RIYADH, 16 Oktober 2026 – Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok pemberontak Houthi menyatakan telah menggagalkan serangan rudal ke Kota Madinah, Arab Saudi, pada Kamis (15/10). Koalisi juga melaporkan keberhasilan menghancurkan sebuah drone di wilayah timur kerajaan tersebut.
Dalam pernyataannya, koalisi menyebut sebuah rudal jelajah berhasil dicegat dan dihancurkan di wilayah Provinsi Madinah. Namun, koalisi tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, membantah kelompoknya melancarkan serangan itu. Sebelumnya, Houthi telah menyatakan tidak akan menyerang bandara di dua kota suci umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah.
Situasi keamanan juga berdampak pada penerbangan di Arab Saudi. Bandara internasional di Riyadh dilaporkan menghentikan operasional akibat serangan Houthi. Sementara itu, puluhan penerbangan di Bandara Jeddah batal atau mengalami penundaan, menurut platform pelacakan penerbangan Flightradar24.
Pada Kamis pagi, Arab Saudi juga mengumumkan telah menghancurkan sebuah drone di Provinsi Timur, wilayah yang menjadi pusat produksi minyak utama negara tersebut.
Konflik terbaru antara Arab Saudi dan Houthi kembali memanas sejak bulan lalu, setelah kelompok pemberontak itu merebut sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Jalur perairan di ujung selatan Laut Merah tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk dan berbagai barang lainnya. Koalisi pimpinan Arab Saudi mendukung pasukan yang berpihak pada pemerintah Yaman dalam upaya merebut kembali wilayah tersebut.
Pengerahan Pasukan Turki Butuh Persetujuan Parlemen
Di tengah meningkatnya ketegangan, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa pakta pertahanan bersama antara Turki, Pakistan, dan Arab Saudi memerlukan persetujuan parlemen. Persetujuan yang sama juga diperlukan apabila Turki hendak mengerahkan pasukan berdasarkan perjanjian tersebut.
Dalam pernyataannya pada Kamis, Kemenhan Turki mengisyaratkan belum ada keputusan final mengenai bentuk bantuan yang akan diberikan kepada Arab Saudi.
Ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada Agustus 2026. Pejabat Turki menyebut perjanjian tersebut diperkirakan akan diratifikasi parlemen dalam beberapa hari mendatang.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan sejumlah pejabat lainnya sebelumnya menegaskan bahwa pengerahan pasukan tempur tidak menjadi pilihan. Mereka menyatakan perjanjian itu bersifat defensif.
Nasib KTT Uni Eropa dan Negara Teluk
Di tengah memburuknya situasi keamanan regional, Uni Eropa (UE) dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengumumkan penundaan pertemuan puncak yang semula akan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Riyadh, Arab Saudi.
Hingga saat ini, belum ada tanggal pengganti yang ditetapkan untuk pertemuan tersebut. Agenda ini awalnya direncanakan untuk mempertemukan para pemimpin dari 27 negara anggota UE dan enam negara GCC. Keenam negara Teluk yang dimaksud meliputi Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sekretaris Jenderal GCC Jasem Albudaiwi mengatakan penundaan dilakukan menyusul serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan untuk menjamin keselamatan delegasi yang akan menghadiri pertemuan tersebut.
KTT UE-GCC semula dijadwalkan untuk membahas sejumlah isu strategis, mulai dari keamanan maritim di Laut Merah hingga investasi infrastruktur energi. Pertemuan tersebut juga diagendakan mencari solusi guna menstabilkan harga energi di tengah perang Iran dan memanasnya kembali pertempuran di Yaman.

















1 Komentar