Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Data Kotak Hitam Berhasil Diakses, Penyebab Kecelakaan Air India Segera Terungkap!

badge-check

(foto: Getty images) Perbesar

(foto: Getty images)

New Delhi – Otoritas penerbangan India mengonfirmasi bahwa mereka telah berhasil mengakses data dari kotak hitam pesawat Air India yang jatuh pada 12 Juni lalu. Ini menjadi langkah penting dalam proses investigasi salah satu kecelakaan udara paling tragis di India dalam beberapa tahun terakhir.

Pesawat Boeing 787-8 Dreamliner dengan nomor penerbangan AI171 yang terbang dari Ahmedabad menuju London, jatuh tak lama setelah lepas landas. Sedikitnya 270 orang tewas dalam insiden tersebut. Dari total 242 penumpang yang berada di dalam kabin, hanya satu orang yang berhasil selamat.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Penerbangan Sipil India menyebut tim dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) bersama dengan Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) telah berhasil mengakses data dari kedua perekam penerbangan—Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR)—pada Rabu (25/6/2025).

Kedua perangkat itu sebelumnya ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat, masing-masing pada tanggal 13 dan 16 Juni. Salah satunya berada di atap sebuah bangunan, dan yang lainnya di tumpukan puing. Boeing 787 memang dilengkapi dengan unit perekam terintegrasi yang mencatat data teknis penerbangan serta komunikasi di kokpit.

Analisis Data Kotak Hitam Air India

“Analisis data dari CVR dan FDR sedang berlangsung. Proses ini bertujuan merekonstruksi urutan peristiwa sebelum kecelakaan serta mengidentifikasi faktor penyebab guna meningkatkan keselamatan penerbangan ke depan,” bunyi pernyataan kementerian.

FDR merekam dengan presisi tinggi berbagai parameter seperti posisi tuas roda dan flap, pengaturan dorongan mesin, aliran bahan bakar, hingga aktivasi sistem darurat. Sementara itu, CVR merekam percakapan pilot, suara dalam kabin kokpit, dan transmisi radio yang dapat menjadi kunci untuk memahami kondisi terakhir pesawat.

Ketua NTSB, Jennifer Homendy, berharap hasil investigasi dapat segera dipublikasikan. “Untuk keselamatan penerbangan dan kepentingan publik, kami harap pemerintah India dapat menyampaikan temuannya secepat mungkin,” ujar Homendy.

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama antara tim investigasi AS dan India berlangsung sangat baik. “Tim kami bekerja keras dan mendapatkan dukungan penuh dari otoritas India,” tambahnya.

Kritik atas Keterlambatan Akses Data

Namun, langkah India yang baru mengakses data rekaman hampir dua pekan setelah kejadian menuai sorotan. Beberapa pengamat menyebut keterlambatan ini tidak lazim dan dapat memperlambat proses identifikasi penyebab kecelakaan.

Pilot Kapten Sumeet Sabharwal dan kopilot Clive Kundar yang menerbangkan pesawat itu lepas landas pukul 13.39 waktu setempat. Kurang dari satu menit kemudian, pesawat mengirimkan sinyal darurat sebelum kehilangan kontak dan menghantam permukiman padat di Ahmedabad.

Investigasi menyeluruh kini menjadi harapan utama bagi keluarga korban dan komunitas penerbangan internasional untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang masih menyisakan banyak pertanyaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Norwegia Balas Ejekan Trump dengan Promosi Toilet Unik dan Indah

1 Nov 2026 - 09:20 WIB

Norwegia Balas Ejekan Trump dengan Promosi Toilet Unik dan Indah

Politisi Muda AS Jadi Minoritas, Kongres Didominasi Lansia

1 Nov 2026 - 08:16 WIB

Politisi Muda AS Jadi Minoritas, Kongres Didominasi Lansia

AS Setujui Penjualan 500 Rudal Patriot untuk Ukraina

1 Nov 2026 - 07:40 WIB

AS Setujui Penjualan 500 Rudal Patriot untuk Ukraina

Dari Denda hingga Potong Tunjangan Orang Tua, Ini Cara Eropa Tagih Ganti Rugi Kerusuhan

31 Okt 2026 - 10:42 WIB

Dari Denda hingga Potong Tunjangan Orang Tua, Ini Cara Eropa Tagih Ganti Rugi Kerusuhan

Perlombaan AI Makin Mahal! Google, Amazon, dan Microsoft Hadapi Tekanan Investor

31 Okt 2026 - 09:50 WIB

Perlombaan AI Makin Mahal! Google, Amazon, dan Microsoft Hadapi Tekanan Investor
Trending di Internasional