersama anggota Kongres Partai Republik.
Namun langkahnya menuai kontroversi. Sebagian kalangan menilai pengusaha Silicon Valley seperti Simoni terlalu cepat menjual “janji teknologi” ke dunia militer, padahal risikonya menyangkut nyawa. Seorang calon insinyur bahkan menolak tawarannya bergabung, lalu mengejek di media sosial: “Bayangkan sudah kaya raya, tapi memilih membangun senjata AI.”
Simoni menanggapi dengan santai—bahkan mencetak unggahan ejekan itu ke kaos dan memakainya.
Menatap Pasar Publik
Meski kini turun dari kursi CEO dan menjadi presiden perusahaan, Simoni tetap wajah utama Allen Control Systems. Selain Bullfrog, perusahaan ini tengah menguji “laser dazzler” untuk merusak sensor drone, serta mengembangkan versi udara Bullfrog bernama “Scourge.”
Ambisinya ke depan: membawa perusahaan masuk bursa lewat mekanisme SPAC. “Setiap kali saya muncul di Fox News, ribuan orang bertanya: ‘Ticker sahamnya apa?’” ujarnya.
Kisah Simoni mencerminkan wajah baru Silicon Valley: dari pengembang aplikasi konsumen menjadi pemasok teknologi perang. Sebuah pergeseran yang menimbulkan decak kagum, sekaligus tanda tanya etis tentang masa depan AI dan perang modern.












