San Diego – Dunia musik alternatif berduka. Dave Shapiro, tokoh penting dalam industri musik heavy metal dan hard rock, meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat di San Diego, Amerika Serikat, Kamis (22/5) pagi waktu setempat. Dave Shapiro meninggal di usia 42 tahun.
Shapiro adalah pemilik dan pilot pesawat yang jatuh tersebut, menurut data dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Kabar duka ini dikonfirmasi oleh agensi musik yang didirikannya, Sound Talent Group. Dua karyawan agensi tersebut turut menjadi korban dalam insiden tragis ini.
“Kami sangat terpukul atas kehilangan pendiri kami, rekan kerja, dan sahabat-sahabat kami,” demikian pernyataan resmi dari Sound Talent Group.
Sosok Sentral dalam Musik Alternatif
Shapiro mendirikan Sound Talent Group pada tahun 2018 bersama Tim Borror dan Matt Andersen. Agensi ini menaungi sejumlah band dari genre pop-punk, metalcore, hingga post-hardcore. Beberapa klien ternama termasuk Hanson, Pierce The Veil, Parkway Drive, Sum 41, hingga Vanessa Carlton.
Tak hanya menjadi agen musik, Shapiro juga terkenal sebagai pejuang bagi musisi independen. Ia turut mendirikan National Independent Talent Organization, dan pernah masuk dalam daftar “30 Under 30” versi Billboard tahun 2012, sebagai salah satu tokoh muda paling berpengaruh di industri hiburan.
“Menemukan sesuatu yang benar-benar kamu cintai akan membuatmu bekerja lebih baik, karena kamu benar-benar peduli. Ini bukan sekadar pekerjaan 9-ke-5,” ujar Shapiro dalam sebuah podcast pada 2021.
Dari Band Sekolah Hingga Tokoh Industri
Shapiro tumbuh di New York bagian utara, dalam komunitas straightedge hardcore—sebuah subkultur punk yang menolak alkohol dan narkoba. Di masa SMA, ia membentuk band Count the Stars, yang kemudian dikontrak oleh Victory Records sesaat setelah lulus. Pengalamannya tur bersama band inilah yang menjadi pintu masuknya ke industri musik profesional.
Thomas Gutches, manajer band Beartooth dan Archetypes Collide, mengenang Shapiro sebagai sosok yang murah hati dan rendah hati dalam industri yang penuh dengan persaingan dan ego besar.
Cinta pada Musik dan Langit
Kecintaannya pada dunia aviasi bermula saat pertama kali mencoba terbang pada usia 22 tahun. Sejak itu, ia menjadi pilot berlisensi dan bahkan membuka kantor Sound Talent Group di sebuah hanggar di San Diego. Ia juga mendirikan sekolah penerbangan Velocity Aviation dan label rekaman Velocity Records.
Dalam sebuah wawancara podcast tahun 2020, Shapiro menyebut terbang sebagai cara untuk menemukan ketenangan.
“Terbang membantu saya fokus dan melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia. Saat berada di udara, hanya itu yang penting,” ujarnya.
Bersama istrinya, Julia Pawlik Shapiro, ia memiliki rumah di Homer, Alaska, tempat mereka sering menghabiskan waktu di alam terbuka. Pasangan ini menikah pada 2016 dalam sebuah upacara di tengah salju di Taman Nasional Denali, Alaska.
Duka dan Penghormatan dari Dunia Musik
Duka mendalam datang dari berbagai musisi dan pelaku industri musik. Dayna Ghiraldi-Travers dari Big Picture Media mengatakan Shapiro selalu memberi kesempatan bagi band baru, tanpa memandang nama besar.
Pierce The Veil, band yang pertama kali dibantu oleh Shapiro, mengungkapkan bahwa ia bukan hanya manajer, tetapi juga keluarga. Mereka sempat tampil di Madison Square Garden pada Selasa lalu, momen yang disebut “lingkaran penuh” bagi Shapiro.
“Kami pernah tinggal di rumah Dave antara tur, bukan hanya karena kami tak punya uang, tapi karena kami senang bersamanya,” tulis band tersebut.
Shapiro tewas dalam perjalanan pulang ke San Diego setelah menyaksikan konser itu, bersama dua rekannya, Kendall Fortner dan Emma Huke.
Deryck Whibley, vokalis Sum 41, mengenang Shapiro sebagai tokoh kunci dalam kebangkitan karier bandnya.
“Opininya sangat berarti bagi saya. Dia selalu jadi tempat saya mencari nasihat,” katanya.
Dalam pertemuan terakhir mereka, Shapiro sempat berjanji akan kembali menjemput Whibley untuk “terbang ke tempat gila hanya untuk makan siang”.