Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Senator AS Desak Trump Batalkan Rencana Impor Solar Rusia

badge-check

Senator AS Desak Trump Batalkan Rencana Impor Solar Rusia Perbesar

WASHINGTON, 12 Oktober 2026 – Enam senator Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik dan Demokrat mendesak Presiden Donald Trump membatalkan rencana impor solar dari Rusia. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi memberikan tambahan pemasukan bagi Moskow saat perang Rusia melawan Ukraina masih berlangsung.

Keenam senator menyampaikan desakan itu dalam pernyataan bersama pada Minggu (11/10). Para senator meminta pemerintahan Trump segera mengubah arah kebijakan dan menegaskan bahwa rencana tersebut dibuat tanpa konsultasi dengan Kongres maupun penjelasan yang diwajibkan undang-undang.

“Amerika Serikat seharusnya tidak memberikan bantuan finansial kepada Putin ketika Rusia masih membunuh warga sipil Ukraina. Pemerintah harus segera membatalkan kebijakan ini,” demikian pernyataan keenam senator tersebut.

Empat senator Partai Republik yang menandatangani pernyataan itu adalah Susan Collins dari Maine, Lisa Murkowski dari Alaska, Thom Tillis dari North Carolina, dan John Curtis dari Utah. Dua senator Partai Demokrat lainnya adalah Jeanne Shaheen dari New Hampshire dan Richard Blumenthal dari Connecticut.

Trump Umumkan Kesepakatan Pasokan Solar dari Rusia

Kontroversi ini bermula ketika Trump mengumumkan melalui media sosial pada Jumat bahwa dirinya telah mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sambungan telepon.

Trump menyatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar ke pasar Amerika Serikat dan global. Pasokan tambahan sebanyak 500.000 ton dijadwalkan pada November, disusul 1 juta ton setelahnya.

Rusia juga disebut akan mengirimkan tambahan 3 juta ton solar dalam waktu relatif singkat.

Trump mengambil langkah tersebut di tengah tingginya harga bahan bakar di Amerika Serikat. Namun, rencana itu menuai kritik karena bertentangan dengan kebijakan pembatasan impor energi Rusia yang sebelumnya ditetapkan Kongres.

Pada 2022, Kongres secara tegas melarang impor energi Rusia sebagai upaya mencegah Amerika Serikat ikut membiayai perang Moskow melawan Ukraina.

Para senator juga menyoroti undang-undang yang baru disahkan Kongres beberapa pekan sebelumnya. Melalui aturan tersebut, Trump diarahkan untuk menerapkan tarif besar kepada negara-negara pengimpor utama minyak atau gas alam Rusia. Meski demikian, aturan ini memberikan pengecualian tertentu bagi negara yang terbukti mulai mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia.

Menurut para senator, pembelian solar yang direncanakan Trump bertentangan dengan tujuan kebijakan tersebut.

“Kongres sudah jelas: Amerika Serikat tidak seharusnya mengimpor minyak dari Rusia sampai negara itu menghentikan agresinya terhadap Ukraina dan ancamannya terhadap sekutu NATO,” tulis mereka.

Senator Republik Pertanyakan Legalitas Kebijakan

Senator Republik Thom Tillis menilai terdapat alasan kuat untuk mempertanyakan apakah pemerintahan Trump akan melanggar hukum apabila tetap menjalankan rencana pembelian solar tersebut.

Dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC, Tillis menegaskan bahwa Rusia merupakan pihak yang memulai agresi dan dapat mengakhiri perang dengan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki di Ukraina.

Sementara itu, Senator Republik John Barrasso mengatakan Trump sedang berupaya menekan biaya energi di Amerika Serikat dan harus mengambil keputusan yang sulit.

Dalam wawancara dengan Face the Nation di CBS, Barrasso juga mendorong Trump tetap menerapkan sanksi yang disahkan Kongres bulan sebelumnya. Menurut Barrasso, kebijakan tersebut masih dapat digunakan sebagai alat tekanan terhadap Putin untuk mendorong penyelesaian jangka panjang atas konflik di kawasan tersebut.

Pakar: Impor Solar Belum Tentu Turunkan Harga BBM

Sejumlah pakar energi meragukan rencana pembelian solar dari Rusia akan memberikan dampak signifikan terhadap harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Richard Nephew, peneliti senior di Center on Global Energy Policy, Columbia University, memberikan tanggapannya terkait hal ini. Menurutnya, total volume pasokan yang diumumkan Trump tampaknya masih lebih kecil daripada kebutuhan solar Amerika Serikat dalam satu hari.

Karena itu, manfaat kesepakatan tersebut bagi konsumen AS dinilai belum jelas. Sebaliknya, Rusia berpotensi memperoleh keuntungan dari terbukanya kembali akses pasar yang selama ini dibatasi sanksi.

Nephew juga menilai Iran dapat melihat kesepakatan tersebut sebagai tanda bahwa tekanan terhadap Amerika Serikat masih berlangsung. “Rusia diuntungkan karena kesepakatan ini menciptakan celah besar dalam rezim sanksi,” ujarnya.

Trump belakangan berupaya mengaitkan tingginya harga solar di Amerika Serikat dengan Ukraina, bukan dengan perang yang dipimpin AS melawan Iran. Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga energi dunia.

Perdebatan mengenai rencana impor solar ini menyoroti sebuah pertentangan besar. Pemerintahan Trump saat ini tengah berupaya keras untuk menekan biaya energi domestik. Namun sebaliknya, Kongres tetap teguh pada kebijakannya untuk membatasi pendapatan Rusia dari sektor energi selama perang di Ukraina masih berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bandara Riyadh Kembali Diserang, Korban Tewas Bertambah Jadi 13 Orang

12 Okt 2026 - 07:50 WIB

Bandara Riyadh Kembali Diserang, Korban Tewas Bertambah Jadi 13 Orang

Trump Desak Ukraina Ganti Presiden Usai Zelensky Protes Kesepakatan AS-Rusia

11 Okt 2026 - 10:02 WIB

Trump Desak Ukraina Ganti Presiden Usai Zelensky Protes Kesepakatan AS-Rusia

Serangan di Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, 309 Luka-luka

11 Okt 2026 - 09:10 WIB

Serangan di Bandara Riyadh Tewaskan 12 Orang, 309 Luka-luka

Mantan Hakim ICC Raih Nobel Perdamaian, Trump Jatuhkan Sanksi terhadap ICC

10 Okt 2026 - 10:07 WIB

Mantan Hakim ICC Raih Nobel Perdamaian, Trump Jatuhkan Sanksi terhadap ICC

Demo Pelajar Meluas di Perancis, Apa Penyebabnya?

10 Okt 2026 - 08:53 WIB

Demo Pelajar Meluas di Perancis, Apa Penyebabnya?
Trending di Internasional