NEW YORK, 21 Agustus 2025 – Uji coba kapal drone militer Amerika Serikat (AS) di lepas pantai California bulan lalu berakhir dengan insiden. Dua kapal tanpa awak otonom yang tengah diuji justru mengalami tabrakan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan teknologi tersebut.
Peristiwa itu terjadi saat salah satu kapal drone berhenti mendadak akibat gangguan perangkat lunak. Tak lama berselang, sebuah kapal drone lain menabrak lambung kapal yang tengah terhenti tersebut. Drone itu bahkan sempat melompat ke atas dek sebelum akhirnya terjatuh kembali ke laut.
Kapal yang terlibat merupakan produksi dua perusahaan teknologi pertahanan, Saronic dan BlackSea Technologies. Menurut sejumlah sumber, insiden itu bukan yang pertama. Pada uji coba sebelumnya, sebuah kapal pendukung terbalik setelah ditarik kapal drone BlackSea yang tiba-tiba melaju kencang. Kapten kapal tercebur ke laut, namun berhasil diselamatkan.
Gangguan Perangkat Lunak dan Kesalahan Manusia
Sumber yang mengetahui langsung kejadian itu menyebutkan, serangkaian insiden terjadi akibat kombinasi antara kegagalan perangkat lunak dan kesalahan manusia, termasuk gangguan komunikasi antara sistem di kapal dengan perangkat lunak otonom.
Baik Angkatan Laut AS, Saronic, maupun BlackSea enggan memberikan komentar. Pentagon juga tidak menjawab pertanyaan terkait penyebab kecelakaan maupun kontrak pengadaan yang ditangguhkan dengan salah satu penyedia perangkat lunak, L3Harris.
Meski begitu, L3Harris menegaskan pihaknya tetap percaya pada keamanan dan keandalan produk perangkat lunak kendali otonom yang mereka kembangkan.
Dorongan Membangun Armada Otonom
Ketertarikan AS pada drone laut berangkat dari perang di Ukraina, di mana drone maritim terbukti mampu melemahkan armada Laut Hitam Rusia. Namun, berbeda dengan Ukraina yang lebih banyak menggunakan drone kendali jarak jauh dengan harga relatif murah, AS menargetkan pengembangan kapal drone otonom penuh yang dapat beroperasi dalam jumlah besar tanpa kendali manusia.
Program ini masuk dalam inisiatif besar Pentagon senilai 1 miliar dolar AS bernama Replicator, yang diluncurkan pada 2023 untuk mempercepat pengadaan ribuan drone udara dan maritim. Angkatan Laut AS sendiri telah menggelontorkan sedikitnya 160 juta dolar AS untuk BlackSea. Sementara Saronic memperoleh pendanaan besar dari investor swasta namun belum mendapatkan kontrak utama.
Pelaksana tugas Kepala Operasi Angkatan Laut, Laksamana Jim Kilby, dalam kunjungan ke fasilitas BlackSea pada Juni lalu menyebut sistem ini kelak akan “memperluas jangkauan armada, meningkatkan kesadaran situasional, dan menambah efektivitas tempur.”
Diguncang Masalah Internal
Namun, upaya modernisasi ini tidak lepas dari masalah internal. Unit pengadaan kapal drone Angkatan Laut, Program Executive Office Unmanned and Small Combatants (PEO USC), tengah ditinjau setelah serangkaian kegagalan. Bahkan, pemimpinnya, Laksamana Muda Kevin Smith, diberhentikan usai penyelidikan internal.
Sejumlah pejabat Pentagon juga tampak bersikap skeptis atas efektivitas program ini, termasuk soal biaya yang sangat besar. Lebih jauh, muncul kritik yang menyebut Angkatan Laut masih terbebani tradisi panjang dalam membangun kapal besar yang prosesnya cenderung lamban. Padahal, tuntutan zaman menuntut mereka bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi.
“Angkatan Laut berada di perairan yang belum pernah dijelajahi,” ujar T.X. Hammes, pakar senjata otonom dari Atlantic Council. “Mereka dituntut untuk beradaptasi cepat, padahal sistem selama ini terbiasa berjalan dengan keputusan yang memakan waktu bertahun-tahun.”