JAKARTA, 18 Oktober 2026 – Film Street Fighter garapan Kitao Sakurai sebenarnya berpotensi memicu nostalgia era 1990-an lewat pertarungan bela diri, musik ikonik, serta deretan karakter dari game arcade klasik. Sayangnya, alur cerita yang berantakan dan penyuntingan yang terasa kacau membuat adaptasi game legendaris ini gagal memberikan hiburan yang memuaskan. Associated Press bahkan memberikan nilai satu bintang dari empat untuk film yang dipenuhi adegan pertarungan tersebut.
Pendekatan komedi dan nuansa retro yang diusung justru membuat film ini kesulitan menentukan fokus cerita serta mengembangkan karakternya dengan baik. Pengalaman menontonnya terasa mirip dengan sebuah episode Seinfeld, ketika Cosmo Kramer masuk ke kantor perusahaan tanpa pernah dipekerjakan dan membuat atasannya kebingungan. Film ini penuh dengan energi, tetapi pada akhirnya terasa berbelit-belit dan tidak terarah.
Dilema Karakter dan Beban Tokoh Utama
Capcom merilis game pertama Street Fighter pada 1987, sebelum sekuelnya pada 1991 meledak di pasaran dan memperkenalkan konsep turnamen bela diri multi-karakter. Dalam film ini, Noah Centineo memerankan Ken Masters dan Andrew Koji tampil sebagai Ryu, didukung oleh Callina Liang sebagai Chun-Li, Jason Momoa sebagai Blanka, Cody Rhodes sebagai Guile, hingga Curtis “50 Cent” Jackson sebagai Balrog.
Sayangnya, kehadiran terlalu banyak karakter membuat fokus cerita menjadi sangat tersebar. Alih-alih membangun konflik utama yang kuat, film ini berulang kali kehilangan arah di tengah tumpukan drama antartokoh dan adegan aksi.
Nuansa Retro yang Gagal Menyelamatkan Cerita
Dimulai dari kilas balik bergaya anime ke tahun 1987 hingga beralih ke turnamen World Warrior tahun 1993, Sakurai mencoba meramu hiburan ringan khas budaya pop era 90-an. Lagu-lagu populer seperti Who Let the Dogs Out? hingga penampilan musisi Orville Peck sebagai Vega serta pegulat Roman Reigns sebagai Akuma turut dihadirkan untuk memperkuat suasana.
Namun, semua elemen nostalgia tersebut tidak mampu menutupi kelemahan fundamental naskah. Sentuhan visual yang terlalu menonjolkan fisik karakter Chun-Li juga memperlihatkan bahwa pendekatan film ini masih terjebak pada gaya lama yang ketinggalan zaman.
Pertarungan Padat Tanpa Visi yang Jelas
Meskipun disutradarai dengan intensitas tinggi oleh Kitao Sakurai—yang turut menghadirkan Eric André sebagai komentator televisi—penonton sering kali dibiarkan bingung mengenai motivasi di balik permusuhan antar-karakter. Naskah garapan Sakurai bersama T.J. Fixman justru lebih banyak menyoroti drama maskulin antarprajurit ketimbang esensi turnamen bela diri itu sendiri.
Konflik sentral mengenai diktator fasis M. Bison (David Dastmalchian) yang mencoba memanfaatkan kekuatan Ryu gagal dirangkai dengan baik. Menjelang akhir, ritme cerita melompat terlalu cepat, meninggalkan dialog terpotong, serta memunculkan kesan adanya pemangkasan besar saat proses penyuntingan.
Dirilis oleh Paramount Pictures dengan klasifikasi PG-13, Street Fighter pada akhirnya membuktikan bahwa nostalgia dan aksi bertubi-tubi tidak akan pernah cukup tanpa fondasi cerita yang solid.














