Menu

Mode Gelap
Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS Prabowo Pecat Wamenaker Immanuel Ebenezer Usai Jadi Tersangka KPK Buruh Rencanakan Demo Nasional 28 Agustus: Ini Tuntutannya! Penampilan Drumband MTS 7 Sungai Bahar Diberhentikan saat HUT RI karena Ultah Istri Camat

Internasional

Uji Coba Kapal Drone AS Alami Insiden di California

badge-check


					Kapal patroli HMS Pursuer milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, bersama pengintai otonom global (GARC) dalam latihan Baltic Operations (BALTOPS) 2025 di Laut Baltik pada 12 Juni 2025. (foto: U.S. Navy) Perbesar

Kapal patroli HMS Pursuer milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, bersama pengintai otonom global (GARC) dalam latihan Baltic Operations (BALTOPS) 2025 di Laut Baltik pada 12 Juni 2025. (foto: U.S. Navy)

NEW YORK, 21 Agustus 2025 – Uji coba kapal drone militer Amerika Serikat (AS) di lepas pantai California bulan lalu berakhir dengan insiden. Dua kapal tanpa awak otonom yang tengah diuji justru mengalami tabrakan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan teknologi tersebut.

Peristiwa itu terjadi saat salah satu kapal drone berhenti mendadak akibat gangguan perangkat lunak. Tak lama berselang, sebuah kapal drone lain menabrak lambung kapal yang tengah terhenti tersebut. Drone itu bahkan sempat melompat ke atas dek sebelum akhirnya terjatuh kembali ke laut.

Kapal yang terlibat merupakan produksi dua perusahaan teknologi pertahanan, Saronic dan BlackSea Technologies. Menurut sejumlah sumber, insiden itu bukan yang pertama. Pada uji coba sebelumnya, sebuah kapal pendukung terbalik setelah ditarik kapal drone BlackSea yang tiba-tiba melaju kencang. Kapten kapal tercebur ke laut, namun berhasil diselamatkan.

Gangguan Perangkat Lunak dan Kesalahan Manusia

Sumber yang mengetahui langsung kejadian itu menyebutkan, serangkaian insiden terjadi akibat kombinasi antara kegagalan perangkat lunak dan kesalahan manusia, termasuk gangguan komunikasi antara sistem di kapal dengan perangkat lunak otonom.

Baik Angkatan Laut AS, Saronic, maupun BlackSea enggan memberikan komentar. Pentagon juga tidak menjawab pertanyaan terkait penyebab kecelakaan maupun kontrak pengadaan yang ditangguhkan dengan salah satu penyedia perangkat lunak, L3Harris.

Meski begitu, L3Harris menegaskan pihaknya tetap percaya pada keamanan dan keandalan produk perangkat lunak kendali otonom yang mereka kembangkan.

Dorongan Membangun Armada Otonom

Ketertarikan AS pada drone laut berangkat dari perang di Ukraina, di mana drone maritim terbukti mampu melemahkan armada Laut Hitam Rusia. Namun, berbeda dengan Ukraina yang lebih banyak menggunakan drone kendali jarak jauh dengan harga relatif murah, AS menargetkan pengembangan kapal drone otonom penuh yang dapat beroperasi dalam jumlah besar tanpa kendali manusia.

Program ini masuk dalam inisiatif besar Pentagon senilai 1 miliar dolar AS bernama Replicator, yang diluncurkan pada 2023 untuk mempercepat pengadaan ribuan drone udara dan maritim. Angkatan Laut AS sendiri telah menggelontorkan sedikitnya 160 juta dolar AS untuk BlackSea. Sementara Saronic memperoleh pendanaan besar dari investor swasta namun belum mendapatkan kontrak utama.

Pelaksana tugas Kepala Operasi Angkatan Laut, Laksamana Jim Kilby, dalam kunjungan ke fasilitas BlackSea pada Juni lalu menyebut sistem ini kelak akan “memperluas jangkauan armada, meningkatkan kesadaran situasional, dan menambah efektivitas tempur.”

Diguncang Masalah Internal

Namun, upaya modernisasi ini tidak lepas dari masalah internal. Unit pengadaan kapal drone Angkatan Laut, Program Executive Office Unmanned and Small Combatants (PEO USC), tengah ditinjau setelah serangkaian kegagalan. Bahkan, pemimpinnya, Laksamana Muda Kevin Smith, diberhentikan usai penyelidikan internal.

Sejumlah pejabat Pentagon juga tampak bersikap skeptis atas efektivitas program ini, termasuk soal biaya yang sangat besar. Lebih jauh, muncul kritik yang menyebut Angkatan Laut masih terbebani tradisi panjang dalam membangun kapal besar yang prosesnya cenderung lamban. Padahal, tuntutan zaman menuntut mereka bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi.

“Angkatan Laut berada di perairan yang belum pernah dijelajahi,” ujar T.X. Hammes, pakar senjata otonom dari Atlantic Council. “Mereka dituntut untuk beradaptasi cepat, padahal sistem selama ini terbiasa berjalan dengan keputusan yang memakan waktu bertahun-tahun.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korea Selatan Larang Penggunaan Ponsel di Kelas Mulai 2026

28 Agustus 2025 - 08:16 WIB

Korea Selatan resmi larang penggunaan ponsel di sekolah mulai Maret 2026, guna atasi kecanduan media sosial di kalangan pelajar.

Hujan Deras di Himalaya Tewaskan 36 Orang, India Buka Bendungan

28 Agustus 2025 - 07:12 WIB

Hujan deras di Himalaya tewaskan 36 orang di India, buka bendungan besar, dan picu peringatan banjir di tiga sungai Pakistan.

Serangan Israel di RS Nasser, Tewaskan 5 Jurnalis

26 Agustus 2025 - 09:28 WIB

Serangan Israel ke RS Nasser Gaza tewaskan 20 orang, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, AP, dan Al Jazeera. Dunia kecam tragedi ini.

H&M Buka Toko Pertama di Brasil, Fokus pada Produksi Lokal

24 Agustus 2025 - 08:55 WIB

H&M membuka toko pertamanya di Brasil dengan fokus pada produksi lokal, fesyen inklusif, dan rencana ekspansi ke berbagai kota besar.

Trump Ancam Sanksi Baru Rusia Jika Tak Ada Kesepakatan Damai di Ukraina

23 Agustus 2025 - 07:24 WIB

Trump ancam jatuhkan sanksi baru pada Rusia jika tak ada kemajuan damai Ukraina dalam dua pekan. Zelenskiy tuding Moskow sengaja menghindar.
Trending di Internasional