San Diego – Sebuah jet pribadi jenis Cessna 550 Citation mengalami kecelakaan, jatuh dan terbakar di kawasan permukiman militer San Diego pada Kamis (22/5) dini hari waktu setempat Insiden ini menewaskan enam orang yang berada di dalam pesawat. Investigasi awal menyebutkan lampu landasan tidak berfungsi, sistem peringatan cuaca rusak, dan kabut tebal menjadi kombinasi mematikan dalam kecelakaan tragis ini.
Menurut Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB), pesawat yang dipiloti Dave Shapiro—seorang eksekutif industri musik sekaligus pemilik pesawat—berangkat dari Teterboro, New Jersey, Rabu malam, dan sempat mengisi bahan bakar di Wichita, Kansas sebelum melanjutkan perjalanan ke San Diego.
Shapiro, 42 tahun, merupakan pendiri agensi Sound Talent Group dan dikenal sebagai manajer band rock Pierce The Veil. Ia turut membawa dua staf muda agensinya, Kendall Fortner (24) dan Emma Huke (25), serta mantan drummer band metal The Devil Wears Prada.
Suara Terakhir Sang Pilot: “Doesn’t sound great, but we’ll give it a go”
Dalam rekaman percakapan radio yang diunggah oleh LiveATC.net, sang pilot sempat mendiskusikan kondisi cuaca yang buruk dengan pengatur lalu lintas udara. Ia menyadari adanya kabut tebal dan menyebut kemungkinan untuk mengalihkan pendaratan ke bandara lain. Namun akhirnya memutuskan tetap mendarat di Montgomery-Gibbs Executive Airport, meskipun sistem peringatan cuaca bandara dilaporkan padam.
“Doesn’t sound great, but we’ll give it a go,” ujar Shapiro dalam percakapan terakhirnya.
Pesawat jatuh sekitar 3,2 kilometer sebelum mencapai landasan, menghantam perumahan militer Angkatan Laut AS. Tidak ada korban jiwa di darat, namun delapan warga mengalami luka ringan akibat menghirup asap. Satu rumah hancur total dan sedikitnya 10 rumah lainnya mengalami kerusakan.
Kengerian Saat Subuh: Api, Ledakan, dan Penyelamatan Diri
Ben McCarty, seorang perwira Angkatan Laut yang tinggal di rumah yang dihantam langsung oleh puing pesawat, menggambarkan detik-detik menegangkan itu. “Semua yang terlihat hanya api. Kami bisa melihat langit malam dari ruang tamu,” katanya kepada KGTV, stasiun televisi lokal.
Ia bersama istri, dua anak, dan anjing mereka terpaksa melarikan diri melalui pagar belakang dengan bantuan tetangga. Truk yang terparkir di depan rumahnya terdorong hingga masuk ke ruang tamu dan terbakar.
“Sebelumnya kami suka duduk di beranda rumah dan melihat pesawat lewat di atas. Ironisnya, pesawat yang jatuh itu menghantam persis tempat kami biasa duduk,” ujarnya lirih. Kini, McCarty mengaku tak lagi ingin tinggal di bawah jalur penerbangan.
Investigasi Berlanjut, Peringatan Bagi Dunia Penerbangan
Penyelidik NTSB, Dan Baker, mengatakan dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan investigasi penuh. Namun pihaknya mengonfirmasi bahwa sistem peringatan cuaca di bandara mati akibat lonjakan listrik, dan lampu runway padam sejak sebelumnya.
Menurut mantan penyelidik NTSB dan FAA Jeff Guzzetti, pilot seharusnya memeriksa Notices to Airmen (NOTAM) yang memperingatkan soal lampu runway yang padam. “Itu prosedur standar. Jika lampu padam dan visibilitas buruk, seharusnya pilot menaikkan pesawat dan mengalihkan pendaratan,” katanya.
Kecelakaan ini menambah daftar panjang insiden penerbangan di AS sepanjang tahun ini, termasuk jatuhnya pesawat di Simi Valley beberapa minggu lalu, serta tragedi di San Diego tahun 2021 yang menewaskan seorang pilot dan pengantar barang UPS.
Hingga kini, sekitar 100 warga masih mengungsi dan belum dapat kembali ke rumah mereka. Pihak berwenang belum memastikan kapan kawasan tersebut dinyatakan aman.