Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Trump Gandakan Tarif Baja dan Aluminium Jadi 50 Persen

badge-check


					Trump Gandakan Tarif Baja dan Aluminium Jadi 50 Persen Perbesar

Pittsburgh – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan baru dengan menggandakan tarif impor baja dan aluminium dari 25 persen menjadi 50 persen. Keputusan ini akan mulai berlaku Rabu pekan depan dan menjadi bagian dari upaya Trump untuk menghidupkan kembali industri baja nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap China.

Dalam pidato kampanye di Pittsburgh, Pennsylvania—kota yang selama ini dikenal sebagai jantung industri baja Amerika—Trump menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk “mengembalikan baja Pennsylvania ke tulang punggung Amerika”.

“Jika Anda tidak punya baja, Anda tidak punya negara,” kata Trump di hadapan ribuan pendukung, sebagian besar merupakan pekerja pabrik baja.

Trump juga mengklaim adanya komitmen investasi senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp224 triliun dari hasil kemitraan antara US Steel dan perusahaan baja asal Jepang, Nippon Steel. Meski demikian, Trump mengaku belum melihat atau menyetujui kesepakatan final.

Bonus untuk Pekerja Baja

Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar satu jam, Trump menjanjikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun pemindahan pabrik ke luar negeri. Bahkan, menurutnya, setiap pekerja baja akan menerima bonus sebesar 5.000 dolar AS sebagai bentuk penghargaan.

“Tidak akan ada PHK, tidak akan ada outsourcing. Semua pekerja baja Amerika akan segera menerima bonus yang layak mereka dapatkan,” ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah.

Salah satu kekhawatiran yang mencuat dari serikat pekerja adalah bagaimana perusahaan Jepang akan menghormati kontrak serikat buruh di Amerika yang mengatur soal gaji dan perekrutan.

Investasi Besar, Kepemilikan Masih Tanda Tanya

Meski mengklaim telah “menyelamatkan” US Steel sejak menerapkan tarif baja 25 persen pada 2018 (masa jabatan pertama Trump), Trump tidak memberikan rincian jelas tentang bentuk kemitraan dengan Nippon Steel. Kedua perusahaan pun belum mengonfirmasi secara resmi bahwa kesepakatan telah tercapai.

Media lokal melaporkan bahwa Jepang berencana mengucurkan dana investasi selama 14 bulan ke depan. Disebutkan bahwa kepemilikan US Steel akan tetap berada di tangan pihak AS. Ini termasuk warga negara AS akan duduk di jajaran dewan direksi serta posisi strategis lainnya.

Respons Pekerja dan Pemerintah Daerah

Wali Kota Washington, Pennsylvania, yang juga anggota United Steelworkers, JoJo Burgess, turut hadir dalam acara tersebut. Ia menyambut baik rencana investasi tersebut meskipun mengaku bukan pendukung Trump.

“Saya tidak akan menentang kebijakan yang bisa menciptakan lapangan kerja dan menyeimbangkan daya saing industri manufaktur Amerika,” kata Burgess.

Ia juga mengingat kembali masa-masa menguntungkan setelah penerapan kebijakan tarif baja Trump pada periode pertama pemerintahannya.

Ketegangan Dagang dan Dampak Global

Namun, langkah Trump menuai kritik dari sejumlah pengamat ekonomi internasional. Kebijakan tarif sebelumnya telah memicu ketegangan dagang dengan China dan mitra dagang lainnya, serta menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Pada Jumat lalu, Trump menuding China melanggar kesepakatan dagang yang telah tercapai awal bulan ini di Jenewa. Pemerintah China membalas dengan menyebut AS melakukan diskriminasi, tanpa merespons langsung tuduhan Trump.

Trump sebelumnya pernah berjanji akan memblokir akuisisi US Steel oleh pihak asing. Meskipun tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana struktur kepemilikan dalam kesepakatan dengan Nippon Steel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional