Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Kecelakaan Pesawat di San Diego: Lampu Runway Padam, Kabut Tebal, Enam Tewas

badge-check


					Kecelakaan Pesawat di San Diego: Lampu Runway Padam, Kabut Tebal, Enam Tewas Perbesar

San Diego – Sebuah jet pribadi jenis Cessna 550 Citation mengalami kecelakaan, jatuh dan terbakar di kawasan permukiman militer San Diego pada Kamis (22/5) dini hari waktu setempat Insiden ini menewaskan enam orang yang berada di dalam pesawat. Investigasi awal menyebutkan lampu landasan tidak berfungsi, sistem peringatan cuaca rusak, dan kabut tebal menjadi kombinasi mematikan dalam kecelakaan tragis ini.

Menurut Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB), pesawat yang dipiloti Dave Shapiro—seorang eksekutif industri musik sekaligus pemilik pesawat—berangkat dari Teterboro, New Jersey, Rabu malam, dan sempat mengisi bahan bakar di Wichita, Kansas sebelum melanjutkan perjalanan ke San Diego.

Shapiro, 42 tahun, merupakan pendiri agensi Sound Talent Group dan dikenal sebagai manajer band rock Pierce The Veil. Ia turut membawa dua staf muda agensinya, Kendall Fortner (24) dan Emma Huke (25), serta mantan drummer band metal The Devil Wears Prada.

Suara Terakhir Sang Pilot: “Doesn’t sound great, but we’ll give it a go”

Dalam rekaman percakapan radio yang diunggah oleh LiveATC.net, sang pilot sempat mendiskusikan kondisi cuaca yang buruk dengan pengatur lalu lintas udara. Ia menyadari adanya kabut tebal dan menyebut kemungkinan untuk mengalihkan pendaratan ke bandara lain. Namun akhirnya memutuskan tetap mendarat di Montgomery-Gibbs Executive Airport, meskipun sistem peringatan cuaca bandara dilaporkan padam.

“Doesn’t sound great, but we’ll give it a go,” ujar Shapiro dalam percakapan terakhirnya.

Pesawat jatuh sekitar 3,2 kilometer sebelum mencapai landasan, menghantam perumahan militer Angkatan Laut AS. Tidak ada korban jiwa di darat, namun delapan warga mengalami luka ringan akibat menghirup asap. Satu rumah hancur total dan sedikitnya 10 rumah lainnya mengalami kerusakan.

Kengerian Saat Subuh: Api, Ledakan, dan Penyelamatan Diri

Ben McCarty, seorang perwira Angkatan Laut yang tinggal di rumah yang dihantam langsung oleh puing pesawat, menggambarkan detik-detik menegangkan itu. “Semua yang terlihat hanya api. Kami bisa melihat langit malam dari ruang tamu,” katanya kepada KGTV, stasiun televisi lokal.

Ia bersama istri, dua anak, dan anjing mereka terpaksa melarikan diri melalui pagar belakang dengan bantuan tetangga. Truk yang terparkir di depan rumahnya terdorong hingga masuk ke ruang tamu dan terbakar.

“Sebelumnya kami suka duduk di beranda rumah dan melihat pesawat lewat di atas. Ironisnya, pesawat yang jatuh itu menghantam persis tempat kami biasa duduk,” ujarnya lirih. Kini, McCarty mengaku tak lagi ingin tinggal di bawah jalur penerbangan.

Investigasi Berlanjut, Peringatan Bagi Dunia Penerbangan

Penyelidik NTSB, Dan Baker, mengatakan dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan investigasi penuh. Namun pihaknya mengonfirmasi bahwa sistem peringatan cuaca di bandara mati akibat lonjakan listrik, dan lampu runway padam sejak sebelumnya.

Menurut mantan penyelidik NTSB dan FAA Jeff Guzzetti, pilot seharusnya memeriksa Notices to Airmen (NOTAM) yang memperingatkan soal lampu runway yang padam. “Itu prosedur standar. Jika lampu padam dan visibilitas buruk, seharusnya pilot menaikkan pesawat dan mengalihkan pendaratan,” katanya.

Kecelakaan ini menambah daftar panjang insiden penerbangan di AS sepanjang tahun ini, termasuk jatuhnya pesawat di Simi Valley beberapa minggu lalu, serta tragedi di San Diego tahun 2021 yang menewaskan seorang pilot dan pengantar barang UPS.

Hingga kini, sekitar 100 warga masih mengungsi dan belum dapat kembali ke rumah mereka. Pihak berwenang belum memastikan kapan kawasan tersebut dinyatakan aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional