Boulder, Colorado – Sebuah ledakan di Colorado, Amerika Serikat melukai enam orang, setelah seorang pria melemparkan benda peledak ke arah kerumunan peserta aksi solidaritas untuk sandera Israel di Gaza, Minggu (1/6/2025) waktu setempat. Insiden yang terjadi di kawasan Pearl Street Mall, Boulder, Colorado, Amerika Serikat itu kini tengah diselidiki sebagai aksi terorisme oleh Biro Investigasi Federal (FBI).
Menurut Kepala FBI Kantor Wilayah Denver, Mark Michalek, pelaku meneriakkan “Free Palestine” sebelum melemparkan alat peledak rakitan ke arah peserta aksi. Enam korban yang terluka berusia antara 67 hingga 88 tahun, satu di antaranya dalam kondisi kritis.
“Fakta awal menunjukkan bahwa ini adalah tindakan kekerasan yang disengaja dan ditargetkan. Kami menyelidikinya sebagai tindakan terorisme,” kata Michalek dalam konferensi pers.
Saat ini, polisi menangkap Mohamed Soliman (45) tak lama setelah kejadian, dan kini ia sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi memastikan tidak ada pelaku lain yang terlibat.
“Kami cukup yakin pelaku bertindak sendiri,” ujar Kepala Kepolisian Boulder, Stephen Redfearn.
Kelompok Run for Their Lives secara rutin mengadakan aksi solidaritas dalam bentuk acara jalan santai setiap minggu. Aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap para sandera Israel pasca serangan Hamas pada 2023 lalu. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyebut bahwa aksi mereka selama ini selalu berjalan damai.
Tensi Politik Meninggi
Insiden ini menambah ketegangan politik di AS terkait konflik di Gaza. Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekerasan bermotif antisemitisme di AS, seiring maraknya unjuk rasa pro-Palestina yang disebut sebagai bentuk kebencian terhadap komunitas Yahudi.
Direktur FBI Kash Patel dan Jaksa Agung Colorado Phil Weiser sama-sama menyebut insiden di Boulder sebagai “serangan kebencian yang menarget komunitas Yahudi.”
Sementara itu, Senator Demokrat Chuck Schumer menyebut serangan itu sebagai tindakan antisemitisme. “Ini mengerikan dan tidak boleh terus terjadi. Kita harus berdiri melawan antisemitisme,” tulisnya di media sosial X (dulu Twitter).
Kondisi Korban
Sejumlah saksi mata melaporkan suasana panik saat kejadian. Brooke Coffman (19), mahasiswa Universitas Colorado, mengatakan ia melihat empat perempuan tergeletak dengan luka bakar di tubuh mereka. Seseorang di lokasi menutupi korban yang mengalami luka bakar parah dengan bendera..
“Saya melihat seorang pria berdiri tanpa baju, memegang botol berisi cairan bening, berteriak-teriak. Semua orang berteriak, ‘ambil air, ambil air!’” ujar Coffman.
Isu Imigrasi dan Polarisasi Politik
Serangan ini juga memicu reaksi dari kubu konservatif yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan kebijakan imigrasi. Stephen Miller, mantan pejabat di era Presiden Donald Trump, menyebut Soliman sebagai imigran yang telah melewati batas waktu visa dan tetap mendapat izin bekerja oleh pemerintahan sebelumnya. Ia menyerukan agar kebijakan imigrasi liberal “dibatalkan sepenuhnya”.
Di tempat lain, Gubernur Colorado Jared Polis juga turut menyuarakan keprihatinannya. “Sungguh tak terbayangkan bahwa komunitas Yahudi kembali mengalami serangan teror di Boulder,” tulisnya.
Sebelumnya, sebuah insiden serupa terjadi di Washington, D.C. pada Mei lalu. Seorang pria menembak mati dua staf Kedutaan Besar Israel setelah Komite Yahudi Amerika mengadakan sebuah acara di tempat itu.