Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Taiwan Gelar Simulasi Respons terhadap Bencana Besar dan Ancaman Tiongkok

badge-check


					Relawan berpartisipasi dalam latihan pertahanan sipil pertama di bawah komite ketahanan sosial yang baru dibentuk oleh Presiden Taiwan Lai Ching-te, mensimulasikan bagaimana merespons bencana skala besar seperti tsunami atau serangan terhadap infrastruktur penting di Tainan, Taiwan. Perbesar

Relawan berpartisipasi dalam latihan pertahanan sipil pertama di bawah komite ketahanan sosial yang baru dibentuk oleh Presiden Taiwan Lai Ching-te, mensimulasikan bagaimana merespons bencana skala besar seperti tsunami atau serangan terhadap infrastruktur penting di Tainan, Taiwan.

Taipei – Presiden Taiwan, Lai Ching-te, pada Kamis (27/3/2025) memimpin latihan pertahanan sipil pertama di bawah komite ketahanan sosial yang baru dibentuknya. Simulasi ini bertujuan untuk merespons bencana berskala besar seperti tsunami atau serangan terhadap infrastruktur kritis.

Latihan yang digelar di Kota Tainan, Taiwan selatan, berada di bawah naungan Whole-of-Society Defence Resilience Committee, sebuah badan yang didirikan tahun lalu untuk menangani bencana alam dan keadaan darurat lainnya, termasuk potensi serangan dari Tiongkok. Beijing hingga kini masih mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Dalam sambutannya usai menyaksikan jalannya latihan, Lai menegaskan bahwa ini merupakan latihan langsung pertama bagi komite tersebut. Sekitar 1.500 orang terlibat dalam simulasi ini, dan rencananya latihan serupa akan kembali diadakan bulan depan.

“Tujuan utama dari latihan ini adalah membangun ketahanan masyarakat Taiwan dalam menghadapi bencana alam besar atau kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban, serta perubahan geopolitik regional. Kita tidak boleh gagal dalam mempersiapkan diri,” ujar Lai.

Lebih lanjut, ia menambahkan, “Seperti pepatah mengatakan, pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Kita seharusnya tidak bergantung pada kemungkinan musuh tidak datang, tetapi pada kesiapan kita dalam menghadapinya.”

Lai menegaskan bahwa keamanan Taiwan tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga ketahanan seluruh masyarakat. “Kami berharap bahwa dengan menunjukkan kekuatan ini, baik melalui militer maupun ketahanan masyarakat secara keseluruhan, kita dapat memastikan keamanan Taiwan dan mewujudkan perdamaian melalui kekuatan kita,” tambahnya.

Sementara itu, beberapa saat setelah pernyataan Lai, Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa Tiongkok kembali menggelar patroli kesiapan tempur gabungan di sekitar Taiwan. Patroli ini melibatkan 28 jet tempur, drone, serta kapal perang.

Latihan di Tainan tersebut mensimulasikan berbagai skenario, termasuk tsunami akibat gempa bumi besar di lepas pantai dan ledakan di terminal pelabuhan penumpang. Simulasi mencakup evakuasi korban ke pusat triase serta pendirian pos komando tanggap darurat.

Dalam latihan ini, korban luka diletakkan di bawah tenda darurat dan menerima perawatan, sementara petugas mencatat status perawatan, jumlah korban luka, serta korban jiwa di papan besar. Meski militer Taiwan tidak terlibat langsung dalam latihan ini, mereka meminjamkan peralatan seperti ruang operasi darurat serta perlengkapan medis lainnya.

Latihan ini turut dihadiri oleh para diplomat senior dari berbagai negara, termasuk perwakilan de facto dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Polandia, India, Inggris, Singapura, Jepang, Israel, Kanada, dan Australia.

Taiwan, yang terletak di zona patahan aktif, kerap dilanda gempa bumi dan topan. Meskipun demikian, rencana tanggap bencana yang matang membuat jumlah korban jiwa umumnya tetap rendah. Gempa berkekuatan 7,3 magnitudo pada 1999 menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Taiwan, menewaskan lebih dari 2.000 orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional